Monday, 21 January 2013
Tumor Laring
17:39
No comments
Larinx
organ suara, saluran yang terletak di antara faring bagian bawah dengan trakea,
terdiri atas pita suara dan dibentuk oleh sembilan cartilago, cartilago
thyroidea, cricoidea dan epiglottis dan sepanjang cartilago arytenoidea,
corniculata dan cuneifotris (Dorland, 2011)
Tumor
ganas laring merupakan tumor ganas ketiga menurut jumlah tumor ganas di bidang
THT dan lebih banyak terjadi pada pria berusi 50-70 tahun yang tersering adalah
jenis karsinoma sel skuamosa (Manjoer, 2001)
Faktor
predisposisi adalah merokok, alkohol dan
paparan sinar radioaktif, manifestasi klinis suara parau diderita cukup lama
tidak hilang timbul, makin lama makin berat kadang terdapat hemoptisis. Sesak
nafas akibat tertutupnya jalan nafas oleh tumor, batuk dengan riak bercampur
darah, dan penurutan berat badan (Manjoer, 2001)
Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti. Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan
peminum alkohol merupakan kelompok orang-orang dengan resiko tinggi terhadap
karsinoma laring. Penelitian
epidemiologik menggambarkan beberapa hal yang diduga menyebabkan terjadinya
karsinoma laring yang kuat ialah rokok, alkohol dan terpapar oleh sinar
radioaktif. (Hidayat, 2008)
Tumor ini dapat digolongkan dalam 2 jenis Papiloma laring juvenil,
ditemukan pada anak, biasanya berbentuk multipel dan mengalami regresi pada
waktu dewasa. Pada orang dewasa biasanya berbentuk
tunggal, tidak akan mengalami resolusi dan merupakan prekanker (Tjokronego, 2000).
Pembesaran tonsil
diukur menurut derajatnya terhadap uvula. Semakin besar, akan semakin mendekati
ukula. Besar tonsil ditentukan sebagai berikut: T0 tonsil didalam fosa tonsil
atau telah diangkat, T1 bila besarnya ¼ jarak arkus anterior dan uvula. T2 Bila
besarnya 2/4 Jarak arkus anterior dan uvula. T3 bila besarnya ¾ jarak arkus
anterior dan uvula. T4 bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih (Hidayat, 2008).
Gejala papiloma laring yang utama ialah suara parau. Kadang-kadang terdapat pula batuk. Apabila papiloma telah menutup rima glotis
maka timbul sesak nafas dengan stridor (Hidayat, 2008).
Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan pada pasien Tn. N dengan Tumor Laring ini
dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang
dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses
perawatan sehingga dapat ditentukan diagnosa keperawatan agar bisa direncanakan
dan dilaksanakan tindakan yang dilakukan berupa pemasangan infus, memberian
obat secara oral yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia.
Kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan
ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks. (A. Aziz, 2004).
KETUBAN PECAH DINI
17:11
No comments
A. Konsep Ketuban Pecah Dini
Ketuban
dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban
pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetri berkaitan dengan penyulit
kelahiran prematur dan terjadinya infeksi khorioamnionitis sampai sepsis yang
meningkatkan morbiditas dan mortilitas perinatal, dan menyebabkan infeksi ibu. Ketuban pecah dini disebabkan
oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya takanan intrauterin
atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh
adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Penanganan ketuban
pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi; adanya infeksi pada koplikasi
ibu dan janin, dan adanya tanda-tanda persalinan (Saifuddin, 2006).
Diagnosis
membutuhkan melihat cairan amnion keluar dari serviks atau di dalam vagina,
melakukan uji-coba reaksi pH basa (nitrazin positif), dan uji coba gambaran
daun pakis (ferning). Ini harus dilaksanakan pada waktu melakukan pemeriksaan
vagina dengan spekulum steril. Pada waktu pemeriksaan pertama ini perlu dilakukan pemeriksaan kultur
serviks terhadap streptokokus beta grup B, klamedia, dan gonore (pada populasi
tertentu), memastikan tidak ada penumbungan tali pusat, dan mengetahui
penipisan dan pembukaan serviks. Terjadinya infeksi kemudian mempunyai korelasi
tinggi dengan jarak waktu (dalam jam) dari periksa dalam pertama. Oleh sebab
itu periksa dalam harus dihindari kecuali pasien jelas berada dalam persalinan
atau telah ada keputusan untuk melahirkan. Pemeriksaan ultrasonografi berguna
untuk menentukan usia kehamilan, berat janin, volume cairan ketuban, letak
janin, adanya kehamilan ganda, dan sembarang malformasi janin. Jika diagosis
KPD disangsikan, pemasukan 35 mL larutan oftalmologik flouresents steril, yang
diikuti dengan inspeksi ke dalam vagina di bawah sinar iluminasi gelap untuk
menyaksikan ciri khas gambaran fluoresens, biasanya akan menjelaskan masalah (Rayburn, 2005).
