Tuesday, 11 June 2013
Gambaran Pengetahuan Mahasiswi Tingkat II Diploma III Kebidanan Tentang Pemeriksaan Fisik Pada Ibu Hamil Di STIKes
07:36
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tujuan pembangunan
kesehatan indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal melaluai terciptanya masyarakat, bangsa dan negara
Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat serta
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan dan fasilitas kesehatan secara adil
dan merata diseluruh wilayah republik Indonesia dahn dapat mewujidkan
lingkungan sehat dan memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta
dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas di tahun 2005. (Depkes RI 2010)
Di dalam Rencana Strategi Making
Pregnancy safer (MPS) di
indonesia 2001 – 2010 disebutkan bahwa dalam konteks Rencanan Pembangunan
Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010,visi MPS adalah Kehamilan dan persalinan
berlangsung aman,serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat.Mortalitas da
morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara
berkembang. Di negara
miskin,sekitar 25-50 % kematian wanita subur usia disebabkan hal berkaitan
dengan kehamilan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah
menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan
Angka Kematia Neonatal menjadi 16 per 1000
kelahiran hidup.keluaran yang diharapkan dari strategi ini adalah
terselenggaranya pelayan kesehatanmaternal dan neonatal dasar berkualitas di
Polindes dan Puskesmas,Pelayam Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit
Pronpinsi.
Pelayanan antenatal adalah pelayanan
kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum,
bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya,
sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu
timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi
TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama
masa kehamilan (Dinkesprop Aceh,
2006: 67)
Persalinan merupakan suatu
proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada
manusia setiap saat terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya
sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang
memadai. Persalinan dibagi menjadi empat tahap penting dan kemungkinan penyulit
dapat terjadi pada setiap tahap tersebut (
Manuaba, IG, 2009 )
Pada persalinan terjadi
perubahan fisik yaitu : ibu akan merasa sakit pinggang, sakit perut, merasa
kurang enak, capai, lesu, tidak nyaman, tidak bisa tidur nyenyak. Dan perubahan
psikis yang terjadi yaitu merasa ketakutan sehubungan dengan diri sendiri,
takut kalau terjadi bahaya terhadap dirinya pada saat persalinan, takut tidak
dapat memenuhi kebutuhan anaknya, takut yang dihubungkan dengan pengalaman yang
sudah lalu, misalnya mengalami kesulitan pada persalinan yang lalu, ketakutan
karena anggapan sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahayakan ( Ibrahim,C, 2003 )
Pemeriksaan obstetri meliputi banyak prosedur
yamg masing-masing berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang
dilakukan. Untuk pemeriksaan dasar obstetri, pada umumnya diperlukan pemeriksaan
antenatal, anamnesis dan pemeriksaan fisik ibu hamil meliputi
inspeksi, palpasi dan auskultasi. Pemeriksaan antenatal hanya memfokuskan pada
hal-hal penting yang harus segera dikenali dan bagaimana kondisi-kondisi
tertentu berubah sesuai dengan berlanjutnya usia kehamilan. Pemeriksaan
fisik berupa palpasi dan auskultasi bertujuan untuk mengetahui usia kehamilan,
letak, presentasi, jumlah janin, kondisi janin dan kesehatan muatan dengan
jalan lahir
Pemeriksaan Ante Natal Care adalah untuk
mengetahui kesehatan ibu dan bayinya secara rutin. Pada Trimester I minimal 1
kali pemeriksaan yaitu pada waktu terlambat haid sampai dengan 12 minggu,
Trimester II 1 kali pemeriksaan pada umur kehamilan antara 13 minggu sampai
dengan 28 minggu, Trimester III pada umur kehamilan 29 sampai dengan 38 minggu
2 kali pemeriksaan, setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 1 mingu sekali
sampai dengan persalinan. Pemeriksaan terdiri dari 4 leopold untuk mengetahui
umur kehamilan
Manuver Leopold merupakan teknik
pemeriksaan pada perut ibu bayi untuk menentukan posisi dan letak janin dengan
melakukan palpasi abdomen, namun menjadi sulit dilakukan bila bertemu dengan
ibu hamil yang obes atau dengan ibu hamil yang memiliki jumlah cairan amnion
berlebih. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh perawat sebelum
melakukan manuver Leopold
Sunday, 9 June 2013
Gambaran Pengetahuan Bidan Tentang Penggunaan Liminaria Pada Ibu Pre-Curratage Di Ruang Bersalin BLUD RSU
09:09
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laminaria telah digunakan dalam
penyusunan leher rahim (pembukaan dan pelunakan serviks) selama lebih dari 100
tahun. Mereka pertama kali digunakan di AS dan Jepang, dan telah digunakan di
Denmark dan Swedia selama lebih dari 80 tahun. Karena kemampuan hydroscopic nya
akan 2-3 milimeter untuk 12-13 mm (0,4 inci). Dengan menempatkan 1-3 Laminaria
di leher rahim selama 6 sampai 12 jam, mengurangi insiden harus menggunakan
begitu banyak kekuatan untuk membuka leher rahim menyebabkan kerusakan
sementara atau permanen pada leher rahim atau organ tubuh lainnya seperti
dijelaskan di atas.
Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa penggunaan Laminaria mengurangi insiden komplikasi oleh 1 / 5 sebelum
dilator menggunakan (batang digunakan untuk membuka mulut rahim), daripada
menggunakan dilator saja. Komplikasi menggunakan Laminaria termasuk kesulitan
dengan pemindahan tenda, perpindahan dari tenda ke dalam vagina atau rahim,
impactment (terjebak di dalamnya) dari Laminaria di leher rahim, putus dari
ujung ke ujung. Komplikasi jarang terjadi jika Laminaria dengan hati-hati
ditempatkan langsung di dalam leher rahim. komplikasi lainnya termasuk kram
pada penyisipan, dan gejala-menstruasi seperti di sekitar 8 persen pasien.
Ada beberapa kasus yang dilaporkan
reaksi anafilaksis setelah penyisipan, dan infeksi. Sebagai kesimpulan, tenda
Laminaria telah digunakan sebelum pasien yang menjalani bedah aborsi trimester
pertama prosedur (sampai 12 minggu) selama lebih dari 100 tahun di Amerika
Serikat Mereka mengurangi kejadian morbiditas (komplikasi) berhubungan dengan
prosedur aborsi dan tenda yang terkait dengan minim efek samping.. (Depkes RI, 2010)
World Health Organization (WHO)
menentukan bahwa aborsi termasuk dalam masalah kesehatan reproduksi yang perlu
mendapatkan perhatian dan merupakan penyebab penderitaan wanita di seluruh
dunia. Masalah aborsi ini menjadi suatu pokok perhatian dalam kesehatan
masyarakat karena pengaruhnya terhadap morbiditas dan mortalitas maternal.
Setiap tahun, diperkirakan
79 juta kehamilan yang tidak diinginkan (unintended pregnancy) terjadi. Lebih
dari setengah kehamilan tersebut berakhir dengan aborsi. Aborsi spontan
merupakan penyebab terbanyak fetal loss. Delapan puluh persen fetal loss
disebabkan oleh aborsi spontan. Sekitar 10- 15 persen kehamilan berakhir
dengan aborsi spontan kuretage antara bulan kedua dan
kelima kehamilan. Kurang lebih setengahnya disebabkan oleh anomali kromosom
pada embrio (Farel,
2011).
Data yang komprehensif tentang
kejadian aborsi di Indonesia tidak tersedia. Berbagai data yang
diungkapkan adalah berdasarkan survei dengan cakupan yang relatif terbatas.
Diperkirakan tingkat kuretage
di Indonesia adalah sekitar 2 sampai dengan 2,6 juta kasus per tahun, atau 43 kuretage untuk setiap 100
kehamilan. Diperkirakan pula bahwa 30 persen di antara kuretage tersebut dilakukan
oleh penduduk usia 15-24 tahun (Wilopo,
2005)
Saturday, 8 June 2013
Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Diploma III Kebidanan Tingkat II Tentang Penanganan bayi Letak Sungsang DI Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes)
21:53
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Visi
Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat
Sehat yang mandiri dan berkeadilan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani;
melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan
yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan; menjamin ketersediaan dan
pemerataan sumberdaya kesehatan; dan menciptakan tata kelola kepemerintahan
yang baik (Depkes RI, 2010).
Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian
Ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN
lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) kelahiran
hidup, Angka Kematian Neonatus (AKN) 19 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan
kesepakatan global (Millenium Develoment Goals/MDG’s 2000) pada tahun
2015, diharapkan angka kematian ibu menurun dari 228 pada tahun 2007 menjadi
102 per 100.000 KH dan angka kematian bayi menurun dari 34 pada tahun 2007
menjadi 23 per 1000 KH (Depkes RI, 2011).
Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada
penyebab langsung kematian ibu, yang terjadi 90% pada saat persalinan dan
segera setelah pesalinan yaitu perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%),
komplikasi pueperium 8%, partus macet 5%, abortus 5%, trauma obstetric 5%,
emboli 3%, dan lain-lain 11% (SKRT 2001). Kematian ibu juga diakibatkan
beberapa faktor resiko keterlambatan (Tiga Terlambat), di antaranya terlambat
dalam pemeriksaan kehamilan, terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan
dari tenaga kesehatan, dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat
dalam keadaan emergensi. Salah satu upaya pencegahannya adalah melakukan
persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan. kelompok
sasaran miskin (Quintile 1) baru mencapai sekitar 69,3%. Sedangkan persalinan
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan baru mencapai 55,4%
(Depkes RI, 2011).
Perkembangan pendidikan bidan berhubungan
dengan perkembangan pelayanan kebidanan. Keduanya berjalan seiring untuk menjawab
kebutuhan atau tuntutan masyarakan akan kebutuhan pelayanan kebidanan, yang
dimaksud dengan pendidikan bidan adalah pendidikan formal (Sofyan, 2007)
Mengingat besarnya tanggung jawab dan beban
kerja bidan dalam melayani masyarakat, pemerintah bersama dengan Ikatan Bidan
Indonesia (IBI) telah mengupayakan pendidikan bagi bidan agar dapat
menghasilkan lulusan yang mampu memberikan pelayanan yang berkualitas dan dapat
berperan sebagai tenaga kesehatan profesional (Estiwidani, 2009).
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian
fisiologi yang normal dalam kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan
peristiwa sosial bagi ibu dan keluarga, peranan ibu adalah melahirkan bayinya,
sedangkan peran keluarga adalah memberikan bantuan dan dukungan pada ibu ketika
terjadinya persalinan. Dalam hal ini peran petugas kesehatan tidak kalah
pentingnya dalam memberikan bantuan dan dukungan pada ibu agar seluruh
rangkaian proses persalinan berlangsung dengan aman (Sumarah, 2008).
Persalinan letak sungsang, kejadianya berkisar
antara 2 % sampai 3 % bervariasi diberbagai tempat. Sekaligus kejadian kecil,
tetapi mempunyai penyulit yang besar dengan angka kematian sekitar 20 % sampao
30 % (Manuaba, 2007)
Pertolongan persalinan letak sungsang
memerlukan perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi kesakitan, cacat
permanen sampai dengan kematian bayi, menghadap persalinan sungsang dapat
diambil tindakan saat kehamilan melakukan versi luar, persalinan diselesaikan
per vaginan atau pertolongan persalinan dengan seksio sesaria (Manuaba, 2007)
Pada pertolongan secara Bracht tidak selalu
bahu dan kepala berhasil dilahirkan, sehingga untuk mempercepat kelahiran bahu
dan kepala dilakukan manual aid atau manual hilfe yaitu habu dapat dilahirkan
secara klasik, mueller atau lovset, dan kepala bisa dilahirkan secara
maureceau. Cara klasik terutama dilakukan apabila lengan depan mengjungkit
keatas atau berada di belakang leher bayi, karena memutar tubuh bayi dapat
membahayakan, maka bila lengan depan letaknya normal, cara klasik dapat dilakukan
tanpa memutar tubuh bayi (Kusmiyati, 2010).
PENYAKIT CROHN
21:04
No comments
Penyakit Crohn (Enteritis
Regionalis, Ileitis Granulomatosa, Ileokolitis) adalah peradangan menahun pada
dinding usus.
Enteritis regional,
ileokolitis, atau penyakit crohn merupakan suatu penyakit peradangan
granulomatosa kronik pada saluran cerna yang sering terjadi berulang.
