Tuesday, 30 July 2013
Media Pengajaran Geografi
22:55
No comments
pengajaran Geografi hakikatnya adalah
pengajaran tentang gejala-gejala Geografi yang tersebar dipermukaan bumi. Untuk
memberikan citra tentang penyebaran dan lokasi gejala-gejalatadi kepada anak
didik, tidak dapat hanya diceramahkan, ditanya jawabkan didiskusikan melainkan
harus ditunjukkan melainkan harus ditunjukkan dan diperagakan.
Mengingat daya jangkau dan pandangan
terbatas, penunjukkan serta peragaan itu dilakukan dilakukan dengan pengajaran
Geografi. Adapun media pengajaran Geografi tersebut antara lain:
1)
Peta, peta merupakan konsep dan
hakekat dasar pada geografi dan pengajaran geografi. Oleh karena itu,
mengajarkan dan mempelajari geografi tanpa peta, tidak akan membentuk citra dan
konsep yang baik pada diri anak didik yang dapat meningkatkan kognitif, afektif
dan psikomotorik mereka haruslah memanfaatkan peta. Prosesnya mulai pengenalan,
pembacaan, pemilihan dan pembuatan, melalui proses ini mereka dibimbing untuk
mengerti, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi penyebaran lokasi gejala
dan relasi keruangannya satu sama lain.
2)
Atlas, atlas adalah kumpulan
bermacam-macam peta yang membentuk symbol-simbol, tulisan dan bahasa dengan
penafsiran yang sama, pada atlas ini disajikan berbagai peta berdasarkan
kenegaraan, gejala alam, penyebaran, sumber daya, penyebaran aspek kebudayaan
dan lain sebagainya. Penggunaan dan pemanfaatan atlas pada pengajaran Geografi
oleh anak didik perlu mendapatkan bimbingan.
3)
Globe, globe merupakan bentuk
dan model yang sangat mini dari bola bumi. Globe ini selain fungsinya sama
dengan peta dan atlas lebih jauh lagi dapat membina dan mengembangkan citra
tentang konsep tentang waktu, iklim, musim dan gejala alam lainnya baik yang
berkenaan dengan atmosfer, hidrosfer maupun litosfer dengan demikian
penggunaandan pemanfaatan sebagai media pengajaran Geografi dapat lebih
meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor anak didik tentang
relasi keruangan gejala – gejala Geografi dipermukaan bumi
4)
Gambar dan Potret, yang
berkenaan dengan gejala – gejala geografi selain diandalkan dindalkan oleh
sekolah dan guru, dapat pula pengadaannya ditugaskan kepada anak-anak. Dengan
demikian adapun fungsi gambar dan potret dalam pengajaran Geografi yaitu
agar peningkatan citra dankonsep kepada anak didik dapat terpenuhi.
5)
Slide, film dan VTR
merupakan media pengajaran modern yang dapatmembantu membina citra dan konsep
Geografi lebih meningkat pada diri anak didik. Sampai saat ini terutama bagi
sekolah-sekolah daerah-daerah terpencil media ini masih merupakan barang mewah.
6)
Diagram dan grafik yang dapat
dideskripsikan data kualitatif gejala-gejala geografi, dapat membantu
meningkatkan citra dan konsep geografi yang bersifat metematis –kuantitatif
kepada anak didik.
7)
Media cetak yang berupa surat kabar, majalah dan terutama buku.
Media menjadi suber informsi yang memperkaya citra dan konsep geografi kepada
anak didik. Pemanfaatannya tentu saja menuntut prasyarat tentang kemampuan
berbahasa. Oleh karena itu, secar bertahap prasyarat ini dipenuhi melalui tugas
membaca dari guru Geografi.
Hal demikian guru geografi
menyelenggarakan PBM secara komprehensif integral dengan menerapkan berbagai
model dan menggunakan berbagai media yang serasi dengan pokok bahasan dan
mencapai tujuan intruksional
d.
Media Gambar
Medium (jamak, media) adalah sebuah
saluran komunikasi. Kata
media tersebut diabil dari bahasa latin yang berarti anatara. Istilah ini
mengacu pada sesuatu yang membawa informasi antara sebuah sumber penerima
(Heinich, 1996). Secara khusus media gambar adalah penyajian visual dua dimensi
yang memanfaatkan rancangan gambar sebagai sarana pertimbangan mengenai
kehidupan sehari-hari, misalnya yang menyangkut manusia, peristiwa.
media
gambar adalah media yang mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas dan
kuat melalui kombinasi pengungkapan kata-kata dan gambar.
