This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, 14 February 2013

Konsep Dasar Abortus



2.1.1.   Pengertian
Abortus  adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup diluar kandungan. Atau keluarnya janin dengan berat kurang dari 1000 gram atau umur kehamilan kurang dari 20 minggu.( Depkes RI, 2004)
Abortus Inkompletus  adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum. Pendarahan pada abortus inkomplitus dapat banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan pendarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan. (Wiknjosastro, 2005)
2.1.2.   Etiologi Abortus Inkompletus
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang oleh kematian mudigah. Sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan masih hidup, Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi sebagai berikut;

1)                      Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi.
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian  janin atau cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil- muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut.
1)      Kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada Abortus Spontan ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks.
2)      Lingkungan kurang sempurna, Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga memberi zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.
3)      Pengaruh dari luar, virus, obat-obatan dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen.
2)                      Kelainan pada Plasenta
Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun. 
3)                        Penyakit Ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk kejanin, sehingga menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus, Anemia berat, keracunan, laparotomi, peritonitis umum dan penyakit menahun seperti brusellosis, mononucleosis infeksiosa, toksoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus walaupun lebih jarang.
4)                            Kelaian traktus genitalis
Retroversio uteri, miomata uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Tetapi harus di ingat bahwa hanya retroversia uteri gravity inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting. sebab lain abortus dalam trisemister ke 2 ialah servik inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada servik, dilatasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi atau robekan servik luas yang tidak dijahit.


2.1.3.         Patofisiologi
Pada awal abortus terjadilah pendarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebahagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi ini biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi korialis belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepas sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yag dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu kemudian plesenta segara terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tampa bentuk yang jelas (Blighted ovum), mungkin pula janin telah lama mati (missed abortion).
Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, karena ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Isi uterus dinamakan mola kruenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi, sehingga semuanya tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.
Pada janin yang telah meninggal  dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi, janin mengering dan arena cairan amnion menjadi kurang oleh sebab diserap, ia menjadi agak gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkanen (fetus papiraseus).
Kemungkinan lain pada janin – mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah terjadinya laserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek, perut membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna kemerah-merahan.   
2.1.4.         Gejala Abortus.
1)         Amenoria
2)         Pendarahan yang bisa sedikit dan bisa banyak, pendarahan  biasanya berupa stolsel (darah beku).
3)         Sakit perut dan mules-mules.
4)         Sudah ada keluar fetus atau jaringan.
5)         Pada pemeriksaan dalam didapat servik terbuka, kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kan. Servikalis atau kav. Uteri
6)         Uterus lebih kecil dari usia kehamilan (Muchtar, 2004)

Wednesday, 13 February 2013

Cara menyusui yang benar



Menyusui dengan tehnik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar secara optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah menyusu dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut:

b.      Badan bayi menempel pada perut ibu
c.       Mulut bayi terbuka lebar
d.      Dagu bayi menempel pada payudara ibu
e.       Sebagian areola masuk ke dalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk
f.       Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan
g.      Puting susu tidak terasa nyeri
h.      Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
i.        Kepala bayi agak menengadah.

