This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, 23 April 2013

Partograf



  1. Pengertian
Partograf merupakan gambaran persalinan yang meliputi semua pencatatan yang berhubungan dengan penatalaksanaannya. Hasil rekaman ini lebih efisien daripada catatan panjang dan memberikan gambaran pictogram terhadap hal-hal yang penting dari persalinan serta tindakan yang segera harus dilakukan terhadap perkembangan persalinan yang abnormal.
Partograf atau partogram adalah metode grafik untuk merekam kejadian-kejadian pada perjalanan persalinan (Farrer, 2001). Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam mengambil keputusan dalam penatalaksanaan. Partograf dimulai pada pembukaan 4 cm (fase aktif) yang digunakan pada setiap ibu bersalin tanpa memandang apakah persalinan itu normal atau komplikasi.
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan persalinan, asuhan, pengenalan penyulit dan informasi untuk membuat keputusan klinik. Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:
a.    Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
b.    Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.
Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam mengambil keputusan dalam penatalaksanaan partograf dimulai pada pembukaan 4 cm fase aktif. Partograf sebaiknya dibuat untuk setiap ibu yang bersalin, tanpa menghiraukan apakah persalinan itu normal atau dengan komplikasi.

2.    Tujuan Partograf
Menurut Depkes RI jika digunakan secara tepat maka partograf akan membantu penolong persalinan untuk:
a.    Mencatat kemajuan persalinan
b.    Mencatat kondisi ibu dan janinnya
c.    Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran
d.   Menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya penyulit
e.    Menggunakan informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu

3.    Aplikasi Partograf
Penggunaan atau aplikasi partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu, juga mencegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka. Partograf harus digunakan:
a.    Untuk semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sebagai elemen penting asuhan persalinan. Partograf harus digunakan, baik tanpa ataupun adanya penyulit. Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, mengevaluasi dan membuat keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan pe­nyulit.
b.    Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah sakit, dll).
c.    Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran (Spesialis Obgin, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteran)
Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinya mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu, juga mencegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.
Jika digunakan secara tepat dan konsisten, maka partograf akan membantu penolong persalinan untuk:
a.    Mencatat kemajuan persalinan.
b.    Mencatat kondisi ibu dan janinnya.
c.    Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran.
d.   Menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya penyulit.
e.    Menggunakan informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu (Depkes RI, 2007).
Kondisi ibu dan bayi juga harus dinilai dan dicatat secara seksama, yaitu:
a.    Denyut jantung janin setiap 1/2 jam.
b.    Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus setiap 1/2 jam
c.    Nadi: setiap 1/2 jam.
d.   Pembukaan serviks setiap 4 jam.
e.    Penurunan: setiap 4 jam.
f.     Tekanan darah dan temperatur tubuh setiap 4 jam.
g.    Produksi urin, aseton dan protein setiap 2 sampai 4 jam
Nilai suatu partograf meliputi:
a.    Pencatatan yang jelas.
b.    Urutan waktu yang jelas.
c.    Diagnosis suatu kemajuan persalinan yang abnormal.
d.   Memudahkan saat penggantian staf atau gilliran dinas.
e.    Untuk pendidikan.
f.     Untuk penelitian (Saifuddin, dkk, 2005).

Gambaran Pengetahuan Mahasiswa D-III Kebidanan Tingkat II Tentang Cara Pengisian Partograf



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kematian maternal dapat terjadi pada saat pertama pertolongan persalinan. Penyebab utama kematian ibu adalah trias klasik yaitu perdarahan, infeksi, dan pre eklamsi. Angka kematian maternal dan perinatal yang tinggi ini disebabkan oleh dua hal penting yang memerlukan perhatian khusus yaitu terjadinya partus terlantar atau partus lama dan terlambatnya melakukan rujukan (Manuaba, 2005).
Berdasarkan pengamatan WHO, Angka Kematian Ibu adalah sebesar 500.000 jiwa dan Angka Kematian Bayi sebesar 10.000.000 jiwa setiap tahunnya. Jumlah tersebut sebenarnya masih diragukan karena besar kemungkinan kematian ibu dan bayi yang tidak dilaporkan (Prawirohardjo, 2005).
Sebagian besar penyebab kematian dapat dicegah dengan penanganan yang adekuat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dalam menolong persalinan, seperti penggunaan partograf dalam persalinan yaitu alat bantu untuk membuat keputusan klinik, memantau, mengevaluasi dan menatalaksana persalinan. Partograf dapat digunakan untuk mendeteksi dini masalah dan penyulit dalam persalinan sehingga dapat sesegera mungkin menatalaksana masalah tersebut atau merujuk ibu dalam kondisi optimal. Instrumen ini merupakan salah satu komponen dari pemantauan dan penatalaksanaan proses persalinan secara lengkap. (Depkes RI, 2007).
Partograf merupakan gambaran persalinan yang meliputi semua pencatatan yang berhubungan dengan penatalaksanaannya. Hasil rekaman ini lebi efisien dari pada catatan panjang dan memberikan gambaran partograf terhadap hal-hal yang penting dari persalinan serta tindakan yang
segera harus dilakukan terhadap perkembangan persalinan yang abnormal
. (Kusmiati, 2009).
Dengan penerapan partograf diharapkan bahwa angka kematian maternal dan perinatal dapat diturunkan dengan bermakna sehingga mampu menunjang sistem kesehatan menuju tingkat kesejahteraan masyarakat. Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam mengambil keputusan dalam penatalaksanaan partograf dimulai pada pembukaan 4 cm fase aktif. Partograf sebaiknya dibuat untuk setiap ibu yang bersalin, tanpa menghiraukan apakah persalinan itu normal atau dengan komplikasi. (Aiyura, 2008).
Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI tahun 2008 sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini turun dibandingkan AKI tahun 2002 yang mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan Angka Kematian Bayi baru Lahir sebesar 25 per 1.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2008).

