This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, 30 July 2013

Media Pengajaran Geografi



pengajaran Geografi hakikatnya adalah pengajaran tentang gejala-gejala Geografi yang tersebar dipermukaan bumi. Untuk memberikan citra tentang penyebaran dan lokasi gejala-gejalatadi kepada anak didik, tidak dapat hanya diceramahkan, ditanya jawabkan didiskusikan melainkan harus ditunjukkan melainkan harus ditunjukkan dan diperagakan.
Mengingat daya jangkau dan pandangan terbatas, penunjukkan serta peragaan itu dilakukan dilakukan dengan pengajaran Geografi. Adapun media pengajaran Geografi tersebut antara lain:
1)      Peta, peta merupakan konsep dan hakekat dasar pada geografi dan pengajaran geografi. Oleh karena itu, mengajarkan dan mempelajari geografi tanpa peta, tidak akan membentuk citra dan konsep yang baik pada diri anak didik yang dapat meningkatkan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka haruslah memanfaatkan peta. Prosesnya mulai pengenalan, pembacaan, pemilihan dan pembuatan, melalui proses ini mereka dibimbing untuk mengerti, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi penyebaran lokasi gejala dan relasi keruangannya satu sama lain.
2)      Atlas, atlas adalah kumpulan bermacam-macam peta yang membentuk symbol-simbol, tulisan dan bahasa dengan penafsiran yang sama, pada atlas ini disajikan berbagai peta berdasarkan kenegaraan, gejala alam, penyebaran, sumber daya, penyebaran aspek kebudayaan dan lain sebagainya. Penggunaan dan pemanfaatan atlas pada pengajaran Geografi oleh anak didik perlu mendapatkan bimbingan.
3)      Globe, globe merupakan bentuk dan model yang sangat mini dari bola bumi. Globe ini selain fungsinya sama dengan peta dan atlas lebih jauh lagi dapat membina dan mengembangkan citra tentang konsep tentang waktu, iklim, musim dan gejala alam lainnya baik yang berkenaan dengan atmosfer, hidrosfer maupun litosfer dengan demikian penggunaandan pemanfaatan sebagai media pengajaran Geografi dapat lebih meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor anak didik tentang relasi keruangan gejala – gejala Geografi dipermukaan bumi
4)      Gambar dan Potret, yang berkenaan dengan gejala – gejala geografi selain diandalkan dindalkan oleh sekolah dan guru, dapat pula pengadaannya ditugaskan kepada anak-anak. Dengan demikian adapun fungsi gambar dan potret dalam pengajaran Geografi yaitu agar peningkatan citra dankonsep kepada anak didik dapat terpenuhi.
5)      Slide, film dan VTR merupakan media pengajaran modern yang dapatmembantu membina citra dan konsep Geografi lebih meningkat pada diri anak didik. Sampai saat ini terutama bagi sekolah-sekolah daerah-daerah terpencil media ini masih merupakan barang mewah.
6)      Diagram dan grafik yang dapat dideskripsikan data kualitatif gejala-gejala geografi, dapat membantu meningkatkan citra dan konsep geografi yang bersifat metematis –kuantitatif kepada anak didik.