Penyakit ini mengenai seluruh ketebalan dinding usus. Kebanyakan terjadi pada bagian terendah
dari usus halus (ileum) dan usus besar, namun dapat terjadi pada bagian manapun
dari saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus, dan bahkan kulit sekitar
anus.
Pada beberapa dekade
yang lalu, penyakit Crohn lebih sering ditemukan di negara barat dan negara
berkembang. Terjadi pada pria dan wanita, lebih sering pada bangsa Yahudi, dan
cenderung terjadi pada keluarga yang juga memiliki riwayat kolitis ulserativa. Kebanyakan kasus muncul sebelum umur
30 tahun, paling sering dimulai antara usia 14-24 tahun.Penyakit ini
mempengaruhi daerah tertentu dari usus, kadang terdapat daerah normal diantara
daerah yang terkena.
Pada sekitar 35 % dari penderita penyakit Crohn, hanya ileum yang terkena. Pada sekitar 20%, hanya usus besar yang terkena. Dan pada sekitar 45 %, ileum maupun usus besar terkena.
Pada sekitar 35 % dari penderita penyakit Crohn, hanya ileum yang terkena. Pada sekitar 20%, hanya usus besar yang terkena. Dan pada sekitar 45 %, ileum maupun usus besar terkena.
Sistim
Pencernaan
2.2 ETIOLOGI
Etiologi penyakit
crohn tidak diketahui. Penelitian memusatkan perhatian pada tiga kemungkinan
penyebabnya, yaitu :
a) Kelainan fungsi sistem
pertahanan tubuh.
b) Infeksi.
c) Makanan.
Walaupun tidak ditemukan adanya
autoantibodi, enteritis regional diduga merupakan reaksi hipersensitivitas atau
mungkin disebabkan oleh agen infektif yang belum diketahui. Teori-teori ini
dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi
yang dtemukan pada jamur dan tuberkulosis paru. Terdapat beberapa persamaan yang menrik antara enteritis
regional dan kolitis ulseratif. Keduanya adalah penyakit radang, walaupun
lesinya berbeda. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi di luar saluran cerna
yaitu uveitis, artritis dan lesi-lesi kulit yang identik.
2.3 PATOFISIOLOGI
Enteritis regional umumnya
terjadi pada remaja atau dewasa muda, tetapi dapat terjadi kapan saja selam
hidup. Keadaan ini sering terihat pada populasi 50-80 tahun. Meskipun ini dapat
terjadi dimanasaja disepanjang saluran gastrointestinal, area paling umum yang
serin terkena adalah ilium distal dan kolon.
Enteritis
regional adalah inflamasi kronis dan subkutan yang meluas keseluruh lapisan
dimding usus dari mukosa usus, ini disebut juga transmural. Pembentukan
fistula, fisura, dan abses terjadi sesuai luasnya inflamasi kedalaman
peritonium, lesi (ulkus) tidak pada kontak terus menerus, granuloma terjadi
pada setengah kasus. Pada kasus lanjut mukosa usus mempunyai penampilan
”Coblestone”. Dengan berlanjutnya penyakit, dinding usus menebal dan menjadi
tibrotit, dan lumen usus menyempit.
2.4 PATOGENESIS
Ileum terminal
terserang pada sekitar 80% kasus enteritis regional. Pada sekitar 35% kasus lesi-lesi terjadi pada kolon.
Esofagus dan lambung lebih jarang terserang. Dalam beberapa hal terjadi lesi
“melompat” yaitu bagian usus yang sakit dipisahkan oleh daerah-daerah usus
normal sepanjang beberapa inci atau kaki. Lesi diduga mulai pada kelenjar limfe
dekat usus halus yang akhirnya menyumbat aliran saluran limfe. Selubung
submukosa usus jelas menebal akibat hiperplasia jaringan limfoid dan limfedema.
Dengan berlanjutnya proses patogenik, segmen usus yang terserang menebal
sedemikian rupa sehingga kaku seperti slang kebun, lumen usus menyempit,
sehingga hanya sedikit dilewati barium, menimbulkan “string sign” yang terlihat
pada radiogram. Seluruh dinding usus terserang. Mukosa seringkali meradang dan
bertukak disertai eksudat yang putih abu-abu.
