Monday, 27 May 2013
TINGKAT PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG MAKANAN BERGIZI TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI 0-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
16:54
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pecapaian keadaan gizi yang baik bagi
ibu hamil dan ibu menyusui maka konsumsi makanan yang bergizi, pada dasarnya
kebutuhan tubuh akan gizi berasal dari makanan. Pada ibu menyusui kebutuhan zat
makanan diperlukan bukan hanya untuk memenuhi gizi ibu sendiri tapi juga untuk
bayi yang disusuinya. Pada saat menyusui gizi sangat dibutuhkan sehingga perlu
tambahan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi, oleh karena itu ibu dianjurkan
untuk minum air putih 8-12 gelas sehari. Sedangkan gizi biasanya didapatkan
dari susu, buah-buahan, dan sayuran sehingga ibu dianjurkan untuk memperbanyak
mengkumsumsi makanan yang sehat (Almatsier, 2004).
Kecukupan gizi dan pangan merupakan
salah faktor terpenting dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia, yang
merupakan kunci keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Dalam hal ini gizi
ternyata sangat berpengaruh terhadap kecerdasan dan produktivitas kerja manusia
(Almatsier, 2004).
Masalah gizi banyak pada kelompok
masyarakat di daerah pedesaan yang mengkonsumsi bahan pangan yang kurang, baik
jumlah maupun mutunya. Sebagian besar dari masalah tersebut disebabkan oleh
faktor ekonomi (Hananto W, 2002)
KMS (Kartu Menuju
Sehat) adalah kartu pedoman ibu untuk memantau petumbuhan dan perkembangan bayi
secara menyeluruh baik kesehatan maupun pertumbuhannya termasuk memantau
pemberian imunisasi. Dengan KMS dapat mengetahui perkembangan yang harus di
capai oleh bayi ibu mulai dari gerakan kasar gerakan harus pengamatan, bicara aktif
sampai sosialisasi sesuai perkembangan usianya. Mulai dari KMS juga ibu dapat
memantau pertumbuhan bayi ibu terutama berat badannya (Depkes RI, 2005)
Memiliki anak sehat dan cerdas
adalah dambaan setiap orang tua untuk mewujudkan orang tua harus selalu
memperhatikan mengawasi dan merawat anak serta seksama. Khususnya memperhatikan
pertumbuhan perkembangannya (Sulistijani,2004)
Ibu menyusui hendaknya tidak mengikuti
selera makannya sendiri, tetapi sesuai dengan kebutuhan tubuh dan bayinya.
Makanan yang dikonsumsi ibu berguna untuk melakukan aktifitas metabolisme,
cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI yang akan dikonsumsi bayi untuk
pertumbuhan dan perkembangannya (Huliana, 2003).
Di Indonesia banyak pantangan yang
dikenakan kepada ibu hamil maupun ibu menyusui. Harus diperhatikan jangan
sampai pantangan tersebut merugikan kondisi gizi ibunya maupun anak yang
dikandung atau yang disusuinya. Kepercayaan tentang makan yang menguntungkan
kondisi ibunya dan sekresi ASI sebaiknya digalakkan (Sediaoetama, 2002).
Menyusui akan menjamin bayi tetap sehat dan memulai
kehidupannya dengan cara yang paling sehat. Menyusui sebenarnya tidak saja
memberikan kesempatan pada bayi untuk tumbuh manusia yang sehat secara fisik,
tetapi juga lebih cerdas mempunyai emosional yang lebih stabil, perkembangan
spiritual yang positif, serta perkembangan sosial yang lebih baik, (Utami
2004).
Saturday, 25 May 2013
GAMBARAN PENGETAHUAN SUAMI TENTANG KEHAMILAN DI BIDAN PRAKTEK SWASTA
17:14
No comments
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Berlakang.
Dengan datangnya tanda-tanda kehamilan, hadirnya seorang buah hati
dalam keluarga mereka tinggallah menunggu waktu. Keluarga terasa semakin
lengkap dengan kehadiran buah hati yang dinanti.