7)      Media cetak yang berupa surat kabar, majalah dan terutama buku. Media menjadi suber informsi yang memperkaya citra dan konsep geografi kepada anak didik. Pemanfaatannya tentu saja menuntut prasyarat tentang kemampuan berbahasa. Oleh karena itu, secar bertahap prasyarat ini dipenuhi melalui tugas membaca dari guru Geografi.
Hal demikian guru geografi menyelenggarakan PBM secara komprehensif integral dengan menerapkan berbagai model dan menggunakan berbagai media yang serasi dengan pokok bahasan dan mencapai tujuan intruksional
d.      Media Gambar
Medium (jamak, media) adalah sebuah saluran komunikasi. Kata media tersebut diabil dari bahasa latin yang berarti anatara. Istilah ini mengacu pada sesuatu yang membawa informasi antara sebuah sumber penerima (Heinich, 1996). Secara khusus media gambar adalah penyajian visual dua dimensi yang memanfaatkan rancangan gambar sebagai sarana pertimbangan mengenai kehidupan sehari-hari, misalnya yang menyangkut manusia, peristiwa.
media gambar adalah media yang mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas dan kuat melalui kombinasi pengungkapan kata-kata dan gambar.
Secara khusus media gambar berfungsi untuk memberikan variasi dan fakta yang kemungkinan akan dilupakan atau diabaikan. Media gambar merupakan media sederhana, mudah dalam pembuatannya dan murah harganya. Media gambar atau media grafis terdiri atas gambar, bagan, diagram, grafik, poster, karu da komik. yang perlu diperhatikan dalam penggunaan media gambar dalam pembelajaran adalah : gambar yang bagus, menarik jelas dan mudah dimengerti :
1)      Apa yang digambar harus cukup penting dan cocok hal yang dipelajari
2)      Gambar harus benar dalam arti  harus dapat menggambarkan situasi yang serupa jika dilihat pada keadaan yang sebenarnya.
3)      Gambar memiliki kesederhanaan dalam arti tidak rumit sehingga sulit untuk dipahami
4)      Gambar harus sesuai dengan kecerdasan orang yang melihatnya
5)      Ukuran gambar harus sesuai dengan kebutuhan.
Jadi dalam pengajaran dengan menggunakan media gambar harus  memiliki prinsip penggunaan media gambar :
1)       Gambar harus relistis dan digunakan dengan hati-hati karena gambar yang amat rici dengan realisme yang sulit diproses dan dipelajari seringkali mengganggu perhatian
2)       Gambar harus berfungsi untuk melukiskan perbedaan konsep-konsep
3)       Warna harus digunakan untuk mengarahkan perhatian dan membedakan komponen-komponen. Media gambar sebagai salah satu media pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :
a)      Kelebihan
-          Sifatnya konkret. Artinya lebih realistis menunjukkan pokok masalah dibandingkan dengan media verbal semata
-          Gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu. Tidak semua benda, objek atau peristiwa dapat dibawa dalam kelas.
-          Media gambar dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita
-          Media gambar dapat menjelaskan suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja, sehingga dapat mencegah dan membetulkan kesalah pahaman.
-          Media gambar murah harganya dan gampang didapat serta digunakan tanpa perlu peralatan khusus.

