Showing posts with label ASUHAN KEPERAWATAN. Show all posts
Showing posts with label ASUHAN KEPERAWATAN. Show all posts
Thursday, 23 May 2013
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. SB DENGAN MALARIA DI RUANG RAWAT PENYAKIT DALAM RSUP
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malaria adalah penyakit yang dapat
bersifat akut maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus plasmodium ditandai
dengan demam, anemia, dan splenomegali (Mansjoer, 2001)
Malaria disebabkan oleh parasit
sporozoa plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopeles betina
infektif. Sebahagian besar nyamuk Anopeles akan menggigit pada wektu senja atau
malam hari, pada beberapa jenis nyamuk puncak gigitannya adalah tengah malam
sampai fajar (Widoyono, 2005)
Tanda dan gejala yang dapat ditemukan
pada pasien dengan malaria adalah demam, khas malaria terdiri atas tiga
stadium, yaitu menggigil ( 15 menit sampai 1 jam), puncak demam (2-6 jam), dan berkeringat
(2-4 jam), Spenomegali, merupakan gejala khas malaria kronik, Anemia, derajat
anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena
p. Falciparum, Ikterus, disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar
(Mansjoer, 2001).
Apabila mengalami malaria yang berat
akibat terinfeksi plasmodium Falciparum akan mengalami gangguan di berbagai
system organ tubuh yaitu dapat terjadi anemia berat, gagal ginjal akut, udema
paru, hipoglikemia, shok, pendarahan spontan dari hidung, gusi dan saluran
cerna, kejang berulang, asidemia, asidosis, hemoglobin nuria, maktroskopik apabila
terjadi pada ibu hamil dapat menyebabkan anemia pada ibu dan janin serta bayi
BBLR, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan bayi (Prabowo, 2004).
Malaria ditemukan hampir diseluruh
bagian dunia, terutama dinegara-negara yang beriklim tropis dan sub tropis.
Penduduk yang beresiko terkena malaria berjumlah sekitas 2,3 milyar atau 41 %
dari jumlah penduduk dunia. Setiap tahun, kasusnya berjumlah sekitas 300 sampai
500 juta kasus dan mengakibatkan 1.5 sampai 2,7 juta kematian, terutama dinegara-negara
benua Afrika (Probowo, 2004).
DiIndonesia, penyakit ini ditemukan
tersebar diseluruh kepulauan. Biasanya, malaria menyerang penduduk yang tinggal
didaerah endemis atau orang-orang yang bepergian kedaerah yang angka
penularannya tinggi. Dengan jumlah penderita sebanyak 2.341.401 orang, slide
positif rete (SPR): 9215, annual pacitik nidek (API): 0,08 % CPR di rumah sakit
sebesar 10-50% tahun 2004 (Widoyono, 2005).
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.F DENGAN HEPATITIS VIRUS AKUT DI RUANG ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
serius 78 % dari pada pengidap masalah ini bermukim di asia timur dan asia tenggara. Para
pengidap hepatitis di Asia Tenggara yang mendapat infeksi sewaktu bayi dan
anak-anak cenderung berkembang menjadi pengidap hepatitis kronis dan
selanjutnya mempunyai resiko menjadi sirosis hati dan kangker hati ( Sri
Reziki,2009)
Penyakit hepatitis virus akut ini dahulunya dinamakan
hepatitis infeksiosa, sampai sekarang hepatitis virus akut masih bersifat
edemas di Negara-negara berkembang sehubungan dengan lingkungan dan senantiasa
yang masih buruk, daerah beriklim buruk, pada daerah beriklim tropis seperti
Indonesia, penyakit sering timbul selama musim hujan dan terutama menyerang
anak-anak dan dewasa muda. (Dalimartha,2005).
