This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, 11 June 2013

Kejadian Gawat Janin



1.      Pengertian
Gawat janin menunjukkan suatu keadaan bahaya yang relatif dari janin yang secara serius, yang  mengancam kesehatan janin. Istilah gawat janin (fetal distress) terlalu luas dan kurang tepat menggambarkan situasi klinis. Ketidakpastian dalam diagnosis gawat janin yang didasarkan pada interpretasi pola frekuensi denyut jantung janin menyebabkan munculnya isti­lah-istilah deskriptif misalnya “reassuring” (meyakinkan) atau “nonreassuring” (meragukan, tidak meyakinkan). (Muchtar, 2000)
Gawat janin  juga umum digunakan untuk menjelaskan kondisi hipoksia yang bila tidak dilakukan penyelamatan akan berakibat buruk yaitu menyebabkan kerusakan atau kematian janin jika tidak diatasi secepatnya atau janin secepatnya dilahirkan. Hipoksia ialah keadaan jaringan yang kurang oksigen, sedangkan hipoksemia ialah kadar oksigen darah yang kurang. Asidemia ialah keadaan lanjut dari hipoksemia yang dapat disebabkan menurunnya fungsi respirasi atau akumulasi asam. (Muchtar, 2000)
Kegawatan yang kronik dapat timbul setelah suatu periode waktu yang panjang selama periode antenatal bila status fisiologis dari unit ibu-janin-plasenta yang ideal dan normal terganggu. Hal ini dapat dipantau melalui evaluasi dari pertumbuhan janin intar uteri, keadaan biofisikal janin, cordosintesis, dan velosimetri Doppler (springer)  Gawat janin akut  disebabkan oleh suatu kejadian yang tiba-tiba yang mempengaruhi oksigenasi janin. (Muchtar, 2000)
Gawat janin selama persalinan menunjukkan hipoksia (kurang oksigen) pada janin. Tanpa oksigen yang adekuat, denyut jantung janin kehilangan variabilitas dasarnya dan menunjukkan deselerasi (perlambatan) lanjut pada kontraksi uterus. Bila hipoksia menetap, glikolisis (pemecahan glukosa) anaerob menghasilkan asam laktat dengan pH janin yang menurun. (Muchtar, 2000)
2.    Etiologi Kejadian Gawat Janin
Ada beberapa kemungkinan penyebab gawat janin, namun biasanya gawat janin terjadi karena beberapa mekanisme yang berkesinambungan. Penurunan aliran darah plasenta akibat kontraksi dapat menyebabkan kompresi terhadap tali pusat. Sehingga pada wanita yang mengalami persalinan lama hal ini dapat menyebabkan kegawatan pada bayi melalui mekanisme di atas.  Kegawatan akut dapat terjadi akibat abrupsio plasenta, prolaps tali pusat (terutama dengan presentasi bokong), keadaan hipertonik uterine dan penggunaan oksitosin. Hipotensi dapat terjadi akibat anestesi epidural atau posisi supine, dimana hal ini dapat mengurangi aliran darah vena cava kembali ke jantung. (Wiknjosastro,2008)
Hendaknya kita dapat menganalisa kondisi janin dan ibu,untuk kemudian membuat pemeriksan khusus dalam membuktikan kebenaran analisa tersebut. Kondisi klinik yang berkaitan dengan hipoksia ialah :
a. Kelainan pasokan plasenta : solutio plasenta, plasenta previa, postterm, prolapsus tali pusat, lilitan tali pusat, pertumbuhan janin terhambat, isufisiensi plasenta
b. Kelainan arus darah plasenta : hipotensi ibu, hipertensi, kontraksi hipertonik,
c. Saturasi oksigen ibu berkurang: hipoventilasi, hipoksia, penyakit jantung.
Bila pasokan oksigen dan nutrisi berkurang , maka janin akan mengalami retardasi organ bahkan risiko asidosis dan kematian. Bermula dari upaya redistribusi aliran darah yang akan ditujukan pada organ penting seperti otak dan jantung dengan mengorbankan visera (hepar dan ginjal). Hal ini tampak dari volume cairan amnion yang berkurang (oligohidramnion). Bradikardia yang terjadi merupakan mekanisme dari jantung dalam bereaksi dari baroreseptor akibat tekanan (misalnya hipertensi pada kompresi tali pusat) atau reaksi kemoreseptor akibat asidemia (Wiknjosastro,2008)

Gambaran Pengetahuan Bidan Tentang Kejadian Gawat Janin Selama Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesahatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan prilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia (Dep Kes RI, 2012)
Pada masa kehamilan keluhan keluhan yang terjadi merupakan suatu hal yang perlu diketahui oleh para ibu hamil, diharapkan dengan kehamilan yang sedang dijalani bukan menjadi suatu hal yang menyiksa hari - hari ibu hamil melainkan menjadi suatu hal yang menyenangkan (Gulardi, 2004).
Gawat janin atau secara umum disebut fetal distress perlu dibahas dan dirumuskan karena sampai saat ini belum ada ketentuan. Gawat janin selama persalinan menunjukkan hipoksia janin pada saat kontraksi rahim. Tanpa oksigen yang adekuat, denyut jantung janin kehilangan variabilitas dasarnya dan menunjukkan deselerasi lanjut pada kontraksi uterus. Ada yang berpendapat bahwa gawat janin memang benar terjadi berkaitan dengan asfiksia. Asfiksia baru dapat ditentukan bila terdapat gejala neurologik atau skor APGAR kurang dari tiga  (Gulardi, 2004).
Menurut World Health Organization (WHO)  tahun 2009 angka kejadian gawat janin sebesar 21,6%. Indonesia menunjukkan kejadian gawat janin relatif cukup banyak ( 34,7 %) terutama terjadi pada persalinan yang diantaranya bradikardi sebesar  11,4% dan takikardi sebesar 13,2% dari 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2010).
Akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul (Asril, 2007).
Untuk Propinsi Aceh, Hasil laporan  Kabupaten /kota pada tahun 2012 ibu yang bersalin berjumlah 73,592 orang, terjadi kasus pendarahan  565 orang dan meninggal 55 orang (0,07%) kasus perlukaan jalan lahir   69 orang yang meninggal 13 orang (0,02%). serta ibu meninggal karena sebab lain ada 83 orang (0,1 %) (Din Kes NAD,2012)

Konsep Menoragia



2.1.1.      Pengertian
Menoragia adalah jumlah perdarahan haid yang berlebihan (lebih dari 80 ml ) dan metroragia adalah perdarahan per vaginam antara dua siklus haid. Pada haid normal, jumlah darah yang keluar tidak lebih dari 40 ml dan berhenti setelah proses pengelupasan endometrium berakhir (Wikjosastro, 2007)
Pada sebagian wanita terjadi perdarahan haid dalam jumlah yang melebihi 80 ml (menoragia) atau terjadi perdarahan berupa bercak bercak diluar siklus haid (metroragia) atau campuran (menometroragia). Pada sebagian kasus, penyebab keadaan ini tidak jelas (Henderson, 2007)
Menoragia didefinisikan sebagai menstruasi pada interval siklus teratur tetapi dengan aliran berlebihan dan durasi dan merupakan salah satu keluhan ginekologis yang paling umum di ginekologi kontemporer. Klinis, menorrhagia didefinisikan sebagai kehilangan darah total melebihi 80 ml per siklus atau mens berlangsung lebih lama dari 7 hari. Kesehatan Dunia melaporkan Organisasi bahwa 18 juta wanita usia 30-55 tahun melihat perdarahan haid mereka untuk menjadi selangit. Laporan menunjukkan bahwa hanya 10% dari perempuan mengalami kehilangan darah yang cukup parah menyebabkan anemia atau secara klinis didefinisikan sebagai menorrhagia. Dalam prakteknya, pengukuran kehilangan darah menstruasi sulit. Dengan demikian, diagnosis biasanya berdasarkan riwayat pasien. Siklus haid normal adalah 21-35 hari dalam durasi, dengan perdarahan yang berlangsung rata-rata 7 hari dan ukur arus 25-80 mL (Manuaba, 2008)
Menoragia atau hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak dari normal (lebih dari 80ml/hari) atau lebih lama dari normal (lebih dari 8 hari), kadang disertai dengan bekuan darah sewaktu haid. Siklus haid yang normal berlangsung antara 21-35 hari, selama 2-8 hari dengan jumlah darah haid sekitar 25-80 ml/hari.
2.1.2.      Etiologi
Menurut Manuaba (2008) etiologi dari menorrhagia dibagi menjadi 4 kategori, organik, endocrinologic, anatomi, dan iatrogenik.
1.       Organik penyebab menorrhagia termasuk infeksi, gangguan perdarahan, dan disfungsi organ.
    1. Infeksi dapat dari apapun asal genitourinari. Penyakit menular seksual tersebut adalah dari perhatian yang lebih besar pada populasi remaja dan awal dewasa. Pendarahan dari uretra atau rektum harus selalu dipertimbangkan dalam hasil pemeriksaan, khususnya pada wanita pascamenopause yang memiliki temuan negatif setelah hasil pemeriksaan untuk perdarahan vagina.
    2. Gangguan Koagulasi dapat menghindari diagnosis sampai menarche, ketika perdarahan menstruasi berat menyajikan sebagai gangguan tak henti-hentinya. Ini termasuk penyakit von Willebrand, faktor II, V, VII, dan kekurangan IX, defisiensi protrombin; purpura trombositopenia idiopatik (ITP); thromboasthenia. Dan Lihat lebih lanjut tentang gangguan perdarahan
    3. Disfungsi Organ menyebabkan menorrhagia termasuk gagal hati atau ginjal. penyakit hati kronis mengganggu produksi faktor pembekuan dan mengurangi metabolisme hormon (misalnya estrogen). Salah satu dari masalah ini dapat mengakibatkan pendarahan rahim berat.

