This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 22 March 2013

Susu Formula



PASI adalah singkatan penganti air susu ibu dan umumnya berupa susu formula. PASI merupakan makanan bayi yang dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. PASI dapat diberikan dalam keadaan dimana bayi harus dipisahkan dari ibunya, misalnya jika ibu memderita sakit parah atau menular bayi dapat diberikan PASI sesuai dengan petunjuk dokter .
Pada waktu ini puluhan macam susu formula beredar di pasaran, umumnya bahan dasar susu formula adalah susu sapi, tetapi sebagian ada juga terbuat dari susu kedelai dan ditambah dengan bahan- bahan lainnya. Susu formula diproduksi khusus sebagai makanan bayi. Disamping itu ada pula susu formula yang khusus dibuat untuk bayi yang mempunyai kelainan-kelainan metabolism sejak lahir. Semua jenis susu formula dapat diperoleh di toko-toko dengan harga yang relative mahal, kurang terjangkau bagi sebagian masyarakat (Suhardjo, 2000).
Air susu ibu bukan sekedar sebagai makanan, tetapi juga sebagai suatu cairan yang terdiri dari sel-sel yang hidup (seperti darah). ASI mengandung sel darah putih , antibodi, hormon, faktor-faktor pertumbuhan, mengandung enzim serta zat yang dapat membunuh bakteri dan virus. Sedangkan Susu formula adalah cairan yang berisi zat yang mati. di dalamnya tidak ada sel hidup seperti sel darah putih, zat pembunuh bakteri, antibodi, mengandung enzim, hormon dan juga tidak mengandung faktor pertumbuhan (Roesli, 2008).
Kerugian pemberian Susu formula.
 a). Menurunkan jalinan kasih sayang antara ibu dan anak.
b). Komposisi zat tidak sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan kebutuhan bayi yang selalu berubah,
c). Bisa menyebabkan alergi dan asma.
 d).Tidak dapat melindungi bayi dari penyakit, bayi dengan susu formula  kemungkinan dirawat dirumah sakit dua kali lebih sering dibandingkan dengan yang memberi ASI eksklusif.
e).  Bayi yang diberi susu formula lebih sering menderita diare, kematian bayi mendadak, penyakit hati, kurang gizi dan busung lapar. 
 f). Menurut WHO setiap tahun terdapai 1 – 1,5 juta bayi yang meninggal karena tidak diberi ASI eksklusif.
g). Susu Formula mahal, dan sulit menyiapkannya serta sulit dicerna bayi.
h).  Suhu susu formula tidak tepat. i) Susu Formula memerlukan tempat bila bepergian.
 j). Susu Formuila tidak dapat menghindari dari kegemukan.
 ASI merupakan makanan otak yang tepat selama tahun pertamaserta dapat meningkatkan IQ bayi sampai 12,9 poin, sedangkan  susu formula tidak meningkatkan IQ.
      1. Pemberian Susu Formula
Bayi yang diberi susu formula sangat rentan terserang penyakit, berikut penyakit yang mengintai bayi susu formula:
a).  Insfeksi saluran pernafasan.
b). Inspeksi saluran pencernaan,
c). Meningkatkan resiko alergi, meningkatkan resiko terserang asma, menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif meningkatkan resiko kegemukan, Meningkatkan resiko penyakit jantung dan membuluh darah menigkatkan resiko kencing manis (diabetes) meningkatkan resiko kanker ada anak, Meningkatan resiko penyakit menahun, Meningkatkan resiko infeksi saluran tengah. Meningkatkan resiko infeksi yang berasal dari susu  formula yang tecemat, meningkatkan resiko efek samping zat pencemar lingkungan, meningkatkan kurang gizi. Meningkatkan resiko kehamilan (Roesli, 2008).
1.      Pemberian susu botol
Botol susu dan dot lebih sulit dibersihkan dan mudah tercemar oleh bakteri ataupun kuman penyakit. Susu botol tidak mengandung zat kekebalan karena itu bayi/anak sering menderita sakit, terutama diare. Susu botol  harganya mahal, karena harus diproses dari susu sapi. Memerlukan peralatan yang tidak sedikit serta penyediaannya sangat merepotkan dan   besar kemungkinan alergi (Depkes RI, 2005).
Tabel 1
Perbandingan manfaat dan bahaya ASI dan Susu Formula
No
Perbandingan
ASI
SUSU FORMULA
1
Pencemaran Bakteri
Tidak ada
Mungkin ada
2
Zat anti Infeksi
banyak
Tidak ada
3
Protein
-          Kasein (%)
-          Whey (%)


40
60

80
20
4
Asam amino - taurin
Cukup untuk pertumbuhan otak
Tidak ada
5
Lemak
Ikatan panjang untuk pertumbuhan otak
Ikatan pendek dan sedang
6
Kolestrol
Cukup untuk pertumbuhan otak
Tidak cukup
7
Lipase untuk mencerna lemak
ada
Tidak ada
8
Laktosa/gula (%)
7 (cukup)
3-4 (tidak cukup)
9
Garam
Tepat untuk pertumbuhan
Terlalu banyak
10
Mineral
-          Kalsium
-          Fosfat