Di indonesia diperkirakan sekitar 2-4 % dari total
jumlah penduduk menderita hepatitis virus alat akut atau 4 sampai 8 juta orang
angka kasus hepatitits 5 sampai 10% dari jumlah penduduk. Ketua kelompok
departemen kesehatan Ali Sulaiman menjelaskan hepatitis virus akut bersifat
tidak menjadi kronis dan bisa sembuh sempurna, hanya sekitar 0,5% dari
penderita yang mengalami serangan akut hingga berakibat vatal atau membahayakan
keselamatan jiwanya. Hal ini berbeda dengan hepatitis B dan C yang termasuk
penyakit hati kronik atau menahun, bila tidak diobati dengan baik penderita
bisa mengalami sirosis hati dalam waktu 15 sampai 30 tahun sejak terinfeksi
virus hepatitis bahkan kangker hati. ( Sri Reziki,2009)
Hepatitis adalah suatu peradangan jaringan hati yang
disebabkan oleh virus hepatitis, secara popular di kenal juga dengan istilah
penyakit hati yang disebabkan oleh berbagai macam penyebab seperti
virus(penyebab terbanyak), bakteri salmonella thypi, parasit, obat-obatan,
bahan kimia alami atau sintesis yang merusak hati(hepatotoksik), alcohol,
cacing, gizi yang buruk dan autoimun, ( Dalimartha, 2005)
Adapun jenis hepatitis atau radang hati dapat dibagi
dalam beberapa macam jenis, yaitu : hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C,
hepatitis D,hepatitis E, hepatitis G. Jenis hepatitis yang banyak dijumpai
adalah jenis hepatitis A,B, dan C.Hepatitis dapat di klasifikasi menjadi
hepatitis virus akut dan hepatitis virus kronik. Hepatitis yang perjalanannya
akut biasanya hepatitis A, hepatitis yang kronis hepatitis B dan hepatitis C. (
Yatim, 2005 )
Tanda dan gejala yang timbul pada hepatitis virus akut
antara lain, nyeri perut dan bagian
atas, sakit kepala, lelah, tidak ada nafsu makan (anoreksia), mual, muntah, demam
ringan, malaise (perasaan tidak enak badan), urin berwarna teh, fses berwarna
tanah dan kulit menjadi ikterik (kuning). ( Sandra, 2002)
Hepatitis virus akut atau radang hati menimbulkan
beberapa masalah keperawatan yaitu : Resiko kekurangan volume cairan dan
elektronik, kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh), intoleransi
aktifitas, resiko infeksi(pada orang), nyeri berhubungan dengan inflamasi hati,
resiko perubahan integritas kulit, perubahan kenyamanan, keletihan dan resiko
terhadap cedera yang berhubungan dengan pengurangan sintesis protombin dan
penurunan absorpsi vitamin K. (Carpenito,2001).
Apabila masalah tersebut tidak di tangani serius dan
tidak diberikan asuhan keperawatan secara berkeseimbangan maka akan terjadi
komplikasi yaitu : sirosis hati, hepatitis fulminan dan karsinoma
hepatoseluler, anemia aplastik dan hepatitis kronis yang terjadi apabila
individu memperlihatkan gejala dan antigen virus yang menetap dari 6 (enam)
bulan. Gambaran klinis hepatitis aktif kronik atau fluminan mungkin mencakup
gambaran kegagalan hati dengan kematian dalam 1 minggu sampai beberapa tahun
kemudian. (Elizabeth,
2001)
Perawatan pada pasien hepatitis tidak ada obat khusus
yang dapat langsung menyembuhkan hepatitis A. Pengobatan yang diberikan hanya
bersifat suportif yaitu seperti, Tirah baring yaitu istirahat di tempat tidur
terutama pada fase awal penyakit. Diet atau pengaturan makanan, pada prinsipnya
makanan yang diberikan harus mudah dicerna dan mengurangi keluhan yang ada.
Untuk itu penderita diberi makanan yang tinggi protein dan karbohidrat tetapi
rendah serat. Selalu menjaga kebersihan terutama dengan jalan mencuci tangan
dengan sabun sebelum makan, alat makan dan minum harus dicuci secara terpisah,
dan menghindari kontak badan dengan nonpenderita. Adakalanya parasetamol
diberikan bila penderita demam dan sakit kepala, antasida diberikan bila mual
dan muntah, dan obat tradisional lainnya seperti HP pro. Pientze huang, dan
sebaginya yang mempercepat penyembuhan dan turunnya nilai transaminase (SGPT,
SGOT). (Dalimartha,2005).
Berdasarkan uraian diatas maka seorang peawat mempunyai
peran penting dalam memberi pelayanan kesehatan, perawat harus mengetahui bahwa
hepatitis virus akut merupakan penyakit menular yang sumber infeksi berasal
dari rute fekal oral biasanya melalui makanan dan minuman yang terinfeksi,
memberikan penyuluhan kesehatan pada pasien atau keluarga dalam memperbaiki
hygene makanan dan minuman, menjaga air minum agar tidak tercemar,
perbaikan sanitasi lingkungan dan dalam
lingkungan dan dalam pemberian imunisasi. ( Smeltzer, 2001)
Tuesday, 21 May 2013
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. M DENGAN FRAKTUR FEMUR DI RUANG BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fraktur adalah 1. pemecahan suatu bagian khususnya tulangp, 2. Pecah atau ruktur
pada tulang. ( Dorland,2012)
Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan umumnya di sebabkan oleh ruda paksa.