b)      Kelemahan
-          Gambar hanya menekankan persepsi indra mata
-          Gambar benda yang terlalu kompleks kurang efektif untuk kegiatan mengajar belajar.
-          Ukurannya sangat terbatas, tidak memadai untuk kelompok besar.
e.       Peranan Media Dalam Pengajaran Geografi
Dalam pembelajaran geografi menggunakan media pendidikan sering dilakukan dalam proses belajar mengajar. Hal ini dikenal juga sebagai bentuk pembelajaran tradisional dan yang paling umum adalah metode ceramah. Penggunaan metode ini dalam pembelajaran geografi akan bersifat verbal karena guru menyampaikan informasi dalam bentuk lisan atau biasa disertai penulisan di papan tulis \.

Monday, 29 July 2013

Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM )



Perangkat Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas dari Departemen Pendidikan Nasional, dijelaskan : Pengertian, Fungsi, dan Mekanisme Penetapan KKM yang isinya sebagai berikut :
a.       Pengertian Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM )
     Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah  menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam  menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria  paling rendah untuk menyatakan  peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ).
      KKM harus ditetapkan  sebelum awal tahun ajaran dimulai. Seberapapun besarnya jumlah peserta didik yang melampui batas ketuntasan minimal, tidak  mengubah keputusan pendidik dalam menyatakan lulus dan tidak lulus pembelajaran. Acuan Kriteria  tidak diubah secara serta merta karena hasil empirik penilaian. Pada acuan norma, kurva normal sering digunakan untuk menentukan ketuntasan belajar peserta didik jika diperoleh hasil rata-rata kurang memuaskan. Nilai akhir sering dikonversi dari kurva normal untuk  mendapatkan sejumlah peserta didik yang melebihi nilai 6,0 sesuai proporsi  kurva. Acuan Kriteria  mengharuskan pendidik untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap hasil penilaian, yaitu memberikan layanan remedial bagi yang belum tuntas dan atau layanan pengayaan bagi yang sudah melampui Kriteria ketuntasan minimal.
Kriteria Ketuntasan Minimal ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran di satuan pendidikan atau beberapa satuan pendidikan yang memiliki barakteristik yang hampir sama. Pertimbangan  pendidik atau  forum MGMP secara akademis menjadi pertimbangan utama  penetapan KKM.
Kriteria Ketuntasan menunjukkan persentase tingkat pencapaian kompetensi sehingga dinyatakan dengan angka maksimal 100 (seratus). Angka maksimal 100 merupakan kriteria ketuntasan ideal. Target ketuntasan secara nasional diharapkan  mencapai minimal 75. Satuan Pendidikan dapat memulai dari  kriteria ketuntasan minimal di bawah target nasional kemudian ditingkatkan  secara bertahap.
Kriteria ketuntasan minimal menjadi acuan bersama pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu pihak-pihak yang berkepentingan  terhadap penilaian di sekolah berhak untuk mengetahuinya. Satuan pendidikan  perlu melakukan sosialisasi agar informasi dapat diakses dengan mudah oleh peserta didik dan  atau orang tuanya. Kriteria Ketuntasan Minimal harus  dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar ( LHB ) sebagai acuan dalam menyikapi  hasil belajar peserta didik.

b.      Fungsi Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM )
1). Sebagai acuan bagi pendidik dalam menilai kompetensi peserta didik sesuai kompetensi dasar mata pelajaran yang diikuti. Setiap kompetensi dasar dapat diketahui ketercapaiannya berdasarkan KKM yang ditetapkan. Pendidik harus memberikan respon yang tepat terhadap pencapaian kompetensi dasar dalam bentuk pemberian layanan remidial atau layanan pengayaan;
2). Sebagai acuan bagi peserta didik dalam menyiapkan  diri mengikuti penilaian  mata pelajaran. Setiap kompetensi dasar ( KD ) dan indikator ditetapkan KKM yang harus dicapai dan dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik diharapkan  dapat mempersiapkan diri dalam mengikuti penilaian agar mencapai nilai  melebihi KKM. Apabila hal tersebut tidak bisa dicapai, peserta didik harus  mengetahui KD-KD yang belum tuntas dan perlu perbaikan.
3). Dapat digunakan sebagai bagian dari komponen dalam melakukan  evaluasi program pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Evaluasi keterlaksanaan dan hasil program kurikulum dapat dilihat dari keberhasilan  pencapaian KKM sebagai tolok ukur. Oleh karena itu hasil pencapaian KD berdasarkan KKM yang ditetapkan perlu dianalisis untuk mendapatkan  informasi tentang peta KD-KD tiap mata pelajaran yang mudah atau sulit, dan cara  perbaikan dalam proses pembelajaran maupun pemenuhan sarana-prasarana belajar di sekolah;

4). Merupakan kontrak pedagodik antara pendidik dengan peserta didik dan antara satuan pendidikan dengan masyarakat. Keberhasilan pencapaian KKM  merupakan upaya yang harus dilakukan bersama antara pendidik, peserta  didik, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua. Pendidik melakukan  upaya pencapaian KKM dengan memaksimalkan proses pembelajaran dan  penilaian. Peserta didik melakukan upaya pencapaian KKM dengan proaktif  mengikuti kegiatan pembelajaran serta mengerjakan tugas-tugas yang telah  didesain pendidik. Orang tua dapat membantu dengan membrikan motivasi dan dukungan penuh bagi putra-putrinya dalam mengikuti pembelajaran. Sedangkan pimpinan satuan pendidikan berupaya memaksimalkan  pemenuhan kebutuhan untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran dan penilaian di sekolah;
5). Merupakan target  satuan pendidikan dalam pencapaian kompetensi tiap mata pelajaran. Satuan pendidikan harus berupaya semaksimal mungkin untuk melampui KKM yang ditetapkan. Keberhasilan pencapaian KKM  merupakan salah satu tolok ukur kinerja  satuan pendidikan dalam  menyelenggarakan  program pendidikan. Satuan pendidikan dengan KKM yang tinggi dan dilaksanakan secara bertanggung jawab dapat menjadi tolok ukur kualitas mutu pendidikan bagi masyarakat.



