This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Thursday, 17 April 2014

Jadwal Pelaksanaan Imunisasi



a.         Vaksinasi BCG
Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan ssecara suntikan intrakutan dengan dosis 0,05 ml. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin konfersi pada tempat suntikan. Ada tidaknya tuberculin konfersi tergantung pada potensi vaksin dan dosis yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu dalam akan menyebabkan terjadinya abses ditempat suntikan. Untuk menjaga potensinya, vaksin BCG harus disimpan pada suhu 2 C.
b.          Vaksinasi DPT
Kekebalan terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan ditambah denagn bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan. Dosis penyuntikan 0,5 ml diberikan secara subkutan atau intramuscular pada bayi yang berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 4 minggu. Reaksi spesifik yang timbul setelah penyuntikan tidak ada. Gejala biasanya demam ringan dan reaksi lokal tempat penyuntikan. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang terlalu tinggi, kejang, kesadaran menurun, menangis  yang berkepanjangan lebih dari 3 jam, hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT.
c.           Vaksinasi polio
Untuk kekebalan terhadap polio diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang mengandungvirus polio tipe 1, 2 dan 3. vaksin diberikan melalui mulut pada bayi berumur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak pemberian 4 minggu.
d.          Vaksinasi campak
Vaksin yang diberikan berisikan virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam bentuk bubuk kering (freezeried) yang harus dilarutkan degan bahan larutan yang telah tersedia sebelum digunakan. Suntikan ini di berikan secara subtukan dengan dosis 0,5 ml pada anak umur 9-12 bulan. Di negara berkembang imunisasi campak dianjurkan diberikan lebih awal dengan maksud memberikan kekebalan sedii mungkin, sebelum terkena infeksi firus campak secara alami. Pemberian imunisasi lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang berasal dari ibu (mortenal antibodi), ternyata dapat menghambat terbentuknya zal kebal campak dalam tubuh anak, sehingga imunisasi ulang masih diberikan 4-6 bulan kemudian. Maka untuk Indonesis vaksin campak diberikanmulai anak berumur 9 bulan.
e.           Vaksinasi Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis B pada umur 0-11 bulan. Cara pemberian imunisasi ini adalah intramuscular.
Adapun jadwal pemberian imunisasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:




Tabel 2.1
Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Anak
Umur (Bulan)   0        1     2     3     4      5      6      7       8      9      10      11  **12+
Vaksin
Tanggal pemberian imunisasi
HB 0 (0-7 hari)














BCG












*Polio 1












*DPT/HB 1













* Polio 2













*DPT/HB 2













*Polio 3













*DPT/HB 3













*Polio 4













Campak













Keterangan
* Jarak antara (interval) pemberian vaksin DPT/HB minimal 4 minggu (1 bulan)
* Jarak antara pemberian vaksin Polio minimal 4 minggu (1 bulan)
** Anak diatas 1 tahun (12 bulan) yang belum lengkap imunisasinya tetap harus diberikan imunisasi dasar lengkap

Jadwal tepat pemberian imunisasi dasar lengkap



Tidak boleh diimunisasi



Waktu pemberian imunisasi bagi anak diatas 1 tahun yang belum lengkap

Sistem Kekebalan Tubuh bayi



Bayi demam yang disebabkan oleh Flu, batuk,  pnemonea, Ikterus, hipertermi, diare dan penyakit lainnya. Demam juga timbul karena hanya menderita batuk pilek saja atau  infeksi virus lainnya. menderita penyakit demam dan sesak nafas yang merupakan suatu tanda pneumonia. Demam dan ruam yang menyeluruh merupakan tanda-tanda utama penyakit Campak. Sedangkan demam akut 2 sampai 7 hari, lemah, cengeng. Bayi yang merasa sakit akan bereaksi dengan cara menghisap jarinya, mengayunkan tubuh, membenturkan kepalanya, wajah bayi akan tampak pucat. tubuh berada dalam kondisi waspada..
system kekebalan tubuh ada 2 yaitu:
2.2.1. Kekebalan aktif
Kekebalan aktif terjadi sebagai akibat stimulasi sitem imunologi yang menghasilkan antigen spesifik humoral (antibody) dan kekebalan seluler. Tidak seperti kekebalan pasif, kekebalan aktif biasanya dapat bertahan untuk beberapa yahun dan sering sampai seumur hidup.
Salah satu cara untuk mendapatkan kekebalan aktif adalah bila seseorang menderita sesuatu penyakit. Secara umum dapat dikatan, setelah seseorang sembuh dari suatu penyakit mereka menjadi kebal terhadap penyakit tersebut sampai seumur hidup. Perlindungan yang menetap untuk beberapa tahun sesudah infeksi dikenal sebagai memori kekebalan. Setelah adanya paparan antigen terhadap system kekebalan, sel limfosit (sel limfosit B memori) beredar dalam darah (dan juga menetap dalam sumsum tulang) selama beberapa tahun. Apabila terpaparlagi dengan antigen yang sama, maka sel itu akan memperbanyak diri dan menghasilkan antibody dengan sangat cepat untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit tersebut.
Cara lain untuk menghasilkan kekebalan akttif adalah melalui imunisasi. Vaksin akan berinteraksi dengan system kekebalan untuk menghasilkan respon imun yang setara dengan yang dihasilkan setelah seseorang menderita penyakit secara alami, tetapi tidak menyebabkan orang tersebut sakit atau mengalami komplikasi. Vaksin menghasilkan memori kekebalan yang sama apabila menderita penyakit tersebut.
Banyak factor yang mempengaruhi respon imun terhadap vaksin, termasuk adanya antibody maternal, sifat dan dosis antigen, cara pemberian dan adanya adjuvant (misalnya: aluminium utuk menambah potensi vaksin). Factor-faktor yang berasal dari tubuh penerima vaksin seperti ; imur, factor gizi, genetic, dan penyakit lain yang menyertai dapat juga mempengaruhi rspon kekebalan.
2.2.2. Kekebalan Pasif
Kekebalan pasif dapat terjadi dengan pemberian antibody yang berasal dari hewan atau manusia kepada menusia lain. Kekabalan pasif memberikan perlindungan terhadap beberapa infeksi tetapi bersifat sementara. Kadar antibody akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan, dan penerimaan tidak lagi kebal terhadap penyakit tersebut.
Bentuk yang paling umum dan kekebalan pasif adalah bayi yang menerima kekebalan dari ibunya. Antibodi disalurkan melalui  plasenta pada 1-2 bulan akhir kehamilan, sehingga seseorang bayi akan mempunyai antibody seperti yang dipunyai ibunya. Antibody ini melindungi bayi dari penyakit tertentu samapai bayi berumur 1 bulan sampai 1 tahun antibody seperti yang dipunyai ibunya. Antibody ini melindungi bayi dari penyakit tertentu sampai bayi berumur 1 bulan sampai 1 tahun. Perlindungan maternal ini terhadap polio dan pertusis.
Faktor yang mempengaruhi sisrim kekebalan tubuh bayi yaitu Sistim imunisasi ibu, pemberian kolustrum, pemberian ASI eksklusif, Berat badan lahir rendah, Kelahiran tidak cukup bulan (Prematur) dan status imunisasi bayi.