( Sneltzer,C, 2002)
Fraktur femur dapat
terjadi pada beberapa tempat, bila bagian kaput, colum, atau trokhanterik femur
yang terkena, terjadilah fraktur pinggul. Fraktur juga dapat terjadi pada
batang femur dan diaerah lutut (Fraktur Suprakondiler dan kondiler) ( Sneltzer,C, 2002)
Fraktur di bagi dalam beberapa jenis,
yaitu fraktur komplet, yaitu patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya mengalami pergeseran (bergeser
dari posisi normal), fraktur tidak komplet, patah hanya
terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang, fraktur tertutup (fraktur
simple) tidak menyebabkan robeknya kulit, fraktur terbuka (fraktur komplikata/
kompleks) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrane mukosa sampai
kepatahan tulang (Smeltzer, 2002).
Penyebab fraktur
adalah trauma yaitu Dibagi menjadi dua, yaitu: Trauma
langsung, yaitu benturan pada tulang. Biasanya penderita terjatuh dengan posisi
miring dimana daerah trokhanter mayor
langsung terbentur dengan benda keras (jalanan). Trauma tak langsung,
yaitu titik tumpuan benturan dan fraktur berjauhan, misalnya jatuh terpeleset
di kamar mandi pada orangtu.( Hidayat, 2008)
Tanda dan gejala fraktur adalah Nyeri
hebat di tempat fraktur. Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah. Rotasi luar dari kaki
lebih pendek. Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti
: fungsi berubah, bengkak, kripitasi, sepsis pada fraktur, deformitas (Hidayat, 2008)
Fraktur sering kali terjadi di negara
kita, khususnya di kota.
Ratusan orang meninggal dan luka-luka tiap tahun karena peristiwa ini. Fraktur
sering terjadi pada laki-laki remaja dan dewasa yang umumya sering menggunakan
kenderaan dan melakukan aktivitas berat yang tidak terkontrol. Negara indonesia,
kasus fraktur femur sangat tinngi. Trauma merupakan pembunuh nomor tiga di indonesia.
Menurut data Kepolisian Republik Indonesia tahun 2003, jumlah fraktur fibula di
jalan mencapai 13.399 kejadian 6.142 orang mengalami luka berat, dan 8.694
mengalami luka ringan. Dengan data itu,rata-ratasetiap hari, terjadi 40
fraktur femur
yang menyebabkan 30 orang meninggal dunia. (Amrizal, 2007)
Saturday, 18 May 2013
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN VULNUS PUNCTUM DI RUANG BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Luka adalah hilang atau rusaknya
jaringan tubuh keadaan ini dapat di sebabkan oleh trauma benda tajam atau
tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan
hewan. (Sjamsuhidajat, 2004).
Proses yang kemudian terjadi pada
jaringan yang rusak ini ialah penyembuhan luka yang dapat di bagi dalam tiga
fase yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan penyundahan yang merupakan perupaan
kembali (remodelling) jaringan. (Sjamsuhidajat, 2004).
Berdasarkan sifat dan kejadian, luka
di bagi menjadi dua, yaitu luka di sengaja dan luka tidak di sengaja. Luka di
sengaja misalnya luka terkena radiasi atau bedah, sedangkan luka tidak di
sengaja contohnya adalah luka tekena trauma. Luka yang tidak di sengaja
(trauma) juga dapat di bagi menjadi luka terbuka dan tertutup. Di sebut luka
tertutup jika tidak terjadirobekan, sedangkan luka terbuka jika terjadi robekan
dan kelihatan seperti luka abrasio (luka akibat gesekan), luka punctuture(luka
akibat tusuka), dan hautraction (luka akibat perawatan luka). (A. Aziz Alimul H.2002)
Mekanisme terjadinya luka tergantung
pada jenis luka. Insisi terjadi karena teriris oleh instrumaen yang tajam. Luka
memar terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan di karakteristik oleh
cedera pada jaringan lunak. Luka lecet terjadi akibat begeskan dengan benda
lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam. Luka tusuk yang tejadi akibat
adanya benda seperti peluru atau pisau yang masuk ke dalam kulit. Luka gores
terjadi akibat benda yang tajam seperti kaca atau kawat. Luka tembus yaitu luka
yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka (sumantri, 2007)
Kira-kira 10% dari pasien denagn luka
mendapatkan infeksi luka nosokomial,termasuk luka bedah dan luka trauma, luka
bakar, ulkus neuropatik, dan ulkus dekubitus. Bakteri yang menyebabkan infeksi
dapat di tlarkan ke pasien dari petugas perawatan kesehatan atau dari
pengunjung. Pasien dan staf harus di ajarkan tentang strategi
pengendalianinfeksi, seperti teknik mencuci tangan yang tepat, dan prosedur
mengganti balutan yang tepat untuk mengurangi insidens kontaminasi luka atau
infeksi silang.