Namun ada kalanya, pasangan suami isteri belum mengetahui secara betul mengenai tanda-tanda kehamilan ini. Mereka kadang masih bingung membedakan mana tanda-tanda kehamilan (pregnancy symptoms) sebenarnya dengan tanda akan datang menstruasi, karena banyak kasus terjadi bahwa tanda-tanda kehamilan biasanya mirip dengan tanda-tanda akan datang menstruasi. Ketidaktahuan mengenai hal ini juga menyebabkan beberapa kasus terjadinya keguguran (miscarriage).
Namun ada kalanya, pasangan suami isteri belum mengetahui secara betul mengenai tanda-tanda kehamilan ini. Mereka kadang masih bingung membedakan mana tanda-tanda kehamilan (pregnancy symptoms) sebenarnya dengan tanda akan datang menstruasi, karena banyak kasus terjadi bahwa tanda-tanda kehamilan biasanya mirip dengan tanda-tanda akan datang menstruasi. Ketidaktahuan mengenai hal ini juga menyebabkan beberapa kasus terjadinya keguguran (miscarriage).
Hal
ini disebabkan masih dilakukannya suatu aktivitas atau konsumsi makanan yang
seharusnya tidak boleh dilakukan selama kehamilan, padahal sebetulnya dia sudah
mengalami kehamilan. Dengan ketidaktahuan akan tanda-tanda kehamilan juga
mengakibatkan persiapan yang matang menyongsong kehamilan menjadi terabaikan.
Sebaliknya, banyak kasus para keluarga stress karena tanda-tanda yang sudah
dianggapnya sebagai sebuah tanda kehamilan, ternyata sesudah dilakukan
beberapa kali test ternyata hasilnya negatif. Bayangan dan dambaan kehamilan
yang mereka tunggu akhirnya menjadi sirna.
Banyak para perempuan menilai bahwa tanda-tanda kehamilan hanya
melihat dari satu sisi saja, yaitu terlambat datangnya menstruasi. Memang
betul, salah satu tanda-tanda kehamilan ini adalah terlambatnya menstruasi.
Namun, terlambat menstruasi ini juga bukan hanya disebabkan oleh kehamilan
saja, banyak hal yang mempengaruhinya, pola makan, stress, kecapaian, adanya gangguan
hormonal dsb. Nah, untuk lebih memastikan lagi, selain terlambatnya
menstruasi, cermati pula tanda-tanda kehamilan yang lain, yaitu:
HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN DENGAN TINGKAT PRESTASI PARA MURID SEKOLAH DASAR (SD) NEGERI
17:10
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Salah
satu tujuan pembangunan Nasional adalah membangun manusia seutuhnya, yang
terpenuhi kebutuhan lahir batin. Untuk mencapai hal tersebut, di perlukan
berbagai usaha antara lain perbaikan gizi masyarakatyang dijadikan sebagai
pedoman demi tercapainya kemajuan program Pembangunan Nasional.
Status
gizi masyarakat yang rendah tetap menjadi focus perhatian. selain prevalensi
gizi kurang dan gizi buruk yang tinggi, berbagai masalah gizi utama lain yaitu
anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium, kurang vitamin A, dan kurang
zat gizi mikro lainnya perlu ditingkatkan upaya pencegahan dan
penenggulangannya. saat ini terdapat 10 propinsi dengan prevalensi gizi kurang
diatas 30 persen, bahkan di 4 propinsi yaitu Gorontalo, NTB, NTT dan Papua
diatas 40 %, Kasus gizi buruk terus terjadi, teritama pada penduduk miskin.
Kecukupan gizi merupakan syarat mutlak bagi
kesehatan individu. Kecukupan gizi adalah banyaknya masing-masing zat-zat gizi
yang harus terpenuhi oleh setiap makluk hidup. Apabila individu kekurangan zat
besi, maka akan berakibat tidak baik bagi tubuh, sebaliknya keadaan gizi yang
berlebihan akan mengakibatkan bertambahnya berat badan atau kegemukan.
Masalah
gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan saja melainkan aspek-aspek
terkait, seperti ekonomi, sosial bidaya, pendidikan, kependudukan dan
sebagainya. Oleh sebab itu penanganan atau berbaikan gizi sebagai upaya terapi
tidak saja diarahkan kepada gangguan gizi dan kesehatan saja melainkan juga
kearah ke bidang – bidang yang lain,
misalnya penyakit Gizi KKP (Kurang Kalori Protein) pada anak-anak balita tidak
cukup hanya pemberian makanan tambahan (PMT), tetapi juga dilakukan perbaikan
ekonomi, keluarga, peningkatan pengetahuan, dan sebagainya (Notoadmodjo, 2000).