350 (tepat)
150 (tepat)

1440 (terlalu banyak)
900 (terlalu banyak)_
11
Zat Besi
Jumlah sedikit baik diserap
Jumlah sedikit Diserap tidak baik
12
Vitamin
Cukup
Tidak cukup
13
Air
Cukup
Diperlukan lebih banyak
Sumber, Rusli, 2007

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA BAYI USIA 0-6 BULAN



Pemberian ASI sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya. Faktor keberhasilan dalam menyusui adalah  dengan menyusui sejak dini dengan benar dan eksklusif. Oleh karena salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana ibu yang bekerja dapat tetap memberi ASI kepada bayinya secara eksklusif selama enam bulan pertama dan sampai anak berusia 2 tahun. Sehubungan dengan hal tersebut telah ditetapkan dengan Kepmenkes RI No.450/Menkes/VI/2004 tentang pemberian ASI secara eksklusif pada bayi di Indonesia, Program peningkatan pemberian ASI eksklusif, mempunyai dampak yang luas terhadap status gizi ibu dan bayi (Amori, 2007).
Menurut United Nation Child Fondation (UNICEF 2006) menunjukan data bahwa bayi memiliki kemungkinan meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya karena bayi di beri susu formula peluang itu 25 kali lebih tinggi dari pada bayi yang diberi ASI eksklusif oleh ibunya. Banyak kasus kurang gizi pada anak di bawah 2 tahun yang sempat melanda beberapa wilayah di Indonesia dapat diminimalisasikan melalui pemberian ASI secara eksklusif. Karena sudah seharusnya ASI eksklusif di jadikan sebagai prioritas utama program di negara berkembang (Amori, 2007).
Di Indonesia diperkirakan bahwa 20 bayi meninggal setiap jam sebelum mencapai usia satu tahun hampir setengah dari kematian bayi ini terjadi pada masa neonatal yaitu pada bulan pertama kelahiran. Hanya 3,7 % bayi di Indonesia di susui dalam satu jam pertama setelah kelahiran dan angka kematian bayi masih relatif tinggi yaitu 35 per 1000 kelahiran hidup salah satu cara untuk mencegah terjadinya Angka Kematian Bayi (AKB) ialah dengan pemberian ASI. sementara ini angka pemberian susu formula semakin tinggi mencapai 65 % diperkotaan dan 44,3 % di pedesaan, membudayanya pemberian susu formula di karenakan adanya anggapan bahwa pemberian susu formula akan meningkatkan nilai prestise suatu keluarga (Juornal, 2008).  
Menurut Wold Heatlh Organitation WHO  (2000) menunjukkan anak yang meninggal setiap tahun 1,5 juta anak disebabkan  karena pemberian makanan yang tidak benar dan kurang dari 15% bayi di seluruh dunia di beri ASI eksklusif selama 4 bulan, dan sering juga diberikan makanan pendamping ASI yang tidak sesuai dan tidak aman. Penelitian menunjukkan, gangguan pertumbuhan pada anak bawah lima tahun (balita) biasanya akibat kekurangan gizi sejak dalam kandungan, pemberian makanan terlalu dini serta tidak cukup mengandung energi dan zat besi terutama mineral (BKKBN, 2006).
Keputusan Menteri Kesehatan RI No : 237/MENKES/SK/IV/1997 tentang Pemasaran penganti Air susu Ibu dalam pasal 8 huruf c dikatakan “Tulisan yang berbunyi TIDAK COCOK UNTUK BAYI BERUMUR KURANG DARI 6 BULAN. tulisan peringatan tidak cocok untuk bayi ini tidak ada pada kemasan susu formula sehingga menyesatkan konsumen.
Kematian anak balita terjadi di Negara berkembang mencapai 90%. Kematian bayi yang disebabkan oleh diare dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) mencapai 40 %, penyakit ini dapat dicegah dengan  ASI eksklusif.  Semua cara dan usaha yang dilakukan untuk mencegah kematian bayi dan balita dengan pemberian ASI yang paling banyak bisa menurunkan angka kematian anak balita (BKKBN, 2006). UNICEF menyebutkan 10 juta kematian anak balita dan 30 ribu kematian bayi di Indonesia tiap tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kelahiran tanpa ada makanan  dan minuman tambahan kepada bayi (Amori, 2007).
Di Indonesia diperkirakan bahwa 20 bayi meninggal setiap jam sebelum mencapai usia satu tahun hampir setengah dari kematian bayi ini terjadi pada masa neonatal yaitu pada bulan pertama kelahiran. Hanya 3,7 % bayi di Indonesia di susui dalam satu jam pertama setelah kelahiran dan angka kematian bayi masih relatif tinggi yaitu 35 per 1000 kelahiran hidup salah satu cara untuk mencegah terjadinya Angka Kematian Bayi (AKB) ialah dengan pemberian ASI. sementara ini angka pemberian susu formula semakin tinggi mencapai 65 % diperkotaan dan 44,3 % di pedesaan, membudayanya pemberian susu formula di karenakan adanya anggapan bahwa pemberian susu formula akan meningkatkan nilai prestise suatu keluarga (Juornal, 2008).