2.      Teknik dan Posisi menyusui
Tehnik menyusui seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah karena tidak mengetahuinya cara-cara menyusui yang benar, oleh sebab itu untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mengenai tehnik menyusui..
Walaupun menyusui itu mudah, namun ibu-ibu yang memiliki bayi tetap harus memahami tehnik menyusui bayi yang baik dan benar. Menyusui dengan tehnik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu.
Meskipun memerlukan adaptasi, ibu dapat memilih untuk menyusui dalam berbagai posisi. Dengan meningkatnya rasa percaya diri, ibu dapat mencoba berbagai posisi yang sesuai bagi bayi dan dirinya.
Ada tiga posisi dasar menyusui yang harus diketahui oleh ibu agar proses menyusui dapat berjalan lancar dan nyaman. Ketiga posisi yang dimaksud disini adalah :
a.       Posisi mulut bayi dan payudara ibu (Pelekatan)
Ketika menyusui bayinya, ibu kadang tidak mengetahui cara menyusui yang tepat. Bolah jadi, caranya menyusui bayi dianggap sudah benar, dan pelekatan bayipun dikira sudah sesuai prosedur yang sebenarnya, sehingga bayi bisa menyusu sepuasnya. Padahal, saat menyusui mungkin pelekatan mulut bayi ke puting susu payudara terlepas, sehingga bayi menangis. Inilah pentingnya pelekatan yang baik agar ibu berhasil menyusui bayinya.
Berbagai tatalakasana pelekatan yang tepat adalah :
1)      Bayi datang dari arah badan, sehingga bayi mendongak dengan hidung bayi berhadapan dengan puting payudara. Dagu bayi ditempelkan pada payudara dan pipi bayi tampak menggelembung. (Gambar 1)
2)      Bibir bawah, dagu atau pipi bayi dirangsang dengan payudara. Bayi didekatkan ke payudara dengan cara menekan punggung dan bahu bayi. Ibu tidak boleh menekan kepala bayi atau membenamkan seluruh bagian bawah bayi ke payudara, sehingga bayi sulit bernafas. (Gambar 2).
3)      Ibu memastikan bahwa mulut bayi berada pada posisi sedemikian rupa, sehingga gusinya menggigit daerah areola atau di sekeliling puting payudara ibu. (Gambar 3)
4)      Areola bagian atas mesti terlihat lebih luas ketimbang bagian bawah. Saat itu, mulut bayi terbuka lebar, sedangkan bibir bawahnya terputar keluar.  (Gambar 4).
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4

Supaya ibu bisa menyusui dengan baik, ibu juga perlu mencermati pelekatan yang salah. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Mulut bayi tidak terbuka lebar, serta bibir bawah ke dalam dan tidak  berputar.
2)      Dagu bayi tidak melekat pada payudara ibu.
3)      Jarak antara hidung dan dagu bayi ke payudara ibu sama jauhnya atau saling melekat.
Adapun gambarnya adalah sebagai berikut:

b.      Posisi Badan Ibu
Posisi bayi juga termasuk faktor pendukung pelekatan yang baik. Diantaranya dalah posisi perut ke perut (tummy to tummy). Ada berbagai macam posisi menyusui yaitu :
1)      Posisi ibu duduk
a)      Ibu duduk tegak dengan punggung lurus dan pangkuan rata, serta kaki dipijakkan ke tanah secara rata.
b)      Ibu bisa menggunakan bantal untuk menyangga berat badan bayi, dan agar bayi sejajar dengan payudara ibu.
c)      Ibu menggendong bayi menggunakan lengan kanan bila menyusui dengan payudara kiri. Demikian pula sebaliknya, pada posisi ini, kepala, leher, dan punggung bayi dalam keadaan lurus dengan kepala agak terangkat ke belakang.
d)     Ibu membuat pangkal leher dan kepala bayi leluasa bergerak ke belakang saat menengadah.
e)      Ibu mengangkat bayi agar hidungnya sejajar dengan puting payudara.
f)       Ibu menyentuh mulut bayi agar hidungnya sejajar dengan puting payudara.
g)      Ketika mulut bayi terbuka lebar, ibu segera mengarahkan mulut bayi ke payudara.
h)      Bila bayi telah dapat menyusu dengan baik, ibu bisa memindahkan bayi ke lengan sebelah..

Gambar : Posisi Duduk

2)      Posisi Ibu Tidur Miring
a)      Ibu berbaring miring dengan nyaman
b)      Letakkan satu atau dua bantal di bawah kepala dan sisipkan satu bantal di belakang punggung ibu.
c)      Letakkan bantal lain atau lipatan selimut di bawah lutut kaki
d)     Baringkan bayi dengan posisi miring ke arah payudara ibu, mulut bayi sejajar dengan puting susu.
e)      Gunakan lengan ibu untuk mengatur posisi bayi agar tetap miring atau sisipkan gulungan selimut atau handuk di belakang punggung bayi.
f)       Gunakan tangan ibu yang bebas untuk memegang payudara yang paling dekat dengan bayi kemudian susui bayi ibu.
g)      Apabila ingin menyusui bayi dengan payudara yang satunya, maka balikkan badan ibu ke sisi yang satunya lagi.
h)      Menyusui dengan posisi berbaring miring sangat sesuai bagi ibu yang menyusui bayi setiap saat pada pagi, siang, sore dan malam hari, ibu ingin istirahat waktu menyusui pada siang hari, ibu pasca operasi SC, duduk terasa nyeri yang biasanya dialami oleh ibu pasca melahirkan atau ada jahitan jalan lahir, puting susu lecet, mengubah-ubah posisi menyusui akan mengurangi lecet.
Posisi menyusui miring dinilai kurang tepat, karena posisi payudara diatas kepala, sehingga mulut bayi sulit mencapai puting payudara ibu. Bila keadaan ini terus berlanjut, bayi akan frustasi dan mulai menangis. Juga pada posisi menyusui miring kepala bayi menghadap ke atas bisa membuat bayi cepat lelah, karena ia harus menahan beban kepala. Posisi tersebut membuatnya menderita, dimana tenaga daya isap lambat laur melemah, dan air susu yang diisap pun tidak maksimal..