Program pelayanan
kesehatan kesehatan dasar dalam bentuk operasional yang baik adalah posyandu.
Saat ini posyandu masih tetap ditetapkan bagi pembangunan kesehatan primer.
baik masyarakat pedesaan maupun
perkotaan. salah satu program posyandu adalah program pemantau status gizi
(PSG) anak balita. Laporan tahunan
proyek peningkatan tahun 1996-1997 dan 1997 – 1998 Dit Bina Gizi Keluarga
tampak bahwa status gizi balita terbanyak pada katagori normal 67,1 dam 71,6.
sedangkan kekurangan Energi Protein total 20,9% dan 18,0% ( Depkes RI, 1998)
Menurut Laporan Unicef,
September 2005 di Propinsi Nanggro Aceh Darussalam merebaknya kasus
kekuranganberat badan pada anak sekolah dasar sebesar 44,2 %, terhambat
pertumbuhan 40,2 %, kekurusan 8,6 %, dan mal nutrisi kronis 9,8 %, tingkat
rata-rata anemi pada anak Sekolah Dasar 50,2 %.(Healt Messenger, 2008.)
Gambaran Penyebab Rendahnya Cakupan Penimbangan Balita Di Posyandu Desa
09:05
No comments
|
|
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.
Tujuan pembangunan nasional bidang
kesehatan adalah menuju Indonesia sehat tahun 2010 untuk meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Terciptanya masyarakat, bangsa dan
Negara Indonesia yang optimal ditandai oleh penduduk sehat, meningkatkan
perilaku sehat dengan menjaga tingkat kesehatan keluarga. Dengan perilaku yang sehat serta memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan
merata. (Depkes RI, 1999)
Indikator dalam mengukur
derajat kesehatan masyarakat diantaranya adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB). Hal ini disebabkan karena ibu dan bayi merupakan
kelompok yang mempunyai tingkat kerentanan yang besar terhadap penyakit dan
kematian. Hasil Susenas 2000, balita di Indonesia merupakan 10% dari jumlah
penduduk yang ada (20.302.376 balita dari jumlah penduduk 201.241.999 orang) (Supraptini,2000).
Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya di dunia ini terdapat 1,5 juta kematian
bayi berusia 1 minggu dan 1,4 juta bayi lahir mati (Syahrul,Fariani.,dkk,2002)
Program pelayanan kesehatan kesehatan
dasar dalam bentuk operasional yang baik adalah posyandu. Saat ini posyandu
masih tetap ditetapkan bagi pembangunan kesehatan primer. baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan. salah satu program
posyandu adalah program pemantau status gizi (PSG) anak balita. Laporan tahunan proyek peningkatan tahun
2000-2001 dan 2001 – 2002 Dit Bina Gizi Keluarga tampak bahwa status gizi
balita terbanyak pada katagori normal 67,1 dam 71,6. sedangkan kekurangan
Energi Protein total 20,9% dan 18,0% ( Depkes RI, 2003)
Berbagai upaya untuk mengatasi
masalah gizi telah dilakukan oleh pemerintah, antara lain melalui Program Upaya
Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), pemberian kapsul Vitamin A untuk anak 1-4
tahun, distribusi kapsul Yodium untuk penduduk daerah rawan gangguan akibat
kekurangan yodium (GAKY), pemberian tablet Fe untuk ibu hamil dan upaya
pemantauan tingkat konsumsi gizi penduduk secara berkala (SKG),serta pemantauan
Status gizi (PSG) anak balita. Pada dasarnya, upaya tersebut dilakukan secara
terpadu antar lintas sector dan lintas
program (Depkes RI, 2003).
Status gizi adalah keadaan gizi
seseorang yang merupakan keadaan tubuhan yang diakibatkan oleh konsumsi,
penyerapan dan pemanfaatan makanan, Status gizi menurut Handayani (2003) adalah
tingkat kesehatan seseorang yang dipegaruhi oleh makanan yang dikonsumsi.