Monday, 22 April 2013

Konsep Toilet Training



1. Pengertian Toilet Training
            Toilet training atau latihan berkemih dan defekasi adalah salah satu tugas perkembangan anak usia todler (1-3 tahun). Pada tahapan usia 1 sampai 3 tahun atau usia todlerm kemampuan sfingter uretra untuk mengontrol rasa ingin berkemih dan  sfingter ani untuk mengontrol rasa ingin defekasi mulai berkembang, menurut Wong (2000) dalam Supartini (2004) mengemukakan bahwa biasanya sejalan dengan anak mampu berjalan kedua sfingter itu semakin mampu mengontrol rasa ingin berkemih dan defikasi. Walaupun demikian, dari satu anak ke orang lain berbeda kemampuan dan pencapaian tersebut, tergantung pada faktor baik fisik maupun psikologis yang biasanya sampai usia dua tahunpun, kedua faktor baik fisik dan psikologis belum siap (Supartini, 2004).
2. Latihan Mengmtrol berkemih dan defikasi pada anak (Toilet Training)
Orang tua harus diajarkan bagaimana cara melatih anak untuk mengontrol rasa ingin berkemih, diantaranya dengan menggunakan pot kecil yang bisa diduduki anak apabila ada, atau langsung ke toilet, pada jam tertentu secara reguler. Misalnya, setiap dia jam anak dibawa ke toilet untuk berkemih. Anak didudukan pada toilet atau pot yang bisa diduduki dengan cara menapakan kaki dengan kuat pada lantai sehingga dapat membantunya untuk mengejan. Latihan untuk merangsang rasa untuk mengejan ini dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit. Selama latihan orang tua harus mengawasi anak dan kenakan pakaian anak yang mudah untuk dibuka (Supartini, 2004).

Gambaran Pengetahuan Ibu Balita Tentang Toilet Training



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
  Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak pasal 26 telah menyebutkan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak, tumbuh kembanag anak sesuai dengan kemampuan, bakat minatnya, serta mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak sehingga orang tua/ keluarga benar-benar memperhatikan dan memahami apa yang telah di tetapkan (BKKBN, 2006)
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, ketika diperlukan rangsangan/stimulasi yang berguna agar potensinya berkembang. Perkembangan akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. Sebaliknya lingkungan yang tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak (Dompas, 2010).
Perilaku anak adalah sikap dan tindakan anak balita yang bersifat alami. Perilaku dan tindakannya yang baik atau buruk itu cenderung dilakukan dibawah kesadaran anak. Oleh karena itu, orang tua senan tiasa harus memperhatikan sikap dan tindakan anak-anaknya. Apabila sikap dan tindakan anak banyak yang menyimpang, maka sebaiknya orang tua mendidik, mengajarkan, menunjukan dan mengarahkannya ke jalan yang baik. Sikap dan tindakan anak balita yang baik harus tetap diperhatikan akar menjadi perilaku yang diinginkan. Orang tua harus menyadari, bahwa anak balita belum mempunyai pengalaman dan belum mampu menilai sikap dan tindakannya sendiri. Peran orang tua senantiasa harus mengembangkan perilaku anak sesuai dengan nilai-nilai dasar yang terkandung dalam 8 fungsi keluarga. Hanya perilaku anak-yang baik-baik sajalah yang perlu dikembangkan agar membentiuk karakter anak (BKKBN, 2006)
Di Indonesia diperkirakan jumlah balita mencapai 30 % dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, dan menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) nasional diperkirakan jumlah balita yang susah mengontrol BAB dan BAK (ngompol) di usia sampai prasekolah mencapai 75 juta anak. Fenomena ini dipicu karna banyak hal, pengetahuan ibu yang kurang tentang cara melatih BAB dan BAK, pemakaian (PEMPRES) popok sekali pakai, hadirnya saudara baru dan masih banyak lainnya ( Riblat, 2003).
Toilet training adalah latihan untuk berkemih dan defikasi adalah tugas perkembangan anak usia todler, pada tahapan usia 1 sampai 3 tahun atau usia toller, kemampuan sfingter uretra untuk mengontrol rasa ingin berkemih dan sfingter ani untuk mengntrol rasa ining defikasi mulai berkembang, wong mengemukaan bahwa biasanya sejalan dengan anak mampu berjalan kedua sfingter tersebut semakin mampu mengontrol rasa ingin berkemih dan defikasi walaupun demikian dari satu anak ke orang lain berbeda kemampuan dalam pencapaian tersebut bergantung pada beberapa faktor baik fisik maupun psikologis yang biasanya sampai usia 2 tahunpun kedua faktor baik fisik dan psikologis belum siap (Supartini, 2004).
Pengetahuan tentang toilet training sangat penting untuk dimiliki oleh seorang ibu. Hal ini akan berpengaruh pada penerapan toilet training pada anak. Ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik berarti mempunyai pemahaman yang baik tentang manfaat dan dampak toilet training, sehingga ibu akan mempunyai sikap yang positif terhadap konsep toilet training. Sikap merupakan kecenderungan ibu untuk bertindak atau berperilaku (Suryabudhi, 2003).