This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, 11 June 2013

Gambaran Pengetahuan Mahasiswi Tingkat II Diploma III Kebidanan Tentang Pemeriksaan Fisik Pada Ibu Hamil Di STIKes



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
           Tujuan pembangunan kesehatan indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melaluai terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan  dan dengan perilaku hidup sehat serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan dan fasilitas kesehatan secara adil dan merata diseluruh wilayah republik Indonesia dahn dapat mewujidkan lingkungan sehat dan memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas di tahun 2005. (Depkes RI 2010)
         Di dalam Rencana Strategi Making Pregnancy safer (MPS) di indonesia 2001 – 2010 disebutkan bahwa dalam konteks Rencanan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010,visi MPS adalah Kehamilan dan persalinan berlangsung aman,serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat.Mortalitas da morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin,sekitar 25-50 % kematian wanita subur usia disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematia Neonatal menjadi 16 per 1000  kelahiran hidup.keluaran yang diharapkan dari strategi ini adalah terselenggaranya pelayan kesehatanmaternal dan neonatal dasar berkualitas di Polindes dan Puskesmas,Pelayam Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit Pronpinsi.
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan (Dinkesprop Aceh, 2006: 67)
Persalinan merupakan suatu proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai. Persalinan dibagi menjadi empat tahap penting dan kemungkinan penyulit dapat terjadi pada setiap tahap tersebut ( Manuaba, IG, 2009 )
Pada persalinan terjadi perubahan fisik yaitu : ibu akan merasa sakit pinggang, sakit perut, merasa kurang enak, capai, lesu, tidak nyaman, tidak bisa tidur nyenyak. Dan perubahan psikis yang terjadi yaitu merasa ketakutan sehubungan dengan diri sendiri, takut kalau terjadi bahaya terhadap dirinya pada saat persalinan, takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya, takut yang dihubungkan dengan pengalaman yang sudah lalu, misalnya mengalami kesulitan pada persalinan yang lalu, ketakutan karena anggapan sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahayakan ( Ibrahim,C, 2003 )
Pemeriksaan obstetri meliputi banyak prosedur yamg masing-masing berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang dilakukan. Untuk pemeriksaan dasar obstetri, pada umumnya diperlukan pemeriksaan antenatal, anamnesis dan pemeriksaan fisik ibu hamil meliputi inspeksi, palpasi dan auskultasi. Pemeriksaan antenatal hanya memfokuskan pada hal-hal penting yang harus segera dikenali dan bagaimana kondisi-kondisi tertentu berubah sesuai dengan berlanjutnya usia kehamilan. Pemeriksaan fisik berupa palpasi dan auskultasi bertujuan untuk mengetahui usia kehamilan, letak, presentasi, jumlah janin, kondisi janin dan kesehatan muatan dengan jalan lahir
Pemeriksaan Ante Natal Care adalah untuk mengetahui kesehatan ibu dan bayinya secara rutin. Pada Trimester I minimal 1 kali pemeriksaan yaitu pada waktu terlambat haid sampai dengan 12 minggu, Trimester II 1 kali pemeriksaan pada umur kehamilan antara 13 minggu sampai dengan 28 minggu, Trimester III pada umur kehamilan 29 sampai dengan 38 minggu 2 kali pemeriksaan, setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 1 mingu sekali sampai dengan persalinan. Pemeriksaan terdiri dari 4 leopold untuk mengetahui umur kehamilan
Manuver Leopold merupakan teknik pemeriksaan pada perut ibu bayi untuk menentukan posisi dan letak janin dengan melakukan palpasi abdomen, namun menjadi sulit dilakukan bila bertemu dengan ibu hamil yang obes atau dengan ibu hamil yang memiliki jumlah cairan amnion berlebih. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh perawat sebelum melakukan manuver Leopold

Sunday, 9 June 2013

Gambaran Pengetahuan Bidan Tentang Penggunaan Liminaria Pada Ibu Pre-Curratage Di Ruang Bersalin BLUD RSU