Penilaian status gizi adalah diukur berdasarkan berat badan per
umur dan tinggi badan Standar Harvard
menyatakan bahwa penilaian gizi baik adalah apabila berat badan anak menurut
umur lebih 89%. Gizi kurang, adalah apabila berat badan anak menurut umur
berada diantara 60,1% - 80% dan gizi buruk, adalah apabila berat badan anak
menurut umur 60% atau kurang dari standar
Harvard. (Notoadmojo, 2003)
Keadaan gizi seseorang dikatakan baik
apabila terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan
perkembangan mental. Status gizi adalah keadaan tubuh yang diakibatkan oleh
konsumsi, penyerapan dan pemanfaatan makanan. Status gizi adalah tingkatan
kesehatan seseorang yang dipengaruhi oleh makanan yang di komsumsi (Handayani,
2003).
Gambaran Pengetahuan Kepala Keluarga Tentang Kondisi Rumah Yang Sehat Di Desa
07:59
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang.
Empat program yang menjadi fokus program 100 hari Depertemen Kesehatan, yaitu peningkatan pembiayaan
kesehatan, untuk memberi jaminan kesehatan masyarakat, peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian
target Milenium Development Goals (MDGs) pengendalian penyakit dan penangulangan masalah kesehatan akibat
bencana dan peningkatan ketersediaan, pemerataan kualitas tenaga kesehatan terutama di
daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan
kepulauan (DTPK)
(Mediacom,
2009).
Menurut Hasil Reskesadas tahuh 2010 Dalam memantau akses
terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan sarana
pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan, jenis kloset dan sarana pembuangan
akhir tinja. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau
bersama, kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki
septik atau SPAL. Dalam Riskesdas 2010, pilihan jawaban
pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan
SPAL, sedangkan
pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL). Dari tabel di atas tampak
bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak
sebesar 55,53 persen, paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82,83%) dan
terendah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25,35%). Menurut kualifikasi daerah,
akses terhadap fasilitas sanitasi layak di perkotaan hampir dua
kali lipat (71,45%) dibandingkan dengan di perdesaan (38,55%). Sedangkan menurut
kuintil pengeluaran rumahtangga, semakin tinggi penghasilan semakin
tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak
Upaya penyehatan lingkungan dan perbaikan perumahan merupakan suatu
pencegahan terhadap berbagai kondisi yang mungkin dapat menimbulkan penyakit.
Dari laporan Dinas Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2006 menunjukkan
bahwa jumlah rumah di perkotaan yang memenuhi syarat kesehatan diperkirakan
sebanyak 70,84%, cakupan pengguna jamban sebesar 68.91% dan cakupan penggunaan
SPAL sebanyak 54,76%. Sedangkan di pedesaan jumlah rumah yang memenuhi syarat
kesehatan sebanyak 44,19%, cakupan pengguna, jamban sebesar 41,12% dan cakupan
pengguna SPAL sebanyak 42,51 % (Profil Kesehatan NAD, 2006).
Pada tahun 2007 telah dilakukan pemeriksaan rumah sehat di beberapa
Kabupaten /Kota di Propinsi NAD menunjukkan kondisi 42,20% dinyatakan sehat
dari 401.780 rumah yang dilakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan rumah di
seluruh Kabupaten / Kota memiliki rumah sehat di bawah 50 % sedangkan target
dari indikator Indonesia sehat 2010 adalah 80 %. Sedangkan keluarga dengan
kepemilikan sarana sanitasi dasar dari hasil pendataan yang dilakukan oleh
Kabupaten / Kota yaitu ketersediaan air bersih mencapai 64,99% ketersediaan
jamban keluarga 68,54% ketersediaan tempat sampah 52,12% dan tempat pengelolaan
air limbah keluarga 38,36%. Dari data yang ada program sosialisasi terhadap
masyarakat untuk membangun rumah sehat perlu terus dilakukan sehingga
pencegahan terhadap penyakit vektor dapat diperkecil dan penyebab penyakit
lainnya dari lingkungan sekitar rumah, kepemilikan sanitasi dasar yang meliputi
persediaan air bersih, jamban keluarga, tempat sampah dan pengelolaan air
limbah rumah tangga keseluruhan hal tersebut sangat diperlukan di dalam
peningkatan kesehatan lingkungan. (Profil Kesehatan NAD, 2007).
Subscribe to:
Posts (Atom)