Tanda-tanda
dari ketuban pecah dini adalah Keluarnya cairan berupa air-air dari vagina
setelah kehamilan berusia 22 minggu. Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi
sebelum proses persalinan berlangsung. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi
pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm
(Manuaba, 2006)
1. Penilaian klinik
Menurut Saifuddin, 2006 penilaian klinik ketuban pecah dini
adalah
a. Tentukan
pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina,
jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau
meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan
dengan tes lakmus (Nitrazin test)
merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia
kehamilan, kelainan janin.
b. Tentukan
usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
c. Tentukan
ada tidaknya infeksi, tanda-tanda infeksi : bila suhu ibu ≥38◦c, air ketuban
yang keruh dan berbau. Pemeriksaan air ketuban dengan tes LEA (Lekosit
Esterase) Lekosit darah > 15.000/mm. Janin yang mengalami takhikardi,
mungkin mengalami infeksi intrauterin.
d. Tentukan
tanda-tanda in partu. Tentukan adanya kontraksi yang teratur, periksa dalam
dilakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminasi kehamilan) antara
lain untuk menilai skor pelvik.(Saifuddin, 2006)
Sedangkan
menurut Manuaba (2006) Tanda ketuban pecah dini adalah
a. Keluarnya
cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu.
b. Ketuban
dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung
c. Pecahnya
selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37
minggu maupun kehamilan aterm
2.
Penanganan
Menurut Manuaba, 2006 penanganan ketuban pecah dini
adalah sebagai berikut:
-
Konfirmasi usia
kehamilan, kalau ada dengan USG
-
Lakukan pemeriksaan
inspekulo (dengan spekulum DTT) untuk
menilai cairan yang keluar (jimlah, warna, bau) dan membedakannya dengan
urin.
-
Jika ibu mengeluh
perdarahan pada akhir kehamilan (setelah 22 minggu), jangan lakukan pemeriksaan
dalam secara digital
-
Tentukan ada tidaknya
infeksi
-
Tentukan tanda-tanda
inpartu
Penanganan Khusus
Konfirmasi
Diagnosis
-
Bau cairan ketuban yang
khas
-
Jika keluarnyacairan
ketuban sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian.
-
Dengan spekulum DTT,
lakukan pemerikan inspekulo. Nilai apakah cairan keluar melalui ostium uteri
atau terkumpul di forniks posterior.
Jika memungkinkan, lakukan :
-
Tes Lakmus (tes
nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya
cairan ketuban (alkalis). Darah dan infeksi vagina dapat menghsilkan tes yang
positif palsu.
-
Tes Pakis, dengan
meneteskan cairan ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan
mikroskopik menunjukkan kristal cairan amnion dan gambaran daun pakis (Manuaba,
2006)
Sedangkan menurut Rayburn,
(2005) penanganan ketuban pecah dini adalah sebagai berikut:
-
Para dokter spesialis obstetri
perlu mempertimbangkan risiko relatif prematuritas dan infeksi. Resiko ini bisa
bervariasi pula menurut usia kehamilan. Bilamana mungkin, data setempat harus
juga diperhatikan dalam membina sebuah protokol penanganan suatu institusi.
Diskusi dengan para staf neonatus penting dan mendorong rujukan ibu ke pusat
perawatan tingkat tiga jika diantisipasi akan terjadi sepsis pada bayi
prematur. Namun adalah patut tetap sadar akan prinsip-prinsip umum tertentu.
-
Menetapkan tanggal sangat sukar
setelah terjadi KPD. Oligohidromnion yang terjadi menekan tinggi fundus uteri
dan mengganggu evaluasi ultrasonografi. Diamete bipariental dan lingkar perut
bisa jadi lebih kecil secara palsu, tetapi pengukuran panjang femur biasanya
relatif masih dapat dipercaya.