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Laminaria telah digunakan dalam penyusunan leher rahim (pembukaan dan pelunakan serviks) selama lebih dari 100 tahun. Mereka pertama kali digunakan di AS dan Jepang, dan telah digunakan di Denmark dan Swedia selama lebih dari 80 tahun. Karena kemampuan hydroscopic nya akan 2-3 milimeter untuk 12-13 mm (0,4 inci). Dengan menempatkan 1-3 Laminaria di leher rahim selama 6 sampai 12 jam, mengurangi insiden harus menggunakan begitu banyak kekuatan untuk membuka leher rahim menyebabkan kerusakan sementara atau permanen pada leher rahim atau organ tubuh lainnya seperti dijelaskan di atas.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan Laminaria mengurangi insiden komplikasi oleh 1 / 5 sebelum dilator menggunakan (batang digunakan untuk membuka mulut rahim), daripada menggunakan dilator saja. Komplikasi menggunakan Laminaria termasuk kesulitan dengan pemindahan tenda, perpindahan dari tenda ke dalam vagina atau rahim, impactment (terjebak di dalamnya) dari Laminaria di leher rahim, putus dari ujung ke ujung. Komplikasi jarang terjadi jika Laminaria dengan hati-hati ditempatkan langsung di dalam leher rahim. komplikasi lainnya termasuk kram pada penyisipan, dan gejala-menstruasi seperti di sekitar 8 persen pasien.
Ada beberapa kasus yang dilaporkan reaksi anafilaksis setelah penyisipan, dan infeksi. Sebagai kesimpulan, tenda Laminaria telah digunakan sebelum pasien yang menjalani bedah aborsi trimester pertama prosedur (sampai 12 minggu) selama lebih dari 100 tahun di Amerika Serikat Mereka mengurangi kejadian morbiditas (komplikasi) berhubungan dengan prosedur aborsi dan tenda yang terkait dengan minim efek samping.. (Depkes RI, 2010)
World Health Organization (WHO) menentukan bahwa aborsi termasuk dalam masalah kesehatan reproduksi yang perlu mendapatkan perhatian dan merupakan penyebab penderitaan wanita di seluruh dunia. Masalah aborsi ini menjadi suatu pokok perhatian dalam kesehatan masyarakat karena pengaruhnya terhadap morbiditas dan mortalitas maternal. Setiap tahun, diperkirakan 79 juta kehamilan yang tidak diinginkan (unintended pregnancy) terjadi. Lebih dari setengah kehamilan tersebut berakhir dengan aborsi. Aborsi spontan merupakan penyebab terbanyak fetal loss. Delapan puluh persen fetal loss disebabkan oleh aborsi spontan.  Sekitar 10- 15 persen kehamilan berakhir dengan aborsi spontan kuretage antara bulan kedua dan kelima kehamilan. Kurang lebih setengahnya disebabkan oleh anomali kromosom pada embrio (Farel, 2011).
Data yang komprehensif tentang kejadian aborsi di Indonesia tidak tersedia. Berbagai  data yang diungkapkan adalah berdasarkan survei dengan cakupan yang relatif terbatas. Diperkirakan tingkat kuretage di Indonesia adalah sekitar 2 sampai dengan 2,6 juta kasus per tahun, atau 43 kuretage untuk setiap 100 kehamilan. Diperkirakan pula bahwa 30 persen di antara kuretage tersebut dilakukan oleh penduduk usia 15-24 tahun (Wilopo, 2005)

Saturday, 8 June 2013

Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Diploma III Kebidanan Tingkat II Tentang Penanganan bayi Letak Sungsang DI Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes)



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan; menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan; dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik (Depkes RI, 2010).
Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) kelahiran hidup, Angka Kematian Neonatus (AKN) 19 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Develoment Goals/MDG’s 2000) pada tahun 2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi 102 per 100.000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007 menjadi 23 per 1000 KH (Depkes RI, 2011).
Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan segera setelah pesalinan yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%), komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetric 5%, emboli 3%, dan lain-lain 11% (SKRT 2001). Kematian ibu juga diakibatkan beberapa faktor resiko keterlambatan (Tiga Terlambat), di antaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan, terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat dalam keadaan emergensi. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. kelompok sasaran miskin (Quintile 1) baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4% (Depkes RI, 2011).
Perkembangan pendidikan bidan berhubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan. Keduanya berjalan seiring untuk menjawab kebutuhan atau tuntutan masyarakan akan kebutuhan pelayanan kebidanan, yang dimaksud dengan pendidikan bidan adalah pendidikan formal (Sofyan, 2007)
Mengingat besarnya tanggung jawab dan beban kerja bidan dalam melayani masyarakat, pemerintah bersama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) telah mengupayakan pendidikan bagi bidan agar dapat menghasilkan lulusan yang mampu memberikan pelayanan yang berkualitas dan dapat berperan sebagai tenaga kesehatan profesional (Estiwidani, 2009).
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologi yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial bagi ibu dan keluarga, peranan ibu adalah melahirkan bayinya, sedangkan peran keluarga adalah memberikan bantuan dan dukungan pada ibu ketika terjadinya persalinan. Dalam hal ini peran petugas kesehatan tidak kalah pentingnya dalam memberikan bantuan dan dukungan pada ibu agar seluruh rangkaian proses persalinan berlangsung dengan aman (Sumarah, 2008).
Persalinan letak sungsang, kejadianya berkisar antara 2 % sampai 3 % bervariasi diberbagai tempat. Sekaligus kejadian kecil, tetapi mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian sekitar 20 % sampao 30 % (Manuaba, 2007)
Pertolongan persalinan letak sungsang memerlukan perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi kesakitan, cacat permanen sampai dengan kematian bayi, menghadap persalinan sungsang dapat diambil tindakan saat kehamilan melakukan versi luar, persalinan diselesaikan per vaginan atau pertolongan persalinan dengan seksio sesaria (Manuaba, 2007)
Pada pertolongan secara Bracht tidak selalu bahu dan kepala berhasil dilahirkan, sehingga untuk mempercepat kelahiran bahu dan kepala dilakukan manual aid atau manual hilfe yaitu habu dapat dilahirkan secara klasik, mueller atau lovset, dan kepala bisa dilahirkan secara maureceau. Cara klasik terutama dilakukan apabila lengan depan mengjungkit keatas atau berada di belakang leher bayi, karena memutar tubuh bayi dapat membahayakan, maka bila lengan depan letaknya normal, cara klasik dapat dilakukan tanpa memutar tubuh bayi (Kusmiyati, 2010).