c.       Mekanisme  Penetapan KKM.
1). Prinsip Penetapan KKM
Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal perlu mempertimbangkan beberapa ketentuan sebagai berikut :
      (1). Penetapan KKM merupakan kegiatan pengambilan  keputusan yang dapat  dilakukan melalui metode kualitatif dan atau kuantitatif. Metode kualitatif dapat dilakukan melalui Profesional judgement,  mempertimbangkan kemampuan akademik dan pengalaman pendidik mengajar mata pelajaran di sekolahnya. Sedangkan metode kuantitatif  dilakukan dengan rentang angka yang disepakati sesuai dengan penetapan  kriteria yang ditentukan;
     (2). Penetapan nilai kriteria ketuntasan minimal dilakukan melalui analisis ketuntasan belajar minimal pada setiap indikator dengan memperhatikan  kompleksitas, daya dukung, dan intake  peserta didik untuk mencapai  ketuntasan kompeteni dasar  dan standar kompetensi;
      (3). Kriteria ketuntasan minimal setiap Kompetensi Dasar ( KD ) merupakan rata-rata dari indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar tersebut. Peserta  didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan belajar untuk KD tertentu apabila yang bersangkutan telah mencapai ketuntasan belajar minimal yang  telah ditetapkan untuk seluruh indikator pada KD tersebut;
      (4). Kriteria ketuntasan minimal setiap Standar Kompetensi ( SK ) merupakan rata-rata KKM Kompetensi Dasar ( KD ) yang terdapat dalam SK tersebut;
      (5). Kriteria Ketuntasan Minimal mata pelajaran merupakan rata-rata dari semua KKM-SK yang terdapat dalam satu semester atau satu tahun  pembelajaran, dan dicantumkan  dalam Laporan Hasil Belajar ( LHB /Rapor ) peserta didik;
      (6). Indikator merupakan acuan / rujukan bagi pendidik untuk membuat soal-soal  ulangan, baik Ulangan Harian ( UH ), Ulangan Tengah Semester ( ULS ) maupun Ulangan Akhir Semester ( UAS ). Soal ulangan ataupun tugas-tugas  harus mampu mencerminkan/menampilkan pencapaian indikator yang  diujikan. Dengan demikian pendidik tidak perlu melakukan pembobotan  seluruh hasil ulangan, karena semuanya memiliki hasil yang setara;
      (7). Pada setiap indikator atau kompetensi dasar dimungkinkan  adanya perbedaan nilai ketuntasan minimal.
            2). Langkah-langkah Penetapan KKM
            Penetapan KKM dilakukan oleh guru atau kelompok guru mata pelajaran. Langkah penetepan KKM adalah sebagai berikut :
       (1). Guru atau kelompok guru menetapkan KKM mata Pelajaran dengan mempertimbangkan tiga aspek kriteria, yaitu komleksitas, daya dukung, dan intake  peserta didik

