This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, 22 August 2013

Konsep perawatan usia lanjut



1.        Klasifikasi Usia lanjut
Pembagian Usia Lanjut berdasarkan Kelompok umur :
1)    Usia pertengahan (Midle age)         : usia 45 sampai 59 tahun
2)    Lanjut usia   (Young Old)               : antara 60 sampai 74 tahun
3)    Lanjut usia tua    (Old)                    : antara 75 sampai 90
4)    Usia sangat tua  (Very Old)            : diatas 90 tahun
2. Kebutuhan aktualisasi diri pada usia lanjut
  1. Merupakan kebutuhan dasar yang  paling tinggi dari hirarki Maslow, dimana kebutuhan ini akan terpenuhi jika kebutuhan dasar di bawahnya sudah terpenuhi dengan baik
  2. Kebutuhan aktualisasi diri pada lansia menunjukkan  bahwa seseorang telah mencapai potensi  mereka secara optimal
  3. Lansia yang telah teraktualisasi dirinya, adalah orang yang telah mampu menyelesaikan tugas-tugas sebelumnya dengan baik, memiliki kepuasan atas prestasinya, mampu menghadapi masalah secara realistis, walapun juga mengalami kegagalan/kekurangan sebelumnya
  4. Aktualisasi diripada lansia terjadi pada saat terjadi keseimbangan antara kebutuhan dan tekanan, serta adanya kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan tubuh dan lingkungannya 
A.    Kosep medis
1.   Pengertian
a.     Gangguan jiwa
Gangguan jiwa adalah kondisi terganggunya fungsi mental, emosi, pikiran, kemauan, perilaku psikomotorik dan verbal yang menjelma dalam kelompok. Gejala klinis yang disertai oleh penderitaan dan mengakibatkan terganggunya fungsi humanistik individu.
b.   Isolasi sosial
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak,.
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam.
Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain
Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.
c.       Rentang respon sosial
Isolasi sosial adalah kondisi kesepian yang diekspresikan oleh individu dan dirasakan sebagai hal yang ditimbulkan oleh orang lain sebagai suatu keadaan negatif yang mengancam, dengan karakteristik:

1)      Tinggal sendiri dalam ruangan
2)      Ketidakmampuan untuk berkomunikasi
3)      Menarik diri
4)      Kurangnya kontak mata
5)      Ketidaksesuaian atau ketidakmatangan minat dan aktivitas dengan perkembangan atau terhadap usia
6)      Preokupasi dengan pikirannya sendiri
7)      Pengulangan tindakan yang tidak bermakna
8)      Mengekspresikan perasaan penolakan atau kesepian yang ditimbulkan oleh orang lain
9)      Mengalami perasaan yang berbeda dengan orang lain
10)  Merasa tidak aman di tengah orang banyak
Kerusakan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seorang individu berpartisipasi dalam suatu kualitas yang tidak cukup atau berlebihan atau kualitas interaksi sosial yang tidak efektif dengan karakteristik:
1)      Menyatakan secara verbal atau menampakkan ketidakmampuan untuk menerima atau mengkomunikasikan kepuasan, rasa memiliki, minat, atau membagi cerita
2)      Tampak menggunakan perilaku interaksi sosial yang tidak berhasil
3)      Difungsi interaksi dengan rekan sebaya, keluarga, atau ornag lain
4)      Penggunaan proyeksi yang berlebihan
5)      Tidak menerima tanggung jawab atas perilakunya sendiri
6)      Manipulasi verbal
7)      Ketidakmampuan menunda kepuasan.
Isolasi sosial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan sosial.
respons sosial individu berada dalam rentang adaptif sampai dengan maladaptif.
Respons adaptif adalah respons individu dalam penjelasan masalah yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya yang umum berlaku, dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas-batas normal dalam menyelesaikan masalahnya. Respon ini meliputi:
Ø  Menyendiri (solitude) merupakan respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan juga suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Ø  Otonomi merupakan kemampuan individu dalam menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
Ø  Kebersamaan merupakan suatu kondisi dalam hubungan interpersonal di mana individu mampu untuk saling memberi dan menerima.
Ø  Saling ketergantungan merupakan suatu hubungan saling tergantung antar individu dengan orang lain dalam rangka membina hubungan interpersonal.
Respons maladaptif adalah respons individu dalam penyesuaian masalah, yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya lingkungannya. Respons maladaptif  yang paling sering ditemukan adalah:
Ø  Manipulasi
Orang lain diperlakkukan sebagai objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian orang lain, dan individu cenderung berorientasi pada diri sendiri atau tujuan, bukan pada orang lain.
Ø  Impulsif
Individu impulsif tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat diandalkan.
Ø  Narkisisme
Pada individu narkisisme terdapat harga diri yang rapuh, secara terus-menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egoisme, pencemburu. marah jika orang lain tidak mendukung.
2.      Faktor predisposisi dan presipitasi
Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan meras tertekan. Beberapa faktor pendukung terjadinya Isolasi Sosial adalah:
a)      Faktor Tumbuh Kembang
Tugas perkembangan pada masing-masing tahap tumbuh kembang ini memiliki karakteristik tersendiri. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak terpenuhi, misalnya jika pada fase oral tugas membentuk rasa saling percaya tidak terpenuhi maka akan mengakibatkan masalah antara lain adalah curiga.
b)      Faktor Komunikasi dalam Keluarga
Dalam teori ini termasuk masalah komunikasi yang tidak jelas (double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan, ekspresi emosi yang tinggi dalam lingkungan yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.
c)      Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, di mana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
d)     Faktor Biologis
Organ tubuh yang.jelas dapat mempengaruhi terjadinya Isolasi Sosial adalah otak.
Tugas perkembangan berhubungan dengan pertumbuhan interpersonal
Faktor presipitasi antara lain ; karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespon dengan menghindar dengan menarik diri dari lingkungan.
Faktor presipitasi terjadinya Isolasi Sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a)      Faktor Eksternal
Contohnya adalah stressor sosial budaya, yaitu stres yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya yang antara lain adalah keluarga.
b)      Faktor Internal
Contohnya adalah stresor psikologik yaitu stres terjadi akibat ansietas yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan ketergantungan individu.
3.      Mekanisme Koping
Mekanisme pertahanan diri yang sering digunakan pada masing-masing Isolasi Sosial sangat bervariasi, seperti pada curiga adalah regresi, proyeksi, represi. Isolasi, menarik diri adalah regresi, represi, isolasi.
4.      Tanda dan gejala
a.       Data subjektif
Sukar didapati jika klien menolak berkomunikasi. Beberapa data subjektif adalah menjawab pertanyaan dengan singkat, seperti kata “tidak”, “iya”, “tidak tahu”.
b.      Data objektif
Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan:
1)      Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
2)      Menghindari orang lain (menyendiri), klien nampak memisahkan diri dari orang lain , misalnya pada saat makan
3)      Komunikasi kuran/tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain/perawat
4)      Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk
5)      Berdiam diri di kamar/ tempat terpisah, klien kurang mobilitasnya
6)      Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.
7)      Tidak melakukan kegiatan sehari-hari. Artinya perawatdiri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan
8)      Posisi janin pada saat tidu
5.      Karakteristik perilaku
a.       Gangguan pola makan : tidak ada nafsu makan/makan berlebihan
b.      Berat badan menurun atau meningkat secara drastis
c.       Kemunduran secara fisik
d.      Tidur berlebihan
e.       Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama
f.       Banyak tidur siang
g.      Kurang bergairah
h.      Tidak mempedulikan lingkungan
i.        Kegiatan menurun
j.        Immobilisasi
k.      Modar-mandir
Berdasarkan hasil observasi perilaku klien, perawat mengumpulkan dan menganalisa data, khususnya data perilaku yang spesifik pada kondisi klien dengai masalah isolasi sosial. Perilaku yang biasa muncul pada klien dengan Isolasi Sosial antara lain:
Jenis Isolasi Sosial
Perilaku
Menarik Diri






Curiga


Manipulasi
Kurang spontan, Apatis (acuh terhadap lingkungan), ekspresi wajah kurang berseri, tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri, tidak ada atau kurang komunikasi verbal, mengisolasi diri, tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya, masukan makanan dan minuman terganggu, retensi urin dan feces, aktivitas menurun, kurang energi (tenaga), rendah diri, postur tubuh berubah.
Tidak mampu mempercayai orang lain, bermusuhan (hostility), mengisolasi diri dalam lingkungan sosial, paradonia.

Ekspresi perasaan yang tidak langsung pada tujuan, kurang asertif, mengisolasi diri dari hubungan sosial, harga diri yang rendah, sangat tergantung pada orang lain.