PENYAKIT CROHN



Penyakit Crohn (Enteritis Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis) adalah peradangan menahun pada dinding usus.
Enteritis regional, ileokolitis, atau penyakit crohn merupakan suatu penyakit peradangan granulomatosa kronik pada saluran cerna yang sering terjadi berulang.
Penyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus. Kebanyakan terjadi pada bagian terendah dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus, dan bahkan kulit sekitar anus.
Pada beberapa dekade yang lalu, penyakit Crohn lebih sering ditemukan di negara barat dan negara berkembang. Terjadi pada pria dan wanita, lebih sering pada bangsa Yahudi, dan cenderung terjadi pada keluarga yang juga memiliki riwayat kolitis ulserativa. Kebanyakan kasus muncul sebelum umur 30 tahun, paling sering dimulai antara usia 14-24 tahun.Penyakit ini mempengaruhi daerah tertentu dari usus, kadang terdapat daerah normal diantara daerah yang terkena.
Pada sekitar 35 % dari penderita penyakit Crohn, hanya ileum yang terkena. Pada sekitar 20%, hanya usus besar yang terkena. Dan pada sekitar 45 %, ileum maupun usus besar terkena.
Sistim Pencernaan
2.2       ETIOLOGI
Etiologi penyakit crohn tidak diketahui. Penelitian memusatkan perhatian pada tiga kemungkinan penyebabnya, yaitu :
a)      Kelainan fungsi sistem pertahanan tubuh.
b)      Infeksi.
c)      Makanan.
Walaupun tidak ditemukan adanya autoantibodi, enteritis regional diduga merupakan reaksi hipersensitivitas atau mungkin disebabkan oleh agen infektif yang belum diketahui. Teori-teori ini dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi yang dtemukan pada jamur dan tuberkulosis paru. Terdapat beberapa persamaan yang menrik antara enteritis regional dan kolitis ulseratif. Keduanya adalah penyakit radang, walaupun lesinya berbeda. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi di luar saluran cerna yaitu uveitis, artritis dan lesi-lesi kulit yang identik.

2.3       PATOFISIOLOGI
            Enteritis regional umumnya terjadi pada remaja atau dewasa muda, tetapi dapat terjadi kapan saja selam hidup. Keadaan ini sering terihat pada populasi 50-80 tahun. Meskipun ini dapat terjadi dimanasaja disepanjang saluran gastrointestinal, area paling umum yang serin terkena adalah ilium distal dan kolon.
            Enteritis regional adalah inflamasi kronis dan subkutan yang meluas keseluruh lapisan dimding usus dari mukosa usus, ini disebut juga transmural. Pembentukan fistula, fisura, dan abses terjadi sesuai luasnya inflamasi kedalaman peritonium, lesi (ulkus) tidak pada kontak terus menerus, granuloma terjadi pada setengah kasus. Pada kasus lanjut mukosa usus mempunyai penampilan ”Coblestone”. Dengan berlanjutnya penyakit, dinding usus menebal dan menjadi tibrotit, dan lumen usus menyempit.
           