Gambaran Pengetahuan Mahasiswi Tingkat II Diploma III Kebidanan Tentang Pemeriksaan Fisik Pada Ibu Hamil Di STIKes



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
           Tujuan pembangunan kesehatan indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melaluai terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan  dan dengan perilaku hidup sehat serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan dan fasilitas kesehatan secara adil dan merata diseluruh wilayah republik Indonesia dahn dapat mewujidkan lingkungan sehat dan memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas di tahun 2005. (Depkes RI 2010)
         Di dalam Rencana Strategi Making Pregnancy safer (MPS) di indonesia 2001 – 2010 disebutkan bahwa dalam konteks Rencanan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010,visi MPS adalah Kehamilan dan persalinan berlangsung aman,serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat.Mortalitas da morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin,sekitar 25-50 % kematian wanita subur usia disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematia Neonatal menjadi 16 per 1000  kelahiran hidup.keluaran yang diharapkan dari strategi ini adalah terselenggaranya pelayan kesehatanmaternal dan neonatal dasar berkualitas di Polindes dan Puskesmas,Pelayam Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit Pronpinsi.
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama masa kehamilan (Dinkesprop Aceh, 2006: 67)
Persalinan merupakan suatu proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada manusia setiap saat terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang memadai. Persalinan dibagi menjadi empat tahap penting dan kemungkinan penyulit dapat terjadi pada setiap tahap tersebut ( Manuaba, IG, 2009 )
Pada persalinan terjadi perubahan fisik yaitu : ibu akan merasa sakit pinggang, sakit perut, merasa kurang enak, capai, lesu, tidak nyaman, tidak bisa tidur nyenyak. Dan perubahan psikis yang terjadi yaitu merasa ketakutan sehubungan dengan diri sendiri, takut kalau terjadi bahaya terhadap dirinya pada saat persalinan, takut tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya, takut yang dihubungkan dengan pengalaman yang sudah lalu, misalnya mengalami kesulitan pada persalinan yang lalu, ketakutan karena anggapan sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahayakan ( Ibrahim,C, 2003 )
Pemeriksaan obstetri meliputi banyak prosedur yamg masing-masing berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang dilakukan. Untuk pemeriksaan dasar obstetri, pada umumnya diperlukan pemeriksaan antenatal, anamnesis dan pemeriksaan fisik ibu hamil meliputi inspeksi, palpasi dan auskultasi. Pemeriksaan antenatal hanya memfokuskan pada hal-hal penting yang harus segera dikenali dan bagaimana kondisi-kondisi tertentu berubah sesuai dengan berlanjutnya usia kehamilan. Pemeriksaan fisik berupa palpasi dan auskultasi bertujuan untuk mengetahui usia kehamilan, letak, presentasi, jumlah janin, kondisi janin dan kesehatan muatan dengan jalan lahir
Pemeriksaan Ante Natal Care adalah untuk mengetahui kesehatan ibu dan bayinya secara rutin. Pada Trimester I minimal 1 kali pemeriksaan yaitu pada waktu terlambat haid sampai dengan 12 minggu, Trimester II 1 kali pemeriksaan pada umur kehamilan antara 13 minggu sampai dengan 28 minggu, Trimester III pada umur kehamilan 29 sampai dengan 38 minggu 2 kali pemeriksaan, setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 1 mingu sekali sampai dengan persalinan. Pemeriksaan terdiri dari 4 leopold untuk mengetahui umur kehamilan
Manuver Leopold merupakan teknik pemeriksaan pada perut ibu bayi untuk menentukan posisi dan letak janin dengan melakukan palpasi abdomen, namun menjadi sulit dilakukan bila bertemu dengan ibu hamil yang obes atau dengan ibu hamil yang memiliki jumlah cairan amnion berlebih. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh perawat sebelum melakukan manuver Leopold