-
Status janin yang tidak menyenangkan, terutama akibat tekanan tali
pusat, jauh lebih sering terjadi daripada persalinan prematur idiopatik. Hal
ini terutama benar jika ada kesalahan letak
anak (letak bokong, letak lintang dorsosuperior). Pada penderita yang
janinnya tedlah mencapai usia kehamilan yang potensial untuk hidup, evaluasi
pertama harus meliputi monitoring janin secara elektronik yang lama.
Selanjutnya, wanita hamil itu diperintahkan mencatat gerakan janin harian,
karena kegiatan janin tidak tergangguan oleh KPD. Uji-coba nonstres lama dan
profil biofisik janin harus dilakukan pada interval 24-48 jam.
-
Banyak kasus KPD preterm,
sebagaimana juga sepertiga kasus kelahiran prematur idiopatik, bisa jadi
disebabkan oleh infeksi intraamnion subklinik. Produk asli tuan rumah (sitokin)
yang dikeluarkan sebagai respon terhadap infeksi bisa juga didapat di dalam
cairan amnion pasien-pasien ini. Sitokin-sitokin ini, meliputi interleukin-1,
interleukin-6, interleukin-8, dan faktor nekrosis tumor (cachetin) adalah hasil
sekresi aktivasi makrofag.
-
Diperlukan penyelidikan untuk
mendeteksi infeksi intraamnion yang potensial. Suhu tubuh ibu harus sering
diukur setiap hari. Adanya kenaikan hitung lekosit bisa melengkapi keterangan
yang memperkuat adanya kenaikan hitung lekosit bisa melengkapi keterangan yang
memperkuat adanya infeksi klinik yang diduga, tetapi telah berulang kali
diperlihatkan bahwa tidaklah boleh memberikan nilai ramalan yang berlebihan
daripada tanda-tanda klinis yang ada. Oleh sebab itu pemantauan dengan melakukan
hitung darah harian tampaknya tidak dibenarkan. Walaupun tidak biasanya
disuruh, uji-coba C-reaktif protein bisa melengkapi keterangan laboratorium
lebih lanjut tentang infeksi dengan adanya kenaikan hitung lekosit.
Amniosentesis untuk pewarnaan Gram, kultur, dan sensitivitas bisa dikerjakan
pada kira-kira 50-60% wanita dengan KPD. Adanya bakteri pada pewarnaan Gram dari cairan amnion (atau kultur positif
pada pemeriksaaan selanjutnya) disertai oleh tanda klinik infeksi ibu atau
neonatus pada 50-60% pasien. Para penyelidik lain melaporkan bahwa pengurangan
volume cairan ketuban yang berketerusan, uji-coba non-stres yang nonreaktif,
dan profil biofisik yang abnormal mempunyai nilai ramalan yang sebanding atau
lebih baik akan adanya infeksi dalam populasi ini.
-
Penderita KPD seringkali
memperlihatkan kematangan paru janin pada usia kehamilan yang relatif lebih
muda. Jika dapat diperoleh cairan ketuban yang keluar di dalam vagina, rasio
lesitin/spingomielin sangat serupa dengan yang diperoleh langsung melalui vagina
tidak bisa didapatkan pada amniosentesis. Bila cairan yang keluar melalui
vagina tidak bisa di dapatkan, haruslah dipikirkan melakukan amnionsentesis
jika sesuai dengan keadaan klinik.
-
Umumnya penelitian yang
dilakukan secara acak memperlihatkan sedikit sekali atau tidak ada faedah terapi tokolitik
intravena pada kehamilan yang berkomplikasi KPD. Sekalipun dianggap
kontroversial, umumnya para pakar obstetri menganjurkan pemakaian
kortikostreoid pada keadaan ini untuk mempercepat pematangan paru janin (Rayburn,
2005)
3.
Saat terjadinya ketuban pecah dini
a. Pada Waktu Aterm
Sembilan puluh persen pasien dengan
KPD akan memasuki partus spontan dalam masa 24 jam dan tidak banyak menimbulkan
problem penanganan. Beberapa penelitian memperlihatkan kenaikan kematian
perinatal dan infeksi dengan streptokokus group B bila masa laten melewati 24 jam. Kami mengikuti kebijaksanaan memulai
induksi atau mempercepat partus selagi masih berada dalam masa antar waktu ini.