Lebih dari 80% pasien masuk ke ruang
gawat darurat adalah di sebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, berupa tabrakan
sepeda motor, sepeda yang penyebrang jalan yang di tabrak sisanya merupakan
kecelakaan yang di sebabkan oleh jatuh dari ketinggian, tertimpa benda, olahraga
dan korban kekerasan.(Muharsanto, 2008)
Vulnus punctum merupakan bagian dari
trauma tajam yang mana luka tusuk masuk ke dalam jaringan tubuh dengan luka
sayatan yang sering sangt kecil pada kulit misalnya luka tusuk pisau.
Vulnus Punctum merupakan cedera
penetrasi. Penyebab nya berkisar dari paku sampai pisau atau peluru. Walaupun
perdarahan nyata sering kali sedikit, kerusakan jaringan internal dan
perdarahan dapat meluas dan mempunyai resiko tinggi terhadap infeksi sehubungan
dengan adanya benda asing pada tubuh.
Pada luka-luka terbuka dimana
terdapat kehilangan jaringan yang signifikasi, di katakan bahwa penyembuhan
terjadi secara intisif sekunder. ( Morison,2004)
Jika abdomen mengalami vulnus punctum,
usus yang menempati sebagian besar rongga abdomen akan sangat rentan untuk
mengalami trauma penetrasi. Secara umum organ-organ padat berespon terhadap
trauma dengan perdarahan. Sedangkan organ berongga bila pecah mengeluarkan
isinya dalam hal ini bila usus pecah akan mengeluarkan isinya ke dalam rongga
peritoneal sehingga akan mengakibatkan peradangan atau infeksi. .
Gambaran klinis dari vulnus punctum adalah
nyeri, hilangnya fungsi, defornitas pemendekan ekstremitas, krepitus,
pembengkakan lokal,perubahan warna (Smilder,2002)
Penatalaksanaan vulnus punctum
sejalan luka melalui fase-fase penyembuhan banyak elemen, seperti nutrisi yang
tidak adekuat, kersuhan, istirahat, dan posisi menentkan seberapa cepat proses
penyembuhan terjadi.faktor-faktor ini intervensi yang menunjukkan faktor ini
dapt membantu untuk meningkatkan penyembuhan luka.(Smilder,2002)
Di Amerika kejadian kecelakaan lalu
lintas setiap tahun di perkirakan mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah terseut
10% korban meinggal sebelum tiba di rumah sakit dan lbih tinggi dari 100.000
korban menderita berbagai tingkat kecelakaan lalu lintas tersebut (
Muharsanto,2008).
Sedangkan di indonesia dewasa ini menghadapi
permasalahan kecelakaan lalu lintas jalan yang cukup serius. Menurut data dari
mabes polri setiap tahun tercatat 9856 orang meninggal akibat kecelakaan lalu
lintas jalan tersebut. Tingginya korban tersebut di sadari telah mendorong
tingginya biaya pemakai jalan, secara ekonomis menyebabkan terjadinya
pemborosan sumber daya. Berbagai upaya penanganan juga telah di lakukan untuk
mengurangi jumlah dan kelas kecelakaan lalu lintas ( accident severity)
tersebut. Di jakarta sendiri dari 614 kasus kecelakaan lalu lintas yang di
atopsi sepanjang tahun 1982, 490 kasus sebab kematiannya merupakan hasil
kecelakaan lalu lintas yang fatal yang mana korban kecelakaan lalu lintas
mengalami luka-luka di bagian kepala, ekstremitas atas, ekstremitas bawah,
tubuh depan dan tubuh belakang ( Muharsanto,2008).
Berat ringan nya vulnus punctum
tergantung dari dua faktor yaitu : lokasi anatomi injury,kekuatan tusukan,perlu
di pertimbangkan panjangnya benda yang digunakan untuk menusuk dan arah
tisukan. (Sjamsuhidajat, 2004).
