This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tuesday, 22 January 2013

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Vitamin A pada Bayi 6 – 12 bulan di Wilayah kerja Puskesmas



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.       Latar Berlakang.
Indonesia sebagai salah satu Negara sedang berkembang banyak mengalami masalah dibidang Kesehatan diantaranya derajat kesehatan. Derajat kesehatan antara lain ditentukan oleh derajat kesehatan Ibu dan Anak sebagai kelompok penduduk yang rawan dan rentan. Oleh sebab itu, perlu diupayakan penurunan angka kematian ibu dan bayi merupakan indikator penilaian derajat kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2004).
Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI), derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih perlu ditingkatkan. SDKI mengungkapkan, angka kematian ibu (AKI), yaitu 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) 34 per 1000 KH. (Depkes RI, 2008)
Menurut Rinskesdas 2007, penyebab kematian utama bayi adalah ganguan pernapasan (35,9%) dan berat lahir rendah (32,4%). Sedangkan kematian pada balita paling banyak diakibatkan oleh diare, pneumonia dan hal yang berlatar pada kekurangna gizi. Jadi, jika ingin menekan kematian bayi dan balita, perhatian yang besar perlu pada upaya penyelamatan bayi baru lahir dan penangangan penyakit infeksi (diare dan pneumonia). (Depkes RI, 2008)
Anak yang tidak memperoleh cukup vitamin A. Beresiko terkena rabun senja.  Kebutaan yang menimpa anak didunia kini telah mencapai 1,5 milliar (WHO, 2000) dengan temuan kasus baru sebanyak setengah juta setiap tahun gangguan penglihatan ini, terutama yang terjadi pada tahun pertama kehidupan, (Arisman, 2007).
Sekitar 125 juta anak balita di dunia mengalami kekurangan vitamin A subklinik sementara 1,3 juta dari jumlah itu telah menampakan gejala klinis xeroftalmia itu berarti resiko mereka untuk terjangkit terinfeksi membesar sebanyak 20 kali. (Arisman, 2007).
Saat ini masalah kekurangan vitamin A (KVA) masih merupakan masalah gizi utama yang terjadi di Indonesia . Menurut data Departemen Kesehatan tahun 2005 menunjukan hampir 10 juta balita menderita KVA sub klinis (serum retinol < 20 µg/dl), 60 ribu diantaranya disertai dengan gvejala bercak bitot yang terancam buta. Selain itu pada beberapa propinsi di Indonesia telah ditemukan kasus-kasus baru KVA yang terjadi pada anak penderita gizi buruk. Hasil kajian berbagai studi menyatakan bahwa Vitamin A merupakan zat gizi esensial bagi manusia, karena zat gizi ini sangat penting dan konsmsi makanan kita cenderung belum mencukupi dan masih rendah sehinga harus dipenuhi dari luar. Pemerintah telah lama maelakukan upaya penaggulangan masalah kekurangan Vitamin A melalui suplementasi kapsul vitamin A pada bayi 6 – 11 bulan dengan Vitamin A biru dan 12 – 59 bulan dengan Vitamin A merah, ibu nifas dan kasus campak serta diare (Depkes RI, 2005).

