Tuesday, 11 June 2013
Kejadian Gawat Janin
12:03
No comments
1.
Pengertian
Gawat janin
menunjukkan suatu keadaan bahaya yang relatif dari janin yang secara serius,
yang mengancam kesehatan janin. Istilah gawat janin (fetal distress) terlalu luas dan kurang tepat menggambarkan situasi
klinis. Ketidakpastian dalam diagnosis gawat janin yang didasarkan pada
interpretasi pola frekuensi denyut jantung janin menyebabkan munculnya istilah-istilah
deskriptif misalnya “reassuring”
(meyakinkan) atau “nonreassuring”
(meragukan, tidak meyakinkan). (Muchtar, 2000)
Gawat janin
juga umum digunakan untuk menjelaskan kondisi hipoksia yang bila tidak
dilakukan penyelamatan akan berakibat buruk yaitu menyebabkan kerusakan atau
kematian janin jika tidak diatasi secepatnya atau janin secepatnya dilahirkan.
Hipoksia ialah keadaan jaringan yang kurang oksigen, sedangkan hipoksemia ialah
kadar oksigen darah yang kurang. Asidemia ialah keadaan lanjut dari hipoksemia
yang dapat disebabkan menurunnya fungsi respirasi atau akumulasi asam. (Muchtar,
2000)
Kegawatan
yang kronik dapat timbul setelah suatu periode waktu yang panjang selama
periode antenatal bila status fisiologis dari unit ibu-janin-plasenta yang
ideal dan normal terganggu. Hal ini dapat dipantau melalui evaluasi dari
pertumbuhan janin intar uteri, keadaan biofisikal janin, cordosintesis, dan velosimetri
Doppler (springer) Gawat janin
akut disebabkan oleh suatu kejadian yang tiba-tiba yang mempengaruhi oksigenasi
janin. (Muchtar, 2000)
Gawat janin
selama persalinan menunjukkan hipoksia (kurang oksigen) pada janin. Tanpa
oksigen yang adekuat, denyut jantung janin kehilangan variabilitas dasarnya dan
menunjukkan deselerasi (perlambatan) lanjut pada kontraksi uterus. Bila
hipoksia menetap, glikolisis (pemecahan glukosa) anaerob menghasilkan asam
laktat dengan pH janin yang menurun. (Muchtar, 2000)
2.
Etiologi
Kejadian Gawat Janin
Ada
beberapa kemungkinan penyebab gawat janin, namun biasanya gawat janin terjadi
karena beberapa mekanisme yang berkesinambungan. Penurunan aliran darah
plasenta akibat kontraksi dapat menyebabkan kompresi terhadap tali pusat.
Sehingga pada wanita yang mengalami persalinan lama hal ini dapat menyebabkan
kegawatan pada bayi melalui mekanisme di atas. Kegawatan akut dapat
terjadi akibat abrupsio plasenta, prolaps tali pusat (terutama dengan
presentasi bokong), keadaan hipertonik uterine dan penggunaan oksitosin. Hipotensi
dapat terjadi akibat anestesi epidural atau posisi supine, dimana hal ini dapat
mengurangi aliran darah vena cava kembali ke jantung. (Wiknjosastro,2008)
Hendaknya
kita dapat menganalisa kondisi janin dan ibu,untuk kemudian membuat pemeriksan
khusus dalam membuktikan kebenaran analisa tersebut. Kondisi klinik yang
berkaitan dengan hipoksia ialah :
a. Kelainan pasokan
plasenta : solutio plasenta, plasenta previa, postterm, prolapsus tali pusat,
lilitan tali pusat, pertumbuhan janin terhambat, isufisiensi plasenta
b. Kelainan arus
darah plasenta : hipotensi ibu, hipertensi, kontraksi hipertonik,
c. Saturasi oksigen
ibu berkurang: hipoventilasi, hipoksia, penyakit jantung.
Bila
pasokan oksigen dan nutrisi berkurang , maka janin akan mengalami retardasi
organ bahkan risiko asidosis dan kematian. Bermula dari upaya redistribusi
aliran darah yang akan ditujukan pada organ penting seperti otak dan jantung
dengan mengorbankan visera (hepar dan ginjal). Hal ini tampak dari volume
cairan amnion yang berkurang (oligohidramnion). Bradikardia yang terjadi
merupakan mekanisme dari jantung dalam bereaksi dari baroreseptor akibat
tekanan (misalnya hipertensi pada kompresi tali pusat) atau reaksi kemoreseptor
akibat asidemia (Wiknjosastro,2008)
Gambaran Pengetahuan Bidan Tentang Kejadian Gawat Janin Selama Masa Kehamilan Di Wilayah Kerja Puskesmas
11:48
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan
pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesahatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat,
bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam
lingkungan dan dengan prilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat
kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia (Dep Kes RI, 2012)
Pada masa kehamilan keluhan keluhan yang terjadi merupakan suatu hal
yang perlu diketahui oleh para ibu hamil, diharapkan dengan kehamilan yang sedang dijalani
bukan menjadi suatu hal yang menyiksa hari - hari ibu hamil melainkan menjadi
suatu hal yang menyenangkan (Gulardi, 2004).