Sebaliknya, mencoba dengan agresif melakukan induksi pada gravida yang
serviknya masih panjang dan tertutup (nilai Bishop tidak baik) biasanya akan
disertai oleh kenaikan persalinan operatif. Oleh sebab itu, diperlukan
penanganan ekspektatif atau mempergunakan produk prostaglandin E, intravagina, dengan
tetap berhati-hari mengevaluasi infeksi dan FHR (Fetal Heart Rates) yang
abnormal.
b. Minggu ke 34-37
Pada kelompok pasien ini, risiko
penyakit selaput hialin (hyaline membarane disease) pada neonatus sangat kecil
bila partus terjadi setelah 16 jam atau lebih sejak ketuban pecah. Pada banyak
kesempatan kami melakukan induksi dengan oksitosin untuk mengupayakan
pengakhiran kehamilan segera setelah
masa 24 jam. Bila nilai Bishop sangat tidak baik, penanganan konservatif
dapat diterima.
c. Minggu ke 24-33
Pada subpopulasi ini risiko
ketidakmatangan paru lebih besar daripada risiko infeksi. Kepada mereka berlaku
penanganan konservatif sebagaimana digariskan di atas. Kepada pasien
diberitahukan bahwa sekalipun dengan terapi konservatif, kira-kira 50% penderita
akan partus dalam masa 24 jam dan 75% dalam masa 5 hari.
d. Sebelum 24 Minggu
Kepada sembarang pasien dengan KPD
pada kehamilan di bawah 24 minggu harus diberi keterangan bahwa kemungkinan
pulang dari rumah sakit dengan membawa pulang anak yang hidup sangat kecil,
mungkin sebesar 25%. Banyak dari bayi ini akan menderita hipoplasi paru-paru
dan/atau deformitas ortopoli, meninggal dalam kandungan, atau lahir pada usia
kehamilan ibu yang sangat muda. Selain itu, bayi yang hidup dengan berat badan
750 gram atau kurang adalah berisiko tinggi untuk mengalami kerusakan
pertumbuhan atau kurang adalah berisiko tinggi untuk terminasi kehamilan harus
didiskusikan tentunya. Pasien bisa memilih terapi konservatif dengan harapan
janin akan bertumbuh dan matur meskipun mempunyai nasib yang tidak baik
(Rayburn, 2005
KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN KETUBAN PECAH DINI DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM
17:06
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan
penelitian WHO (Woldh Health Organization) di seluruh dunia terdapat
kematian ibu sebesar 500.000 jiwa / tahun
dan kematian bayi khususnya neonatus sebesar 10.000.000
jiwa/tahun. Kematian maternal dan bayi tersebut terjadi terutama di
Negara berkembang sebesar 99 %. Walaupun jumlah sangat besar, yang menarik
perhatian karena kejadian tersebar (Sporadis).
Sebenarnya kematian ibu dan bayi mempunyai
peluang yang sangat besar untuk dihindari dengan meningkatkan kerja sama
antara pemerintah dan swasta serta badan pemerintah lainnya (Munuaba, 2005).
Tingginya
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yaitu 228/100.000 kelahiran hidup (SKRT,
2008) dibandingkan Angka Kematian Ibu (AKI)
Negara-negara ASEAN
lainnya mengharuskan
Depertemen Kesehatan membuat kebijaksanaan pelayanan obsteri dan neonatus
(kebidanan dan bayi baru lahir) sedekat mungkin kepada ibu sesuai dengan
pendekatan Making Pregnancy Sefer (MPS). Visi utama dari MPS adalah kehamilan
ibu dan persalinan berlangsung aman serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat. Menurunkan angka kematian ibu
(maternal) menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup
dan angka kematian neonatus (neonatal) menjadi 16/100.000 kelahiran.
Untuk mencapai sasaran tersebut di tetapkan srategis utama dan azas-azas pedoman operasionalisasi srategis
antara lain bahwa MPS memusatkan perhatiannya pada pelayanan kesehatan maternal
dan neonatal
yang baku serta cost effective (Depkes RI, 2008).
Salah satu tujuan progam Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) adalah meningkatkan kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu
dan anak. Dalam keluarga, ibu dan anak merupakan kelompok yang yang paling
rentan terhadap berbagai masalah kesehatan seperti kesakitan dan gangguan gizi
yang sering kali berakhir dengan kecacatan dan kematian. Untuk mewujudkan
kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu dan anak maka salah satu
upaya program adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga melalui
pengunaan Buku Kesehatan Ibu Dan Anak (Buku KIA) (Depkes RI, 2003).