Secara
khusus media gambar berfungsi untuk memberikan variasi dan fakta yang
kemungkinan akan dilupakan atau diabaikan. Media gambar merupakan media
sederhana, mudah dalam pembuatannya dan murah harganya. Media gambar atau media
grafis terdiri atas gambar, bagan, diagram, grafik, poster, karu da komik. yang
perlu diperhatikan dalam penggunaan media gambar dalam pembelajaran adalah :
gambar yang bagus, menarik jelas dan mudah dimengerti :
1) Apa yang digambar harus cukup penting dan
cocok hal yang dipelajari
2) Gambar harus benar dalam arti harus dapat menggambarkan situasi yang serupa
jika dilihat pada keadaan yang sebenarnya.
3) Gambar memiliki kesederhanaan dalam arti
tidak rumit sehingga sulit untuk dipahami
4) Gambar harus sesuai dengan kecerdasan
orang yang melihatnya
5) Ukuran gambar harus sesuai dengan
kebutuhan.
Jadi dalam
pengajaran dengan menggunakan media gambar harus memiliki prinsip
penggunaan media gambar :
1) Gambar harus relistis dan digunakan dengan hati-hati
karena gambar yang amat rici dengan realisme yang sulit diproses dan dipelajari
seringkali mengganggu perhatian
2) Gambar harus berfungsi untuk melukiskan
perbedaan konsep-konsep
3) Warna harus digunakan untuk mengarahkan
perhatian dan membedakan komponen-komponen. Media gambar sebagai salah satu
media pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :
a) Kelebihan
-
Sifatnya
konkret. Artinya lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan
media verbal semata
-
Gambar
dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak
semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa dalam kelas.
-
Media gambar
dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita
-
Media
gambar dapat menjelaskan suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat
usia berapa saja, sehingga dapat mencegah dan membetulkan kesalah pahaman.
-
Media
gambar murah harganya dan gampang didapat serta digunakan tanpa perlu peralatan
khusus.
b) Kelemahan
-
Gambar
hanya menekankan persepsi indra mata
-
Gambar
benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan mengajar belajar.
-
Ukurannya
sangat terbatas, tidak memadai untuk kelompok besar.
e.
Peranan Media Dalam Pengajaran
Geografi
Dalam pembelajaran geografi
menggunakan media pendidikan sering dilakukan dalam proses belajar mengajar.
Hal ini dikenal juga sebagai bentuk pembelajaran tradisional dan yang paling
umum adalah metode ceramah. Penggunaan metode ini dalam pembelajaran geografi akan
bersifat verbal karena guru menyampaikan informasi dalam bentuk lisan atau
biasa disertai penulisan di papan tulis \.
Monday, 29 July 2013
Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM )
11:40
No comments
Perangkat
Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas dari
Departemen Pendidikan Nasional, dijelaskan : Pengertian, Fungsi, dan Mekanisme
Penetapan KKM yang isinya sebagai berikut :
a. Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal (
KKM )
Salah
satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan
kriteria tertentu dalam menentukan
kelulusan peserta didik. Kriteria paling
rendah untuk menyatakan peserta didik
mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ).
KKM
harus ditetapkan sebelum awal tahun
ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampui batas
ketuntasan minimal, tidak mengubah
keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan
Kriteria tidak diubah secara serta merta
karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan
untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil
rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal
untuk mendapatkan sejumlah peserta didik
yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi
kurva. Acuan Kriteria
mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil
penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau
layanan pengayaan bagi yang sudah melampui Kriteria ketuntasan minimal.
Kriteria Ketuntasan Minimal
ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata
pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki
barakteristik yang hampir sama. Pertimbangan
pendidik atau forum MGMP secara
akademis menjadi pertimbangan utama
penetapan KKM.
Kriteria Ketuntasan
menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan
angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan
ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan mencapai minimal 75. Satuan Pendidikan dapat
memulai dari kriteria ketuntasan minimal
di bawah target nasional kemudian ditingkatkan
secara bertahap.
Kriteria ketuntasan minimal
menjadi acuan bersama pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik.
Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan perlu melakukan sosialisasi agar informasi
dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dan atau orang tuanya. Kriteria Ketuntasan Minimal
harus dicantumkan dalam Laporan Hasil
Belajar ( LHB ) sebagai acuan dalam menyikapi
hasil belajar peserta didik.
b. Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM )
1). Sebagai
acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi
dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasar dapat diketahui
ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan. Pendidik harus memberikan
respon yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dasar dalam bentuk pemberian
layanan remidial atau layanan pengayaan;
2). Sebagai
acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan
diri mengikuti penilaian mata
pelajaran. Setiap kompetensi dasar ( KD ) dan indikator ditetapkan KKM yang
harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkan dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti
penilaian agar mencapai nilai melebihi
KKM. Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu
perbaikan.