 






Gambar : Posisi Ibu Tidur Miring

3)      Posisi Ibu Memegang Bola (Football)
a)      Ibu bersandar duduk di kursi atau tempat tidur
b)      Letakkan satu atau dua bantal atau selimut disamping ibu, tidurkan bayi di atas bantal atau selimut tersebut.
c)      Sangga punggung dan leher bayi dengan siku dan lengan bawah ibu serta sangga kepala bayi dengan tangan.
d)     Tubuh bayi menempel pada ibu, maka bayi langsung menghadap puting susu dan areola payudara.
e)      Pegang payudara dengan tangan ibu yang satunya
f)       Tarik bayi ke arah payudara ibu, atur posisi puting susu dan areola payudara kemudian masukkan puting ke dalam mulut bayi.
g)      Jaga agar lengan ibu santai selama menyusui.
h)      Menyusui dengan posisi memegang bola sangat sesuai bagi ibu yang memiliki payudara besar, puting susu mendatar atau tenggelam pasca SC, bayi kecil (lahir kurang bulan), menyusui lebih dari satu anak (bayi kembar), ibu ingin tangan yang satunya bebas, puting susu lecet.



c.       Posisi Badan Ibu dan Bayi
Setelah perlekatam , bayi akan terlihat sangat bersemangat menyusu. Selanjutnya, gerakannya akan melambat, bahkan ia pun dapat tertidur saat menyusu. Bila hal ini terjadi, sebaiknya ibu membangunkan bayi dengan menyentuh pipinya, menggoyang-goyangkan tanggannya atau menggelitik telapak kakinya agar ia mengisap ASI lagi.
Dimana, ibu kurang mengetahui cara perlekatan bayi yang tepat, sehingga ibu kadang merasa kesakitan ketika menyusui bayinya. Pada masa-masa awal menyusui, walaupun perlekatan sudah benar, puting payudara bisa terasa agak nyeri, yang biasanya akan hilang setelah ibu terbiasa menyusui. Namun, bila ibu merasa sangat kesakitan atau puting payudaranya berdarah, hal ini merupakan indikasi kuat terjadinya perlekatan yang belum benar. Semestinya, menyusui terasa menyenangkan bagi ibu dan bayi, bukan menyakiti ibu..
3.      Langkah-langkah menyusui
a.       Sebelumnya menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting dan sekitar kalang payudara. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.
b.      Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara
1)      Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah (agar kaki ibu tidak menggantung) dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
2)      Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siki ibu (kepala tidak boleh menengadah, dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan).
3)      Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu dan yang satu di depan.
4)      Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara.
5)      Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
6)      Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
c.       Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari lain menopang di bawah, jangan menekan puting susu atau kalang payudaranya saja.
d.      Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflek) dengan  cara:
1)      Menyentuh pipi dengan puting susu atau,
2)      Menyentuh sisi mulut bayi
e.       Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan puting serta areola payudara dimasukkan ke mulut bayi.
1)      Usahakan sebagian besar areola payudara dapat masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menelan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola payudara. Posisi yang salah yaitu apabila bayi hanya mengisap pada puting susu saja, akan mengakibatkan masukan ASI yang tidak adekuat dan puting susu lecet.
2)      Setelah bayi mulai menghisap payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.
f.       Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya diganti dengan payudara yang satunya. Cara melepas isapan bayi:
1)      Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau,
2)      Dagu bayi ditekan ke bawah
g.      Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan di sekitar kalang payudara, biarkan kering dengan sendirinya.
h.      Menyendawakan bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh-jawa) setelah menyusui. Cara menyendawakan bayi adalah :
1)      Bayi digendong tegak bersandar pada bau ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan.
2)      Bayi tidur terkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan..