This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Wednesday, 27 March 2013

Konstruksi Rumah



Menurut Notoadmojo (2010) syarat rumah sehat adalah:
2.1.1.      Bahan Bangunan
a.       Lantai
Ubin,  semen lantai kayu adalah baik, lantai tanah yang dipadatkan syarat yang terpenting disini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan, jantai basah dan berdebu adalah sarang penyakit. 
b.      Dinding
Dinding haruslah kokoh dapat menahan terpaan angin dan gangguan binatang dan mampu melindunggi penghuninya, bahan yang biasa digunakan adalah tembok, papan,
c.       Atap
Atap seng atau genteng sering digunakan di daerah perkotaan ataupun pedesaan namun atap daun rumbiapun baik syarat utama adalah tidak bocor.
d.      Lain-Lain
Kayu untuk tiang dan bambu untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan. menuru pengalaman bahan bahan ini tahan lama. tetapi harus diperhatikan lubang-lubang bamboo merupakan sarang tikus yang baik.
2.1.2.      Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan 02 yang diperlukn oleh penghuni rumah tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racunbagi penghuninya menjadi meningkat. Di samping itu ketidak cukupan ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara dalam ruangan naikkarena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini merupakan media yang baik untuk bakteri pathogen (bakteri penyebab penyakit)
Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaska udararuangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri pathogen karenanya perlu adamya aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang dibawa oleh udara akan terus mengalir. fungsi yang lain adalah untuk menjaga kelembaban didalam tetap berada dalam kelembaban (humunity) yang optimal.
Ada dua macam ventilasi
a.       Ventilasi alamiah, dimana aliran udara terjadi secara alamiah melalui jendela, pintu, lubang angin, lubang-lubang pada dinding dan sebagainya. disisi lain ventilasi alamiah ini tidak menguntungkan karena jalan masuk nyamuk dan serangga.
b.      Ventilasi buatan yaitu dengan mengunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara, misalnya kipas angin dan mesin mengisap udara, tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan.
2.1.3.      Pencahayaan
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak kurang cahaya yang masuk kedalam rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman juga media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit, sebaliknya terlalu banyak cahaya dapat menyebabkan silau dan akhirnya dapat merusak mata. Cahaya dapat dibedakan atas 2, yaitu
a.       Cahaya alamiah, yaitu matahari. Cahaya ini sangat penting, karena dapat membunuh bakteri pathogen di dalam rumah. Oleh karena itu rumah sehat harus memiliki jalan masuk sinar yang cukup. sebaiknya jalan masuk cahaya sekurang-kurangnya 15 – 20% dari luas lantai yang terdapat di dalam rumah.
b.      Cahaya buatan, yaitu mengunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya.
2.1.4.      Luas Bangunan Rumah
Luas lantai bangunan rumah harus cukup untuk penghuni didalamnya. artinya luas lantai bangunan harus sesuai dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan berdesakan (overcwowded). Hal ini tidak sehat sebab disamping kurangnya konsimsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi. akan mudah menular kepada keluarga yang lain. Luas bangunan yang optimum adalah 2,5 – 3 m2 untuk tiap anggota keluarga.

Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan



Lingkungan yang sehat akan memberikan dampak positif bagi kesehatan manusia, dan sebaliknya lingkungan yang tidak sehat akan memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Dampak negatif tersebut di antaranya ialah:
1.      Sebagai pendukung, yaitu menunjang berjangkitnya suatu penyakit, misalnya keluarga yang yang tinggal di sebuah rumah yang berhawa lembab dalam daerah yang endemis terhadap penyakit TBC, maka mereka mudah sekali terserang penyakit TBC.
2.      Sebagai penyebab secara langsung, misalnya orang yang bekerja di pabrik baja akan mudah diserang penyakit keruh lensa.
3.      Sebagai sarana penyebaran penyakit, misalnya air bagi penyakit kolera.
4.      Sebagai faktor yang mempengaruhi perjalanan suatu penyakit seperti udara panas akan memperberat penderitaan jantung.
Suatu indikasi bahwa mutu lingkungan masih rendah terlihat masih tingginya kasus-kasus penyakit yang berhubungan dengan air bersih dan penyehatan lingkungan dan rendahnya cakupan sarana dan kualitas kesehatan lingkungan. Berdasarkan SKRT tahun 1986 penyebab kematian utama di Indonesia antara lain diare, thypus perut sebesar 15,10 %, TBC paru 8,6 % dan radang saluran pernafasan 6,20%.
Penyakit-penyakit tersebut sangat erat hubungannya dengan kondisi air bersih, pembuangan kotoran, pembuangan air limbah rumah tangga, perumahan dan prilaku masyarakat dalam bidang kesehatan lingkungan . hal ini seperti di kemukakan oleh H.L. Blum bahwa status derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu lingkungan, prilaku, pelayanan, kesehatan dan keturunan.
Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap status / derajat kesehatan, kemudian berturut-turut faktor prilaku, pendidikan dan faktor pelayanan kesehatan dan yang paling kecil adalah faktor keturunan. Apabila dikaitkan antara kasus penyakit diare dan jumlah rumah tangga yang menggunakan sarana jamban dan air bersih, ternyata semakin tinggi masyarakat yang tidak mempunya sarana jamban dan air bersih, semakin tinggi pula kasus penyakit diare.
Menurut berbagi penelitian upaya penyehatan air bersih dan penyehatan lingkungan disertai penyuluhan lingkungan dapat menurunkan 35 % - 50 % kasus penyakit diare. Apalagi bila masyarakat telah membuang sampah dengan cara yang telah memenuhi syarat, antara lain pada tempat yang tertutup, maka masalah diare akan dapat tertanggulangi. Penyakit lain seperti DBD juga akan dapat diatasi apabila masyarakat secara terus menerus membersihkan selokan, menguras bak mandi, menimbun kaleng-kaleng bekas dan botol-botol bekas, tempurung kelapa, sehingga tidak menjadi tempat perindukan nyamuk. Demikian pula penyakit saluran pernafasan dan TBC dapat dicegah dengan terpenuhinya suatu rumah dari pencahayaan, ventilasi, tidak lembab, mempunyai kamar lebih dari satu, asap dapur tidak dapat masuk ke dalam kamar tidur/ruang tamu (Projokusumo, 1992).

Pengertian Kesehatan Lingkungan



Kesehatan lingkungan adalah sanitasi keadaan lingkungan yang bersih, sehat aman dan nyaman. Untuk menjaga kesehatan di lingkungan perumahan perlu pengelolaan lingkungan yang bersih dan sehat, sehingga dapat memberikan manfaat bagi penghuni dan keluarga guna meningkatkan derajat kesehatan yang lebih baik. Said (1997) menyebutkan bahwa untuk mencapai kehidupan yang bersih dan sehat perlu pengelolaan lingkungan yang baik, sehingga lingkungan rumah menjadi bersih, aman dan nyaman.
Pengelolaan lingkungan yang bersih seperti penanganan sampah, penyediaan saluran pembuangan air limbah limbah tangga, pembuatan jamban yang sehat serta penataan ruangan belajar dan kamar tidur yang memenuhi syarat sehat. Soerjani (1997) menyebutkan bahwa kebersihan pondok tempat tinggal merupakan gambaran bebas dari segala kotoran sebagai langkah untuk mencapai tingkat kesehatan.
Kesehatan lingkungan permukiman adalah suatu kondisi di mana semua faktor pada lingkungan fisik manusia di pemukiman berfungsi secara harmonis. Kesehatan lingkungan mempunyai pengaruh yang sangat besar baik terhadap manusia maupun terhadap  keseimbangan ekologi dan sumber daya alam. Oleh karena itu, kesehatan lingkungan pada dasarnya merupakan upaya untuk mengendalikan semua faktor yang ada pada lingkungan fisik manusia yang diperkirakan menimbulkan berbagai hal yang merugikan pertumbuhan dan perkembangan fisiknya, kesehatannya, kesejahteraannya ataupun kelangsungan hidupnya (Projokusumo, 1992).
2.1.    Kesehatan Lingkungan Perumahan.
Selain sebagian tempat berlindung dan berenaung, rumah juga merupakan sebagai lambang dari suatu status sosial, hal ini sesuai dengan pengertian rumah sehat yaitu suatu tempat berlindung/bernaung dan tempat untuk beristirahat yang dapat memberikan kesejahteraan dari badan, jiwa dan soasial serta hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Depkes. RI, 1992).
Yang menjadi hambatan dalam menjaga kebersihan adalah masalah rendahnya kesadaran pada diri seseorang. Untuk mencapai hal-hal tersebut perlu diadakan penyuluhan tentang pentingnya peranan kebersihan dalam menunjang hidup sehat. Azwar (1996) menyatakan bahwa sikap merupakan suatu pandangan terhadap keadaan yang terjadi, sikap dapat di rubah dan diperbaharui dengan adanya niat ingin maju dan berkembang. Begitu juga sikap terhadap prilaku seseorang untuk hidup bersih daun sehat. Seseorang yang mempunya sikap aktif selalu berusaha untuk hidup dengan lebih baik, akan tetapi seseorang yang sifatnya apatis akan menerima apa adanya dan sangat rendahnya motivasi untuk berkembang dan ingin maju. Sehubungan dengan perlakuan tersebut sikap seseorang, Natoatmadjo (1996) menyatakan tentang adat kebiasaan adalah sebagai berikut, setiap individu atau seseorang mempunyai perbedaan-perbedaan, perbedaan tipe dan frekuensi penyakit serta mempunyai perbedaan, pola pembangunan pelayanan kesehatan. Setiap individu mempunyai perbedaan struktural sosial, gaya hidup dan perbedaan pada pembangunan kesehatan. Individu percaya adanya kemajuan dalam pembangunan kesehatan.

