Saturday, 15 June 2013
Hubungan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Memberikan Susu Formula Pada Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas
21:53
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air susu ibu adalah merupakan makanan yang
terbaik bagi bayi dan juga
sebagai zat pelindung yang dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi pada bayi, karena kandungan ASI sesuai untuk
masa pertumbuhan dan perkembangan
bayi. ASI mengandung sel darah putih, anti bodi, hormon serta zat yang dapat membunuh bakteri dan virus,
sehingga angka kesakitan dan angka
kematian bayi berkurang, karena ASI dapat mencegah reaksi alergi dan asma. ASI mempunyai suhu yang sesuai dan ASI
lebih mudah disiapkan dan lebih
mudah dicerna (Roesli, 2008).
Berdasarkan rekomendasi dari World Health Organization
(WHO) dan UNICEF di
Geneva pada tahun 1979 menyusui merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi
secara ideal dan alamiah serta
merupakan dasar biologik dan psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Dengan alasan
apapun susu formula harus dihindarkan
karena susu formula mudah terkontaminasi oleh kuman dan dalam pemberian susu formula harus disesuaikan dengan
takaran susu dan umur bayi. Apabila takaran susu tidak
sesuai maka mengakibatkan diare (Sarwono, 2003).
Bayi yang diberi susu susu formula mengalami kesakitan
diare 10 kali lebih banyak yang menyebabkan angka kematian bayi juga 10 kali
lebih banyak, infeksi usus karena bakteri dan jamur 4 kali lipat lebih banyak, sariawan
mulut karena jamur 6 kali lebih banyak. Penelitian di Jakarta memperlihatkan persentase kegemukan atau
obesitas terjadi pada bayi yang mengkonsumsi
susu formula sebesar 3,4 % dan
kerugian lain menurunnya tingkat
kekebalan terhadap asma dan alergi (Dwinda, 2006).
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia
(SDKI) (2010), angka kematian
bayi di Indonesia sebesar 25/1000
kelahiran hidup. Angka kesakitan dan
angka kematian bayi ditimbulkan salah satunya disebabkan dari dampak susu formula tersebut. Tidak semua bayi dapat
menikmati ASI secara eksklusif dari
ibu, hal ini dikarenakan oleh berbagai keadaan tertentu misalnya, keluarga ibu yang memutuskan untuk tidak menyusui bayi
karena adanya suatu penyakit,
misalnya: tuberculosis (TBC), atau Acuired Immunodeficiency Syndrom (AIDS). Dengan keadaan tersebut cara
lain untuk memenuhi kebutuhan
gizi pada bayi adalah dengan memberikan susu formula sebagai Pengganti Air Susu Ibu (PASI) (Roesli, 2008).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Cohen
dan kawankawan di Amerika pada tahun 1995 diperoleh bahwa 25% ibu-ibu yang memberikan
ASI secara eksklusif pada bayi dan 75% ibu-ibu yang memberikan susu formula
pada bayi. Bayi
yang mendapatkan ASI secara eksklusif lebih jarang terserang penyakit
dibandingkan dengan bayi yang memperoleh
susu formula, karena susu formula memerlukan alat-alat yang bersih dan perhitungan takaran susu yang tepat
sesuai dengan umur bayi. Hal ini
membutuhkan pengetalruan ibu yang cukup tentang dampak pemberian susu formula (Roesli, 2006).
Angka kejadian dan kematian akibat diare pada
anak-anak di Negara Negara berkembang masih tinggi, lebih-lebih pada anak
yang sedang mendapat susu
formula dibandingkan dengan anak yang mendapat ASI. Meningkatnya penggunaan susu formula dapat rnenimbulkan
barbagai masalah, misalnya kekurangan
kalori protein tipe marasmus, moniliasis pada mulut, dan diare karena infeksi (Soetjiningsih, 2004).
Di Indonesia masih banyak ibu-ibu yang tidak
memberikan ASI secara
eksklusif
padabayi, karena
kaum.ibu lebih suka memberikan susu formula dari ada memberikan ASI. Hal ini disebabkan oleh
pekerjaan ibu penyakit ibu serta ibu-ibu
yang beranggapan bahwa apabila ibu menyusui maka payudaranya menjadi kendur (Soetjiningsih, 2004).
Presentasi
kaum ibu-ibu yang berada di pedesaan yang memberikan ASI pada
bayinya sebesar 80-90% sampai bayi berumur lebih dari 1 tahun. Tetapi dengan
adanya iklan dan sumber informasi tentang susu formula maka kecendrungan
masyarakat untuk meniru gaya hidup modem. Di Jakarta lebih dari
5Ao/o bayi yang berumur 2 bulan telah mendapat susu formula karena pada awalnya
calon ibu tidak diberikan penjelasan dan penl.uluhan tentang pemberian ASI
eksklusif (Soetjiningsih, 2004).Friday, 14 June 2013
Gambaran Pengetahuan Bidan Terhadap Pencegahan Infeksi Di Wilayah Kerja Puskesmas
22:24
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Persalinan yang bersih dan aman
sebagai pilar ketiga Safe Motherhood yang di kategorikan sebagai pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan, pada tahun 2005 baru mencapai 60 %
(Saifuddin, 2006 : 7). Pencegahan infeksi merupakan aspek ketiga dari Lima
Benang Merah yang terkait dalam asuhan perasalinan yang bersih dan aman dan
juga merupakan salah satu usaha untuk melindungi ibu dan bayi baru lahir
(Depkes RI 2004 : 1-1).