3). Dapat
digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan evaluasi program pembelajaran yang
dilaksanakan di sekolah. Evaluasi keterlaksanaan dan hasil program kurikulum
dapat dilihat dari keberhasilan
pencapaian KKM sebagai tolok ukur. Oleh karena itu hasil pencapaian KD
berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan informasi tentang peta KD-KD tiap mata
pelajaran yang mudah atau sulit, dan cara
perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan sarana-prasarana
belajar di sekolah;
4). Merupakan
kontrak pedagodik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan
pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM merupakan upaya yang harus dilakukan bersama
antara pendidik, peserta didik, pimpinan
satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan
proses pembelajaran dan penilaian.
Peserta didik melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif mengikuti kegiatan pembelajaran serta
mengerjakan tugas-tugas yang telah
didesain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan membrikan motivasi dan
dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan pimpinan
satuan pendidikan berupaya memaksimalkan
pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran
dan penilaian di sekolah;
5). Merupakan
target satuan pendidikan dalam
pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya
semaksimal mungkin untuk melampui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian
KKM merupakan salah satu tolok ukur
kinerja satuan pendidikan dalam menyelenggarakan program pendidikan. Satuan pendidikan dengan
KKM yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok
ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat.
c. Mekanisme
Penetapan KKM.
1). Prinsip Penetapan KKM
Penetapan Kriteria Ketuntasan
Minimal perlu mempertimbangkan beberapa ketentuan sebagai berikut :
(1). Penetapan KKM merupakan kegiatan
pengambilan keputusan yang dapat dilakukan melalui metode kualitatif dan atau
kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilakukan melalui Profesional
judgement, mempertimbangkan
kemampuan akademik dan pengalaman pendidik mengajar mata pelajaran di
sekolahnya. Sedangkan metode kuantitatif
dilakukan dengan rentang angka yang disepakati sesuai dengan
penetapan kriteria yang ditentukan;
(2). Penetapan nilai kriteria ketuntasan
minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap
indikator dengan memperhatikan
kompleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik untuk mencapai ketuntasan kompeteni dasar dan standar kompetensi;
(3). Kriteria ketuntasan minimal setiap
Kompetensi Dasar ( KD ) merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat dalam
Kompetensi Dasar tersebut. Peserta didik
dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang
bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada
KD tersebut;
(4). Kriteria ketuntasan minimal setiap
Standar Kompetensi ( SK ) merupakan rata-rata KKM Kompetensi Dasar ( KD ) yang
terdapat dalam SK tersebut;
(5). Kriteria Ketuntasan Minimal mata
pelajaran merupakan rata-rata dari semua KKM-SK yang terdapat dalam satu
semester atau satu tahun pembelajaran,
dan dicantumkan dalam Laporan Hasil
Belajar ( LHB /Rapor ) peserta didik;
(6). Indikator merupakan acuan / rujukan
bagi pendidik untuk membuat soal-soal
ulangan, baik Ulangan Harian ( UH ), Ulangan Tengah Semester ( ULS )
maupun Ulangan Akhir Semester ( UAS ). Soal ulangan ataupun tugas-tugas harus mampu mencerminkan/menampilkan
pencapaian indikator yang diujikan.
Dengan demikian pendidik tidak perlu melakukan pembobotan seluruh hasil ulangan, karena semuanya
memiliki hasil yang setara;
(7). Pada setiap indikator atau
kompetensi dasar dimungkinkan adanya
perbedaan nilai ketuntasan minimal.
2). Langkah-langkah Penetapan KKM
Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau
kelompok guru mata pelajaran. Langkah penetepan KKM adalah sebagai berikut :
(1).
Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata Pelajaran dengan mempertimbangkan
tiga aspek kriteria, yaitu komleksitas, daya dukung, dan intake peserta didik GEMPA, PERINGATAN DAN HUKUMAN
10:11
No comments
Dalam keremangan malam, diantara celah fajar yang mulai
menguak
Diantara kokok ayam dan suara burung
Diantara butiran halimun dan kesejukan,
Diantara selimut yang menghagatkan badan
Diantara mimpi dan kantuk yang membelai
Bumi bergoncang,
Tersentak dalam tidur yang pulas
Terjaga dari kehangatan selimut
Belum sempat bertanya
Dinding telah pecah
Rumah mulai roboh
Dalam keterkejutan dan suara anak-anak dan wanita yang
merawung
Suara minta tolong, suara jeritan kesakitan, dan ketakutan
yang terus menggema
Suara bangunan runtuh, berpadu seperti simponi huru hara dan
kematian
Gempa, telah memberikan suatu petunjuk akan kealpaan kita
Akan kelalaian kita
Akan pongah kita
Akan keangguhan kita
Gempa, hanya mengingatkan bukan menghukum
Ya. Allah berilah petunjuk untuk kami agar dapat tetap dalam
bimbingan MU
Ku coba
09:57
No comments
ku coba merangkai kata
ku coba membagi asa
ku coba memulai
melangkah dalan alam
melangkah dan terus melangkah sampai terasa lelah
manun tak ada yang harap yang ku dapat
ternyata melangkah dan melangkah bukanlah hal yang bijak
harus ada tujuan sebelum melangkah
tujuan ...............
apa yang menjadi impian
itulah tujuan
tuk sampai kesitu
diperlukan kesabaran, kepandaian, pengetahuan ...
tidak akan mencapai tujuan bagi yang tidak memilikinya
ku coba membagi asa
ku coba memulai
melangkah dalan alam
melangkah dan terus melangkah sampai terasa lelah
manun tak ada yang harap yang ku dapat
ternyata melangkah dan melangkah bukanlah hal yang bijak
harus ada tujuan sebelum melangkah
tujuan ...............
apa yang menjadi impian
itulah tujuan
tuk sampai kesitu
diperlukan kesabaran, kepandaian, pengetahuan ...
tidak akan mencapai tujuan bagi yang tidak memilikinya
Sunday, 28 July 2013
Langkah untuk mengurang kemarahan pada anak
13:13
No comments
Raising Children Network menetapkan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantrum. Berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantrum bagi anak usia tiga tahun pertama yang sudah di uji sebelumnya di keluarga-keluarga di Australia. Pendekatan ini menggunakan pendekatan behavoristik dengan menekankan pada reinforcemen (www.raisingchildrennetworks.com 2010):
1. Mengurangi stress anak dengan mengantisipasi sebelum anak stress. Sebagai contoh sebelum anak merasa terlalu lapar orang tua sudah lebih dulu mengantisipasi dengan memberi anak makan. Jika belum masuk jam makan utama maka orang tua dapat memberi anak kudapan. Rasa lapar yang sangat dapat memicu stress pada anak sehingga muncul perilaku tanrum.
2. Menyadari perasaan anak. Orang tua juga perlu memahami perasaaan anak. Orang tua tidak boleh terlalu banyak menuntut secara berlebihan pada anak.
3. Mengidentifikasi pemicu amukan dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mencatat perilaku tantrum anak selama 7-10 hari dan juga kejadian yang terjadi sebelum dan sesudah tantrum terjadi
b. Sesudah mencatat kemudian identifikasi situasi yang menyebabkan tantrum terjadi. Setelah mengidentifikasi orang tua dapat menyusun rencana cara menghindari situasi tersebut dapat terjadi. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi respon yang muncul berupa tantrum dari stimulus seperti kelelahan, lapar, stress dan lain sebagainya.
c. Selain mengidentifikasi situasi penyebab, orang tua juga mengidentifikasi pemicu terjadinya tantrum.
Berikut adalah table pemicu dan beberapa saran pencegah terjadinya tantrum.
d. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi konsekuensi dari perilaku tantrum.
e. Orang tua dapat menetapkan dan mendata reward sebagai penguat bagi anak untuk tetap tenang. Reward ini dapat berupa hadiah kecil yang disukai anak.
f. Orang tua membimbing anak untuk bisa mengatasi permasalah anak dengan cara lain selain tantrum untuk mengekspresikan emosi.
4. Orang tua tetap tenang menghadapi tantrum anak, jangan ikut tersulut emosi sehingga memarahi anak. Karena reaksi keras dari orang tua akan menambah tantrum anak semakin hebat.
5. Mengabaikan perilaku tantrum sampai berhenti
6. Tidak memenuhi kenginan anak jika anak meminta dengan cara tantrum
7. Konsisten dengan sikap orang tua untuk tidak memenuhi keinginan anak ketika tantrum
8. Memberi reward kepada anak ketika anak berbuat kebaikan dan dapat mengontrol tantrum
Subscribe to:
Posts (Atom)