GEMPA, PERINGATAN DAN HUKUMAN



Dalam keremangan malam, diantara celah fajar yang mulai menguak
Diantara kokok ayam dan suara burung
Diantara butiran halimun dan kesejukan,
Diantara selimut yang menghagatkan badan
Diantara mimpi dan kantuk yang membelai
Bumi bergoncang,
Tersentak dalam tidur yang pulas
Terjaga dari kehangatan selimut
Belum sempat bertanya
Dinding telah pecah
Rumah mulai roboh
Dalam keterkejutan dan suara anak-anak dan wanita yang merawung
Suara minta tolong, suara jeritan kesakitan, dan ketakutan yang terus menggema
Suara bangunan runtuh, berpadu seperti simponi huru hara dan kematian
Gempa, telah memberikan suatu petunjuk akan kealpaan kita
Akan kelalaian kita
Akan pongah kita
Akan keangguhan kita
Gempa, hanya mengingatkan bukan menghukum
Ya. Allah berilah petunjuk untuk kami agar dapat tetap dalam bimbingan MU

Ku coba

ku coba merangkai kata
ku coba membagi asa
ku coba memulai
melangkah dalan alam
melangkah dan terus melangkah sampai terasa lelah
manun tak ada yang harap yang ku dapat
ternyata melangkah dan melangkah bukanlah hal yang bijak
harus ada tujuan sebelum melangkah
tujuan ...............
apa yang menjadi impian
itulah tujuan
tuk sampai kesitu
diperlukan kesabaran, kepandaian, pengetahuan ...
tidak akan mencapai tujuan bagi yang tidak memilikinya

Sunday, 28 July 2013

Langkah untuk mengurang kemarahan pada anak



Raising Children Network menetapkan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantrum. Berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantrum bagi anak usia tiga tahun pertama yang sudah di uji sebelumnya di keluarga-keluarga di Australia. Pendekatan ini menggunakan pendekatan behavoristik dengan menekankan pada reinforcemen (www.raisingchildrennetworks.com 2010):

1.    Mengurangi stress anak dengan mengantisipasi sebelum anak stress. Sebagai contoh sebelum anak merasa terlalu lapar orang tua sudah lebih dulu mengantisipasi dengan memberi anak makan. Jika belum masuk jam makan utama maka orang tua dapat memberi anak kudapan. Rasa lapar yang sangat dapat memicu stress pada anak sehingga muncul perilaku tanrum.

2.    Menyadari perasaan anak. Orang tua juga perlu memahami perasaaan anak. Orang tua tidak boleh terlalu banyak menuntut secara berlebihan pada anak.

3.    Mengidentifikasi pemicu amukan dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a.    Mencatat perilaku tantrum anak selama 7-10 hari dan juga kejadian yang terjadi sebelum dan sesudah tantrum terjadi

b.    Sesudah mencatat kemudian identifikasi situasi yang menyebabkan tantrum terjadi. Setelah mengidentifikasi orang tua dapat menyusun rencana cara menghindari situasi tersebut dapat terjadi. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi respon yang muncul berupa tantrum dari stimulus seperti kelelahan, lapar, stress dan lain sebagainya.

c.    Selain mengidentifikasi situasi penyebab, orang tua juga mengidentifikasi pemicu terjadinya tantrum.

Berikut adalah table pemicu dan beberapa saran pencegah terjadinya tantrum.

d.    Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi konsekuensi dari perilaku tantrum.

e.    Orang tua dapat menetapkan dan mendata reward sebagai penguat bagi anak untuk tetap tenang. Reward ini dapat berupa hadiah kecil yang disukai anak.

f.     Orang tua membimbing anak untuk bisa mengatasi permasalah anak dengan cara lain selain tantrum untuk mengekspresikan emosi.

4.    Orang tua tetap tenang menghadapi tantrum anak, jangan ikut tersulut emosi sehingga memarahi anak. Karena reaksi keras dari orang tua akan menambah tantrum anak semakin hebat.

5.    Mengabaikan perilaku tantrum sampai berhenti

6.    Tidak memenuhi kenginan anak jika anak meminta dengan cara tantrum

7.    Konsisten dengan sikap orang tua untuk tidak memenuhi keinginan anak ketika tantrum

8.    Memberi reward kepada anak ketika anak berbuat kebaikan dan dapat mengontrol tantrum