Infeksi adalah adanya suatu organisme
pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal
maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah
sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau
setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Sama seperti infeksi lain,
penyebaran infeksi nosokomial juga dapat terjadi melalui kontak fisik maupun
udara. Penyebaran melalui kontak fisik yang paling sering terjadi adalah
penyebaran virus, jamur atau bakteri dari pasien ke petugas medis dan dari
petugas medis ke pasien lainnya, dalam hal ini petugas medis bertindak sebagai
perantara penyebaran. Selain melalui kontak langsung manusia, infeksi
nosokomial juga dapat melalui peralatan medis yang tidak steril dan lingkungan
rumah sakit. Penyebaran melalui udara dapat terjadi karena virus atau bakteri
dapat hidup di udara terbuka dalam jangka waktu yang cukup lama. Virus mungkin
terdapat pada partikel debu dan menjadi aktif ketika terhirup oleh pasien atau
petugas medis. Untuk pencegahan penyebaran melalui udara maka disarankan anda
menggunakan masker saat berada pada area tertentu di rumah sakit.
Tindakan pencegahan infeksi adalah
bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan kepada ibu dan bayi baru
lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan
kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal/pasca
persalinan/bayi baru lahir/saat menatalaksana penyulit. Tindakan ini harus
diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir,
keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya. Juga upaya-upaya
menurunkan resiko terjangkit atau terinfeksi mikroorganisme yang menimbulkan
penyakit-penyakit berbahaya (Buku Acuan APN, 2004 : 1-8). Mengingat bahwa
infeksi dapat ditularkan melalui darah, sekret vagina, air mani, cairan amnion
dan cairan tubuh lainnya maka setiap petugas yang bekerja di lingkungan yang
mungkin terpapar hal-hal tersebut mempunyai resiko untuk tertular bila tidak
mengindahkan prosedur penegahan infeksi (Saifuddin, 2006:15).
Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Penyakit Insomnia Di Wilayah Kerja Puskesmas
21:53
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang.
Empat program yang menjadi fokus program 100 hari Depertemen Kesehatan, yaitu
meningkatkan pembiayaan kesehatan, dengan memberi jaminan kesehatan masyarakat,
meningkatkan kesehatan masyarakat dengan mempercepat pencapaian targer Melenium
Development Gol (MDGs) mengendalikan penyakit dan penangulangan masalah kesehatan akibat
bencana dan meningkatkan ketersediaan, pemerataan kualitas tenaga kesehatan
terutama didaerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kepulauan (TTPK) secara
berkesinambungan (Mediacom, 2009).
Insomnia dapat diartikan sebagai
suatu keadaan yang mana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur atau tidak
dapat tidur dengan nyenyak. Rata rata setiap orang pernah mengalami insomnia
sekali dalam hidupnya. Bahkan ada yang lebih ekstrim menyebutkan 30 – 50%
populasi mengalami insomnia. (Wiki, 2010)
Insomnia dapat menyerang semua
golongan usia. Meskipun demikian, angka kejadian insomnia akan meningkat
seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini mungkin disebabkan oleh stress yang
sering menghinggapi orang yang berusia lebih tua. Disamping itu, perempuan
dikatakan lebih sering menderita insomnia bila dibandingkan laki laki. (Wiki,
2010)
Sebuah survei dari 1,1 juta penduduk
di Amerika yang
dilakukan oleh American
Cancer Society menemukan bahwa mereka yang dilaporkan tidur sekitar
7 jam setiap malam memiliki tingkat kematian terendah, sedangkan orang-orang
yang tidur kurang dari 6 jam atau lebih dari 8 jam lebih tinggi tingkat
kematiannya. Tidur selama 8,5 jam atau lebih setiap malam dapat meningkatkan
angka kematian sebesar 15%. Insomnia kronis - tidur
kurang dari 3,5 jam (wanita) dan 4,5 jam (laki-laki) juga dapat menyebabkan
kenaikan sebesar 15% tingkat kematian. Setelah mengontrol durasi tidur dan insomnia,
penggunaan pil tidur juga berkaitan dengan peningkatan angka kematian. (Wiki,
2010)
Penduduk Indonesia tahun 2004
berjumlah 238,452 juta ada sebanyak 28,053 juta orang Indonesia yang terkena
insomnia atau sekitar 11,7%. Data ini hanya berdasarkan indikasi secara umum
tidak memperhitungkan faktor genetik, budaya, lingkungan, sosial, ras. Jumlah
ini bisa terus bertambah seiring dengan perubahan gaya hidup (Nurmiati, 2010).
Subscribe to:
Posts (Atom)