Adapun masalah keperawatan yang
muncul pada kasus vulnus punctum yaitu nyeri, gangguan pola nutrisi,resiko
tejadinya infeksi, gangguan rasa nyaman, maka dalam hal itu peran perawat
sangat penting untuk mengatasi masalah yang timbul pada pasien. Karena perawat
merupakan seperangkat tingkah laku yang di harapkan oleh orang lain terhadap
seseorang sesuai dengan kedudukan dalam suatu sistem peran perawat yang di
pengaruhi oleh keadaan sosial baik dalam maupun luar profesi keperawatan dan
sifat kontan.
Thursday, 16 May 2013
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. Sy DENGAN FRAKTUR FIBULA DI RUANG RAWAT INAP BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fraktur adalah patah tulang, biasanya
di sebabakan oleh trauma atau tenaga fisik. ( Joe and Harold,2005)
Fraktur adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan umumnya di sebabkan oleh ruda
paksa. ( Sneltzer,C, 2002)
Fraktur fibula adalah terputusnya
tulang fibula yang mempunyai subkutan paling panjang yang paling sering
mengalami cidera.( Joe andHarold, 2005)
Ada beberapa
istilah yang di pakai untuk menjelaskan fraktur :
Sudut patah (fraktur Transversal)
adalah fraktur yang garis patahnya tegek lurus terhadap sumbu panjang tulang.
Fraktur oblit adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap
tulang. Fraktur multipel adalah pada satu tulang, Fraktur segmemtal adalah dua
fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabb kan terpisahnya segmen sentral dari suplai
darahnya. Fraktur impaksi terjadi ketika dua tulang menumbuk (akibat tubrukan )
tulang ketiga yang berada di antaranya, seperti sau vertebra dengan dua
vertebra. Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah
menjadi lemah oleh karena tumor atau proses patologik lainnya. Fraktur
greenstik adalah memisahkan satu fragmen tulang pada tempat insersi tendom
ataupu ligamen.( joe and harold,2007)
Sebagian besar patah tulang merupakan
akibat cedera, seperti kecelakaan mobil, olah raga atau karena jatuh. Patah
tulang terjadi jika tenaga yang melawan tulang lebih besar dari pada kekuatan
tulang.( Herdinrusli,2007)
Tanda dan gejala fraktur adalah
nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,pemendekan ektremitas, krepitus,
pembengkakan lokal, dan perubahan warna.( Smeltzer. C,2002)
Fraktur serring kali terjadi di
negara kita, khususnya di kota.
Ratusan orang meninggal dan luka-luka tiap tahun karena peristiwa ini. Fraktur
sering terjadi pada laki-laki remaja dan dewasa yang umumya sering menggunakan
kenderaan dan melakukan aktivitas berat yang tidak terkontrol. Negara indonesia,
kasus fraktur fibula sangat tinngi. Trauma merupakan pembunuh nomor tiga di indonesia.
Menurut data Kepolisian Republik Indonesia tahun 2003, jumlah fraktur fibula di
jalan mencapai 13.399 kejadian 6.142 orang mengalami luka berat, dan 8.694
mengalami luka ringan. Dengan data itu,rata-ratasetiap hari,terjadi 40 fraktur
fibula yang menyebabkan 30 orang meninggal dunia.( Amrizal,2007)
Penanganan fraktur biasanya menyertai
trauma untuk itu sangat penting untuk melakukan pemerikasaan terhadap jalan
nafas,(air way), proses pernafasan (breathing), dan sirkulasi (crculation)
apakah terjadi shok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada maslah lagi,
baru di lakukan anemnesis dan pemeriksaan fisik secara terpencil, waktu
terjadinya kecelakaan penting dinyatakan untuk mengetahui beberapa lama sampai
di rumah sakit, meninggal golden periode 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi
infeksi semekin besar, lakukan anemnesis dan pemeriksaan fisik secara tepat,
singkat dan lengkap.( mansjoer A. 2000).
Melihat kompleknya permasalahan yang
timbul maka di perlukan peran perawat yang spesifik dalam melengkapi masalh
yang ada pada pasien dengan memberikan Asuhan Keperawatan secara komprehensif
yang mencakup aspek bio, psiko, sosio dan spiritual. Perawat juga tidak
terlepas dari seorang yang memberi asuhan keperawatan, pembela sebagai
melindungi klien, memberi bimbingan dan sebagai sumber informasi yang dapat
membantu, memecahkan masalah klien.( Kusnanto,2004).
Subscribe to:
Posts (Atom)