Komplikasi kehamilan dan persalinan
dialami oleh 15 – 20 % dari seluruh kehamilan dan kebanyakan terjadi di sekitar
saat persalinan. Terjadinya komplikasi sulit diperkirakan sehingga sering
muncul secara mendadak. Pertolongan terhadap komplikasi ini memerlukan tindakan
yang cepat dan tepat (dalam waktu kurang dari 2 jam) agar nyawa ibu dan janinnya
dapat diselamatkan (Depkes RI, 2004).
Penyebab
langsung kematian ibu terutama disebabkan pendarahan 50%, Eklamsi 13 %,
Infeksi 10%, Komplikasi Abortus 11%,
partus lama 9%, sedangkan
penyebab tidak langsung antara lain Untuk ibu hamil menderita KEP 37 %
Anemia (Hb < 11 gr%) 40 %. Kejadian anemia pada ibu hamil akan meningkatkan
resiko terjadinya kematian ibu dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia
(Depkes RI, 2005).
Ketuban
pecah dini (KPD) adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi pada sembarang
usia kehamilan sebelum persalinan
dimulai. Masa laten biasanya berlangsung sekurangnya satu jam. Insidensi KPD
berkisar dari 4,5% sampai 7,6% dari seluruh kehamilan. KPD preterm terjadi pada
kira-kira 1% kehamilan dan jelas merupakan problema yang lebih menantang untuk
para dokter spesialis obstetric (Rayburn, 2005).
Ketuban
pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya
takanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan
membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan
serviks. Penanganan ketuban pecah dini memerlukan pertimbangan usia gestasi;
adanya infeksi pada koplikasi ibu dan janin, dan adanya tanda-tanda persalinan
(Saifuddin, 2006).
Permasalahan Ketuban pecah
dini (KPD) adalah usia ibu hamil
yang terlempau muda atau kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jumlah
melahirkan yang tinggi dari seorang ibu serta pekerjaan ibu yang merupakan
penyabab terbanyak dari kejadian Ketuban pecah dini
(KPD).
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR (WUS) TENTANG PAP SMEAR
17:00
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kanker
serviks adalah penyakit kanker yang terjadi pada
daerah leher rahim. Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan
pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama
wanita (vagina). Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus
(HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher
rahim, apabila telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke
organ-organ lain di seluruh tubuh penderita (Mansjoer, 2006)
Badan Kesehatan Dunia (WHO)
mengatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di
antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia.
Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker
serviks.Sekitar 8000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Menurut WHO,
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks yang
tertinggi di dunia. Mengapa bisa begitu berbahaya? Pasalnya, kanker serviks
muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit
telah mencapai stadium lanjut (WHO, 2008).
Pap smear
sebagai alat diagnosis dini kanker serviks telah dilakuka sejak tiga dasa warsa
terakhir. Di negera-negara maju, pap smear telah terbukti menurunkan kejadian
kanker serviks invasif 46-76% dan metalitas kanker serviks 50-60%. Berbeda
dengan Indonesia, pap smear belum terbukti mampu meningkatkan temuan kanker
serviks stadium dini dan lesi perkanker. Hal ini dikarenakan bawa kuantitas
sumber daya manusia yang rendah, prosedur tes pap smear yang komplek, akurasi pap smear yang sangat bervariasi
dengan negatif palsu yang tinggi serta sistem pelaporan yang kurang praktis , wilayah Indonesia sangat
luas yang terkait dengan kesulitan transportasi dan komunikasi, dan para wanita
sering enggan diperiksa karena ketidak tahuan, rasa malu, rasa takut, dan
faktor biaya. Hal ini umumnya karena masih rendahnya tingkat pendidikan
penduduk Indonesia. (Triayadi, 2007)
Dari hasil penelitian oleh tim Rumah Sakit
Kanker Darmais Jakarta menunjukkan bahwa tiap jenis kanker mempunyai banyak faktor dan tahapan yang
mengarah pada terjadinya perubahan sel normal menjadi sel kanker. sekitar 5 –
10% dari kanker terjadi akibat adanya kelainan genetika yang diturunkan.
Anggota keluarga dengan faktor genetic ini mempunyai resiko yang meningkat
untuk timbulnya tipe tertentu kanker. misalnya sindroma Li-Fraumeni, dan adanya
kecendrungan bentuk familier pada kanker payudara (RS.Kanker Darmais, 2003)
Subscribe to:
Posts (Atom)