Gawat janin atau secara umum
disebut fetal distress perlu dibahas dan dirumuskan karena sampai saat ini
belum ada ketentuan. Gawat janin selama persalinan menunjukkan hipoksia janin
pada saat kontraksi rahim. Tanpa oksigen yang adekuat, denyut jantung janin
kehilangan variabilitas dasarnya dan menunjukkan deselerasi lanjut pada
kontraksi uterus. Ada yang berpendapat bahwa gawat janin memang benar terjadi
berkaitan dengan asfiksia. Asfiksia baru dapat ditentukan bila terdapat gejala
neurologik atau skor APGAR kurang dari tiga (Gulardi, 2004).
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2009 angka kejadian
gawat janin sebesar 21,6%. Indonesia menunjukkan kejadian gawat janin relatif
cukup banyak ( 34,7 %) terutama terjadi pada persalinan yang diantaranya
bradikardi sebesar
11,4% dan takikardi sebesar 13,2% dari 100.000 kelahiran hidup
(Depkes RI, 2010).
Akibat asfiksia akan bertambah
buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang
akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul (Asril, 2007).
Untuk Propinsi Aceh, Hasil
laporan Kabupaten /kota pada tahun 2012 ibu yang bersalin
berjumlah 73,592 orang, terjadi kasus pendarahan 565 orang dan meninggal 55 orang (0,07%)
kasus perlukaan jalan lahir 69 orang
yang meninggal 13 orang (0,02%). serta ibu meninggal karena sebab lain ada 83
orang (0,1 %) (Din Kes NAD,2012)
Konsep Menoragia
08:49
No comments
2.1.1.
Pengertian
Menoragia
adalah jumlah perdarahan haid yang berlebihan (lebih dari 80 ml ) dan
metroragia adalah perdarahan per vaginam antara dua siklus haid. Pada haid
normal, jumlah darah yang keluar tidak lebih dari 40 ml dan berhenti setelah
proses pengelupasan endometrium berakhir (Wikjosastro, 2007)
Pada
sebagian wanita terjadi perdarahan haid dalam jumlah yang melebihi 80 ml
(menoragia) atau terjadi perdarahan berupa bercak bercak diluar siklus haid
(metroragia) atau campuran (menometroragia). Pada sebagian kasus, penyebab
keadaan ini tidak jelas (Henderson, 2007)
Menoragia
didefinisikan sebagai menstruasi pada interval siklus teratur tetapi dengan
aliran berlebihan dan durasi dan merupakan salah satu keluhan ginekologis yang
paling umum di ginekologi kontemporer. Klinis, menorrhagia didefinisikan
sebagai kehilangan darah total melebihi 80 ml per siklus atau mens berlangsung
lebih lama dari 7 hari. Kesehatan Dunia melaporkan Organisasi bahwa 18 juta
wanita usia 30-55 tahun melihat perdarahan haid mereka untuk menjadi selangit.
Laporan menunjukkan bahwa hanya 10% dari perempuan mengalami kehilangan darah
yang cukup parah menyebabkan anemia atau secara klinis didefinisikan sebagai
menorrhagia. Dalam prakteknya, pengukuran kehilangan darah menstruasi sulit.
Dengan demikian, diagnosis biasanya berdasarkan riwayat pasien.
Siklus haid normal adalah 21-35 hari dalam durasi, dengan perdarahan yang
berlangsung rata-rata 7 hari dan ukur arus 25-80 mL (Manuaba, 2008)
Menoragia
atau hipermenorea adalah perdarahan haid yang lebih banyak
dari normal (lebih dari 80ml/hari) atau lebih lama dari normal (lebih dari 8
hari), kadang disertai dengan bekuan darah sewaktu haid. Siklus haid yang
normal berlangsung antara 21-35 hari, selama 2-8 hari dengan jumlah darah haid
sekitar 25-80 ml/hari.
2.1.2.
Etiologi
Menurut
Manuaba (2008) etiologi dari menorrhagia dibagi menjadi 4 kategori, organik,
endocrinologic, anatomi, dan iatrogenik.
1.
Organik penyebab menorrhagia
termasuk infeksi, gangguan perdarahan, dan disfungsi organ.
- Infeksi dapat dari apapun asal genitourinari. Penyakit menular seksual tersebut adalah dari perhatian yang lebih besar pada populasi remaja dan awal dewasa. Pendarahan dari uretra atau rektum harus selalu dipertimbangkan dalam hasil pemeriksaan, khususnya pada wanita pascamenopause yang memiliki temuan negatif setelah hasil pemeriksaan untuk perdarahan vagina.
- Gangguan Koagulasi dapat menghindari diagnosis sampai menarche, ketika perdarahan menstruasi berat menyajikan sebagai gangguan tak henti-hentinya. Ini termasuk penyakit von Willebrand, faktor II, V, VII, dan kekurangan IX, defisiensi protrombin; purpura trombositopenia idiopatik (ITP); thromboasthenia. Dan Lihat lebih lanjut tentang gangguan perdarahan
- Disfungsi Organ menyebabkan menorrhagia termasuk gagal hati atau ginjal. penyakit hati kronis mengganggu produksi faktor pembekuan dan mengurangi metabolisme hormon (misalnya estrogen). Salah satu dari masalah ini dapat mengakibatkan pendarahan rahim berat.