2.4       PATOGENESIS
Ileum terminal terserang pada sekitar 80% kasus enteritis regional. Pada sekitar 35% kasus lesi-lesi terjadi pada kolon. Esofagus dan lambung lebih jarang terserang. Dalam beberapa hal terjadi lesi “melompat” yaitu bagian usus yang sakit dipisahkan oleh daerah-daerah usus normal sepanjang beberapa inci atau kaki. Lesi diduga mulai pada kelenjar limfe dekat usus halus yang akhirnya menyumbat aliran saluran limfe. Selubung submukosa usus jelas menebal akibat hiperplasia jaringan limfoid dan limfedema. Dengan berlanjutnya proses patogenik, segmen usus yang terserang menebal sedemikian rupa sehingga kaku seperti slang kebun, lumen usus menyempit, sehingga hanya sedikit dilewati barium, menimbulkan “string sign” yang terlihat pada radiogram. Seluruh dinding usus terserang. Mukosa seringkali meradang dan bertukak disertai eksudat yang putih abu-abu.
2.5       TANDA DAN GEJALA
Para penderita mengeluh mengenai sakit perut yang berulang-ulang, sering mendapat serangan diare, atau sebaliknyasusah buang air besar, kadang-kadang panas, nafsu makan berkurang dan penurunan berat badan.
Perdarahan per anum sering disebabkan radang pada kolon.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses).
Bila penyakit Crohn menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita juga bisa mengalami :
  • peradangan sendi (artritis).
  • peradangan bagian putih mata (episkleritis).
  • luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa).
  • nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum).
  • luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum).

Jika penyakit Crohn tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita masih bisa mengalami :
  • peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa).
  • peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis).
  • peradangan di dalam mata (uveitis) .
  • peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer).

Pada anak-anak, gejala-gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan merupakan gejala utama dan bisa tidak muncul sama sekali.
Gejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat. Pola umum dari penyakit Crohn, Gejala-gejala penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum terjadi, yaitu :
1.      Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di perut bawah sebelah kanan
2.      Penyumbatan usus akut yang berulang, yang menyebabkan kejang dan nyeri hebat di dinding usus,   pembengkakan perut, sembelit dan muntah-muntah
3.      Peradangan dan penyumbatan usus parsial menahun, yang menyebabkan kurang gizi dan kelemahan  menahun
4.      Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering menyebabkan demam, adanya massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan.

2.6       KOMPLIKASI
Pada kasus yang menahun, timbul striktura yang menyebabkan obstruksi, fistel-fistel antara usus dan usus kecil atau antara usus dan kandung kemih atau fistel antara usus dan kulit. Di sekitar anus terdapat fistel-fistel, fisur-fisur dan abses-abses. Perdarahan yang banyak atau perforasi jarang terjadi. Begitupula jarang terjadi dilatasi akut. Karsinoma kolon dulu diduga tidak begitu sering akan tetapi sekarang kasus. Karsinoma lebih sering ditemukan pada kolitis Crohn. Kadang-kadang timbul hiperoxaluria dan batu oxalat. Proses radang dapat menjalar ke ureter yang menyebabkan pyelonefritis yang berulang, stenosis pada ureter dan hidronefrosis.
2.7       DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram perut yang terasa nyeri dan diare berulang, terutama pada penderita yang juga memiliki peradangan pada sendi, mata dan kulit.
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi penyakit Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan adanya :
·         anemia.
·         peningkatan abnormal dari jumlah sel darah putih.
·         kadar albumin yang rendah
·         tanda-tanda peradangan lainnya.
Barium enema bisa menunjukkan gambaran yang khas untuk penyakit Crohn pada usus besar. Jika masih belum pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan biopsi untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di dinding usus dan menemukan adanya abses, namun tidak digunakan secara rutin sebagai pemeriksaan diagnostik awal.

2.8  PROGNOSIS
Beberapa penderita sembuh total setelah suatu serangan yang mengenai usus halus. Tetapi penyakit Crohn biasanya muncul lagi dengan selang waktu tidak teratur sepanjang hidup penderita. Kekambuhan ini bisa bersifat ringan atau berat, bisa sebentar atau lama.
Mengapa gejalanya datang dan pergi dan apa yang memicu episode baru atau yang menentukan keganasannya tidak diketahui.
Peradangan cenderung berulang pada daerah usus yang sama, namun bisa menyebar pada daerah lain setelah daerah yang pernah terkena diangkat melalui pembedahan.
Penyakit Crohn biasanya tidak berakibat fatal. Tetapi beberapa penderita meninggal karena kanker saluran pencernaan yang timbul pada penyakit Crohn yang menahun.