2.5 TANDA
DAN GEJALA
Para penderita mengeluh
mengenai sakit perut yang berulang-ulang, sering mendapat serangan diare, atau
sebaliknyasusah buang air besar, kadang-kadang panas, nafsu makan berkurang dan
penurunan berat badan.
Perdarahan per anum sering disebabkan radang pada kolon.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses).
Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan atau rasa penuh pada perut bagian bawah, lebih sering di sisi kanan. Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses).
Bila penyakit Crohn
menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita juga bisa
mengalami :
- peradangan sendi (artritis).
- peradangan bagian putih mata (episkleritis).
- luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa).
- nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum).
- luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum).
Jika penyakit Crohn tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala
saluran pencernaan, penderita masih bisa mengalami :
- peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa).
- peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis).
- peradangan di dalam mata (uveitis) .
- peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer).
Pada anak-anak, gejala-gejala
saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan merupakan gejala
utama dan bisa tidak muncul sama sekali.
Gejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat. Pola umum dari penyakit Crohn, Gejala-gejala penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum terjadi, yaitu :
Gejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat. Pola umum dari penyakit Crohn, Gejala-gejala penyakit Crohn pada setiap penderitanya berbeda, tetapi ada 4 pola yang umum terjadi, yaitu :
1. Peradangan : nyeri dan nyeri tekan di
perut bawah sebelah kanan
2. Penyumbatan usus akut yang berulang, yang
menyebabkan kejang dan nyeri hebat di dinding usus, pembengkakan perut, sembelit dan
muntah-muntah
3. Peradangan dan penyumbatan usus parsial
menahun, yang menyebabkan kurang gizi dan kelemahan menahun
4. Pembentukan saluran abnormal (fistula) dan
kantung infeksi berisi nanah (abses), yang sering menyebabkan demam, adanya
massa dalam perut yang terasa nyeri dan penurunan berat badan.
2.6 KOMPLIKASI
Pada kasus yang menahun,
timbul striktura yang menyebabkan obstruksi, fistel-fistel antara usus dan usus
kecil atau antara usus dan kandung kemih atau fistel antara usus dan kulit. Di sekitar anus terdapat fistel-fistel, fisur-fisur dan abses-abses.
Perdarahan yang banyak atau perforasi jarang terjadi. Begitupula jarang terjadi dilatasi akut. Karsinoma
kolon dulu diduga tidak begitu sering akan tetapi sekarang kasus. Karsinoma
lebih sering ditemukan pada kolitis Crohn. Kadang-kadang timbul hiperoxaluria
dan batu oxalat. Proses radang dapat menjalar ke ureter
yang menyebabkan pyelonefritis yang berulang, stenosis pada ureter dan
hidronefrosis.
2.7 DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya kram perut yang
terasa nyeri dan diare berulang, terutama pada penderita yang juga memiliki
peradangan pada sendi, mata dan kulit.
Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi penyakit
Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan adanya :
·
anemia.
·
peningkatan abnormal dari
jumlah sel darah putih.
·
kadar albumin yang rendah
·
tanda-tanda peradangan lainnya.
Barium enema bisa menunjukkan
gambaran yang khas untuk penyakit Crohn pada usus besar. Jika masih belum
pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan
biopsi untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di
dinding usus dan menemukan adanya abses, namun tidak digunakan secara rutin
sebagai pemeriksaan diagnostik awal.
2.8
PROGNOSIS
Beberapa penderita sembuh total setelah suatu serangan
yang mengenai usus halus. Tetapi penyakit Crohn biasanya muncul lagi dengan
selang waktu tidak teratur sepanjang hidup penderita. Kekambuhan ini bisa
bersifat ringan atau berat, bisa sebentar atau lama.
Mengapa gejalanya datang dan pergi dan apa yang memicu
episode baru atau yang menentukan keganasannya tidak diketahui.
Peradangan cenderung berulang pada daerah usus yang
sama, namun bisa menyebar pada daerah lain setelah daerah yang pernah terkena
diangkat melalui pembedahan.
Penyakit Crohn biasanya tidak berakibat fatal. Tetapi
beberapa penderita meninggal karena kanker saluran pencernaan yang timbul pada
penyakit Crohn yang menahun.
Subscribe to:
Posts (Atom)