Gambaran Pengetahuan Mahasiswi Tingkat II Diploma III Kebidanan Tentang Pemeriksaan Fisik Pada Ibu Hamil Di STIKes
07:36
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tujuan pembangunan
kesehatan indonesia sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal melaluai terciptanya masyarakat, bangsa dan negara
Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat serta
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan dan fasilitas kesehatan secara adil
dan merata diseluruh wilayah republik Indonesia dahn dapat mewujidkan
lingkungan sehat dan memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta
dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas di tahun 2005. (Depkes RI 2010)
Di dalam Rencana Strategi Making
Pregnancy safer (MPS) di
indonesia 2001 – 2010 disebutkan bahwa dalam konteks Rencanan Pembangunan
Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010,visi MPS adalah Kehamilan dan persalinan
berlangsung aman,serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat.Mortalitas da
morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara
berkembang. Di negara
miskin,sekitar 25-50 % kematian wanita subur usia disebabkan hal berkaitan
dengan kehamilan. Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah
menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan
Angka Kematia Neonatal menjadi 16 per 1000
kelahiran hidup.keluaran yang diharapkan dari strategi ini adalah
terselenggaranya pelayan kesehatanmaternal dan neonatal dasar berkualitas di
Polindes dan Puskesmas,Pelayam Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di Rumah Sakit Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit
Pronpinsi.
Pelayanan antenatal adalah pelayanan
kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum,
bidan, pembantu bidan dan perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya,
sesuai dengan standard minimal pelayanan antenatal yang meliputi 5T yaitu
timbang berat badan, ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi
TT, ukur tinggi fundus uteri dan pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama
masa kehamilan (Dinkesprop Aceh,
2006: 67)
Persalinan merupakan suatu
proses alami yang akan berlangsung dengan sendirinya, tetapi persalinan pada
manusia setiap saat terancam penyulit yang membahayakan ibu maupun janinnya
sehingga memerlukan pengawasan, pertolongan dan pelayanan dengan fasilitas yang
memadai. Persalinan dibagi menjadi empat tahap penting dan kemungkinan penyulit
dapat terjadi pada setiap tahap tersebut (
Manuaba, IG, 2009 )
Pada persalinan terjadi
perubahan fisik yaitu : ibu akan merasa sakit pinggang, sakit perut, merasa
kurang enak, capai, lesu, tidak nyaman, tidak bisa tidur nyenyak. Dan perubahan
psikis yang terjadi yaitu merasa ketakutan sehubungan dengan diri sendiri,
takut kalau terjadi bahaya terhadap dirinya pada saat persalinan, takut tidak
dapat memenuhi kebutuhan anaknya, takut yang dihubungkan dengan pengalaman yang
sudah lalu, misalnya mengalami kesulitan pada persalinan yang lalu, ketakutan
karena anggapan sendiri bahwa persalinan itu merupakan hal yang membahayakan ( Ibrahim,C, 2003 )
Pemeriksaan obstetri meliputi banyak prosedur
yamg masing-masing berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang
dilakukan. Untuk pemeriksaan dasar obstetri, pada umumnya diperlukan pemeriksaan
antenatal, anamnesis dan pemeriksaan fisik ibu hamil meliputi
inspeksi, palpasi dan auskultasi. Pemeriksaan antenatal hanya memfokuskan pada
hal-hal penting yang harus segera dikenali dan bagaimana kondisi-kondisi
tertentu berubah sesuai dengan berlanjutnya usia kehamilan. Pemeriksaan
fisik berupa palpasi dan auskultasi bertujuan untuk mengetahui usia kehamilan,
letak, presentasi, jumlah janin, kondisi janin dan kesehatan muatan dengan
jalan lahir
Pemeriksaan Ante Natal Care adalah untuk
mengetahui kesehatan ibu dan bayinya secara rutin. Pada Trimester I minimal 1
kali pemeriksaan yaitu pada waktu terlambat haid sampai dengan 12 minggu,
Trimester II 1 kali pemeriksaan pada umur kehamilan antara 13 minggu sampai
dengan 28 minggu, Trimester III pada umur kehamilan 29 sampai dengan 38 minggu
2 kali pemeriksaan, setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 1 mingu sekali
sampai dengan persalinan. Pemeriksaan terdiri dari 4 leopold untuk mengetahui
umur kehamilan
Manuver Leopold merupakan teknik
pemeriksaan pada perut ibu bayi untuk menentukan posisi dan letak janin dengan
melakukan palpasi abdomen, namun menjadi sulit dilakukan bila bertemu dengan
ibu hamil yang obes atau dengan ibu hamil yang memiliki jumlah cairan amnion
berlebih. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh perawat sebelum
melakukan manuver Leopold
Subscribe to:
Posts (Atom)