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA USIA LANJUT



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.
Kesehatan Jiwa merupakan kondisi yang memfasilitasi secara optimal dan selaras dengan orang lain, sehingga tercapai kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat dan lingkungan. Keharmonisan fungsi jiwa yaitu sanggup menghadapi problem yang biasa terjadi dan merasa bahagia.
Menurut Undang-undang No. 3 tahun 1966, tentang kesehatan jiwa, kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia lain.
Di tinjau dari segi pelayanan keperawatan, keperawatan jiwa merupakan suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan dirinya  secara terapeutik sebagai kiatnya. Keperawatan jiwa juga merupakan salah satu dari lima inti disiplin kesehatan mental. Perawat menjalankan profesinya menggunakan ilmu pengetahuannya menerapkan ilmu-ilmu psikososial, biofisik, teori-teori kepribadian dan perilaku manusia untuk menurunkan suatu kerangka kerja teoritik yang menjadi landasan praktik keperawatan.
Pelayanan keperawatan, kesehatan jiwa bukan hanya ditujukan pada klien dengan gangguan jiwa tetapi juga pada klien dengan masalah psikososial, yang ditujukan pada semua orang dan lapisan masyarakat sehingga tercapai sehat mental dan hidup harmonis secara produktif.
Manusia sebagaimana dia ada pada suatu waktu merupakan suatu interaksi antara badan, jiwa dan lingkungan. Ketiga unsur  ini saling  mempengaruhi segala keutuhan manusia sebagai mana dia ada. Konsep kesehatan jiwa memang perlu adanya  pengalaman dan penanganan  khusus oleh karena permasalahan yang berhubungan dengan kejiwaan sangatlah rumit dan sulit untuk membeda-bedakan orang yang mengalami gangguan jiwa dan orang normal, perbandingannya sangat tipis dan hampir tampak seperti orang yang normal.
Oleh karena itu, memang perlu adanya kemampuan khusus baik ilmu maupun ketrampilan dalam penerapan asuhan keperawatan jiwa. Keperawatan sebagai bagian dari kesehatan jiwa merupakan bidang spesialis praktik keperawatan yang menerapkan teori prilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri secara terapeutik kiatnya. Perawat jiwa dalam bekerja memberikan stimulus konstruktif kepada klien(individu, kelompok, dan masyarakat) dan berespon secara konstruktif sehingga klien belajar cara penyelesaian masalah.
Keberhasilan perawatan klien dengan penyalagunaan tergantung dari bagaimana perawat secara terapeutik memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan masalah jiwa. Kita sebagai mahasiswa calon-calon tenaga perawat harus di persiapkan untuk menghadapi tantangan dalam perawatan jiwa.  Pengetahuan,ketrampilan dan sikap yang baik adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang perawat . Praktek lapangan secara langsung untuk penerapan teori, pemantapan ketrampilan dan penggunaan sikap dalam menghadapi masalah di lapangan itu perlu.
Dalam Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta (1983) telah disepakati bahwa keperawatan adalah “suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan dasar manusia”. Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam kondisi sehat dan sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia. Sedangkan asuhan yang diberikan berupa bantuian-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri.
Pada makalah ini akan dibahas secara singkat asuhan keperawatan jiwa pada pasien lanjut usia di tatanan klinik (clinical area), dimanan pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatan yang meliputi pengkajian (assessment), merumuskan diagnosa keperawatan (Nursing diagnosis), merencanakan tindakan keperawatan (intervention), melaksanakan tindakan keperawatan (Implementation) dan melakukan evaluasi (Evaluation).
B.     Tujuan Penulisan.
1.      Tujuan Umum
Mampu menerapkan Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan jiwa secara komperhensif yaitu dengan pendekatan proses keperawatan,
Pengkajian keperawata, Diagnosa keperawatan, Perencanaan keperawatan, Implementasi keperawatan, dan Evaluasi keperawatan.
2.      Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan kegiatan praktek klinik keperawatan jiwa diharapkan mampu; melaksanakan pengkajian keperawatan jiwa dengan Isolasi sosial menarik diri
·       Merumuskan diagnosa keperawatan jiwa
·       Merencanakan dan mengimplementasikan tindakan keperawatan secara nyata
·       Melakukan evaluasi kesehatan, mampu mendokumentasikan dalam asuhan keperawatan, mampu membahas kesenjangan teori dan mampu mempraktekkannya
3.      Metode dan Teknik Penulisan
Metode yang digunakan pada penulisan ini adalah metode komunikasi langsung, metode observasi dan deskriptif. Kemudian data yang digunakan diperoleh dari hasil analisa dan dicapai dengan pencarian pemecahan masalahnya.
         Teknik pengumpulan data yang penulis gunkanan yaitu :
a.       Wawancara : tanya jawab secara langsung kepada pasien
b.      Observasi : mengamati secara langsung prilaku pasien
c.       Studi dokumentasi : mempelajari RM (status klien) sebagai bahan untuk menghimpun data
d.      Studi kepustakaan : menggunakan referensi/buku sumber dari perpustakaan
4.      Manfaat Penulisan.
a.       Penulis ; dapat menerapkan teori-teori yang sudah didapat, memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa pada klien, menambah wawasan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada klien.
b.      Institusi Pelayanan Kesehatan (RS); menjadi titik tolak / pedoman dalam rangkaian pengembangan pelayanan asuhan keperawatan jiwa, sebagai referensi bagi para pembaca maupun petugas (perawat) pada institusi.
c.       Institusi Pendidikan.
1)      Secara kuantitatif menambah koleksi Asuhan keperawatan di perpustakaan; sebagai bahan pertimbangan dalam rangka mengarahkan dalam pembuatan Asuhan Keperawatan khususnya isolasi sosial.
2)      Dapat memberikan masukan untuk perkembangan Asuhan Keperawatan pada mahasiswa.