Tinjauan Kontruksi Perumahan



1.1.       Latar Belakang.
Pola pembangunan berwawasan kesehatan telah dicanangkan pada 1 Maret 1999. yang dikenal dengan paradigma sehat 2010. Indonesia sehat 2010 adalah gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan sehat. dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan rata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perilaku sehat dalam pembangunan kesehatan 2010 adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat (Syahartini. T, 2000).
Untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat bukan merupakan tanggung jawab pemerintah saja, maka seperti yang diuraikan dalam Undang-Undang No. 23 tentang Kesehatan, untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat yaitu peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif) penyembuhan penyakit, (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif),, yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Paradikma baru dan reformasi di bidang kesehatan yang telah dikembangkan saat ini lebih diutamakan pada upaya promotif dan preventif, salah satu upaya previntif adalah meningkatkan kesehatan lingkungan. (Profil Kesehatan Indonesia, 2003).
Upaya penyehatan lingkungan dan perbaikan perumahan merupakan suatu pencegahan terhadap berbagai kondisi yang mungkin dapat menimbulkan penyakit. Dari laporan Dinas Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2002 menunjukkan bahwa jumlah rumah di perkotaan yang memenuhi syarat kesehatan diperkirakan sebanyak 70,84%, cakupan pengguna jamban sebesar 68.91% dan cakupan penggunaan SPAL sebanyak 54,76%. Sedangkan di pedesaan jumlah rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 44,19%, cakupan pengguna, jamban sebesar 41,12% dan cakupan pengguna SPAL sebanyak 42,51 % (Profil Kesehatan NAD, 2003).
Pada tahun 2005 telah dilakukan pemeriksaan rumah sehat di beberapa Kabupaten /Kota di Propinsi NAD menunjukkan kondisi 42,20% dinyatakan sehat dari 401.780 rumah yang dilakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan rumah di seluruh Kabupaten / Kota memiliki rumah sehat di bawah 50 % sedangkan target dari indikator Indonesia sehat 2010 adalah 80 %. Sedangkan keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Kabupaten / Kota yaitu ketersediaan air bersih mencapai 64,99% ketersediaan jamban keluarga 68,54% ketersediaan tempat sampah 52,12% dan tempat pengelolaan air limbah keluarga 38,36%. Dari data yang ada program sosialisasi terhadap masyarakat untuk membangun rumah sehat perlu terus dilakukan sehingga pencegahan terhadap vektor penyakit dapat diperkecil dan penyebab penyakit lainnya dari lingkungan sekitar rumah, Kepemilikan sanitasi dasar yang meliputi persediaan air bersih, jamban keluarga, tempat sampah dan pengelolaan air limbah rumah tangga dimana keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan di dalam peningkatan kesehatan lingkungan. (Profil Kesehatan NAD, 2006).