Gambaran Tingkat Pengetahuan Seks Pada Siswa Di SMUN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Remaja adalah mereka yang sedang mengalami perubahan dari masa kanak-kanak manuju masa dewasa. Perubahan tersebut mencakup perubahan fisik dan perubahan emosional yang kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Menurut World Healty Organization (WHO) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun sementara menurut BKKBN usia remaja berkisar antara 10 sampai 21 tahun. (BKKBN, 2006).
Migrasi international dan globalisasi telah mengakibatkan adanya masalah kesehatan yang disebabkan oleh gaya hidup yang diadopsi remaja termasuk perilaku berisiko seperti hubungan seksual dengan banyak pasangan atau pasangan berganti-ganti, hubungan seks prinikah serta hidup bersama (kumpul kebo). Gaya hidup “modern” membahayakan kesehatan reproduksi terutama penularan penyakit menular seksual (PMS) termasuk Human Immunodefisiency Virus/Acqerred Immune Defisiency Syndrome (HIV/AIDS) (BKKBN, 2005).
Pemahaman masyarakat tentang seksualitas masih amat kurang. Sebagian besar masyarakat masih percaya seputar mitos seksualitas dimana justru mitos tersebut merupakan suatu pemahaman yang salah. Hal ini berpengaruh bagi remaja yang merupakan bagian dari masyarakat yang belum pantas mengalami pengalaman seks. Kurangnya pemahaman seksualitas pada remaja akan merugikan remaja itu sendiri karena mereka akan terjebak dalam perilaku seksual negative yang tentu saja sangat merugikan kehidupan mereka di masa yang akan datang. (Sotjiningsih, 2006).
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh pusat Kesehatan Masyarakat UI terhadap 170 remaja di jakarta  ditemukan persepsi remaja terhadap perilaku sex cenderung lebih permisif, dimana hasil penelitian menunjukan 25% responden menyatakan berhubungan seksboleh asal dengan pacar, asal suka sama suka, 3 % responden telah berhungan seks dengan kekasihnya, 35 % remaja pria menyatakan tidak perlu lagi menjaga keperjakaannya, 10% remaja wanita tidak perlu lagi mempertahankan keperawanannya, 20% remaja tidak keberatan dengan pacar saling berciuman, 10% remaja mengaku telah saling meraba pasangannya. (http:www.bkkbn.go.id./articledetail.php/aid=751,2007)
Di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Centra Muda Putroe Phang (CMPP) yang bekerjasama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) 2003-2004 Di Nanggroe Aceh Darussalam remaja yang bermasalah dengan perilaku seksual remaja terungkap yang melakukan pacaran dan seks/kelainan seks 21 orang (18,4), yang melakukan aborsi 5 orang (4,4%), perkosaan 5 orang (4,4%), hamil diluar nikah 5 remaja (4,4%) dan jumlah remaja yang bermasalah dan berkonsultasi langsung dengan konselor CMPP-PKBI adalah 114 orang. (CMPP-PKBI NAD, 2004).

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN IBU TENTANG SIBLING RIVALRY



BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang
Sibling Rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan diantara adik dan kakak. Hal ini tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar adik dan kakak akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling rivalry akan semakin besar apabila adik dan kakak berjenis kelamin sama dan jarak usia keduanya cukup dekat (Puspitasari, 2003).
Hubungan antara adik dan kakak yang masih kecil merupakan salah satu interaksi yang berpotensi menimbulkan konflik dan bisa menyebabkan adanya sibling rivalry, yaitu permusuhan dan kecemburuan antar saudara kandung yang dapat menimbulkan ketegangan diantara adik dan kakak. Sibling rivalry dapat berbeda intensitasnya tergantung pada jarak usia anak, usia anak itu sendiri, jenis kelamin anak serta urutan kelahiran. Saudara kandung dengan jarak usia yang pendek akan bertengkar lebih hebat dibandingkan dengan yang jauh perbedaan umurnya. Begitu juga saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama, akan bersaing lebih hebat dibandingkan dengan yang berbeda jenis kelaminnya.
Dalam  masyarakat istilah Sibling rivalry masih merupakan, istilah yang sangat asing bahkan ada masyarakat yang belum pernah mendengar kata Sibling rivalry namun secara teori sebenarnya masyarakat telah melakukan Sibling rivalry dengan istilah hubungan antara kakak dan adik (Muslihayaton, 2010).
Sibling rivalry dapat terjadi bila masing-masing anak berusaha untuk lebih unggul satu dengan yang lain. Selain itu peranan orangtua juga sangat penting dan menentukan akan terjadinya sibling rivalry ini dalam keluarganya. Salah satunya adalah karena salah satu anak merasa terancam dengan terbaginya perhatian pada anak yang lain, karena mereka masih sangat bergantung pada cinta dan kasih sayang orangtuanya. Pembagian perhatian yang tidak adil juga dapat menyebabkan sibling rivalry, karena salah satu anak cemburu dan merasa tersisih oleh saudara kandungnya. Sementara penyebab lainnya berasal dari diri anak itu sendiri, yaitu saat salah seorang anak menyadari kekurangannya dari saudara kandungnya (Melinda, 2011).
 Sibling rivalry ini dapat terjadi bila masing-masing anak berusaha untuk lebih unggul satu dengan yang lain. Selain itu peranan orangtua juga sangat penting dan menentukan akan terjadinya sibling rivalry ini dalam keluarganya. Salah satunya adalah karena salah satu anak merasa terancam dengan terbaginya perhatian pada anak yang lain, karena mereka masih sangat bergantung pada cinta dan kasih sayang orangtuanya. Pembagian perhatian yang tidak adil juga dapat menyebabkan sibling rivalry, karena salah satu anak cemburu dan merasa tersisih oleh saudara kandungnya. Sementara penyebab lainnya berasal dari diri anak itu sendiri, yaitu saat salah seorang anak menyadari kekurangannya dari saudara kandungnya. (Melinda, 2011).
Untuk mengatasi sibling rivalry dalam keluarga, ada beberapa tips yang dapat dipraktekkan oleh orangtua. Jika ini Anda lakukan niscaya anak-anak Anda akan memiliki rasa toleransi, berempati satu sama lain serta dapat menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa mendatangkan masalah baru. (Melinda, 2011).
Mainan juga kadang menjadi salah satu bahan pertengkaran, terutama pada anak-anak yang berjenis kelamin sama. Solusinya, Anda dapat memberikan label pada masing-masing mainan anak Anda agar mereka tidak saling berebut. Selain itu, mereka juga akan terdidik untuk menghargai barang milik orang lain serta melatih sikap empati dengan merasakan bila barang miliknya direbut atau dipakai oleh orang lain. Namun setelah mereka beranjak besar, Anda juga harus mengajarkan mereka untuk berbagi dengan menggunakan barang yang sama secara bergantian untuk melatih toleransi dan kebersamaan. (Melinda, 2011).
Pengetahuan ibu tentang Sibling Rivalry  merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan kepribadian bayi, secara tiori Sibling Rivalry  merupakan hal yang biasa terjadi dalam keluarga namun bila ibu tidak mempu memcegah maka persaingan yang terjadi antar anak akan membekas dan terbawa sampai dewasa, sangat penting pengetahuan ibu tentang Sibling Rivalry  dan cara pencegahan dan penangannnya, sehingga persaingan yang terjadi menjadi hal yang positif, dan membantu kematangan kehidupan sosial anak dan mampu memecahkan masalah dalam persaingan yang ketat, namun bila persaingan (Sibling Rivalry) berubah menjadi negative maka akibat yang ditimbulkan menjadi saling merusak diantara anak-anak dalam keluarga.

Monday, 21 January 2013

Acute Flaccide Paralysis (AFP)



Acute Flaccide Paralysis (AFP) adalah suatu kelumpuhan yang sifatnya mendadak dan layuh, biasanya menyerang satu tungkai, lemas sampai tidak ada gerakan, otot bisa mengecil, reflek fisiologis dan refleks patologis negative (Widoyono, 2008).
Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot (Defka, 2006).
Poliomielitis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus polio dan biasanya menyerang anak-anak dengan gejala lumpuh layuh akut (AFP= Acute Flaccid Paralysis). Program eradikasi polio global telah dicanangkan oleh WHO dengan target dunia bebas polio tahun 2008, sedangkan Indonesia bebas polio ditargetkan pada tahun 2005. WHO menyatakan bahwa Indonesia harus melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang ke IV. Oleh karena itu Indonesia melaksanakan PIN IV pada bulan September dan Oktober 2002 (2). PIN dimaksudkan untuk meningkatkan status antibodi anak balita sehingga dapat memutus sirkulasi virus polio liar di masyarakat..
(Defka, 2006)
Penyebab Acute Flaccide Paralysis (AFP) adalah virus polio termasuk genus enterovirus, terdapat tiga tipe yaitu tipe 1,2,dan 3 ketiga virus ini menyebabkan kelumpuhan. Tipe 1 adalah tipe yang paling mudah diisolasi, diikuti tipe 3, sedangkan tipe 2 paling jarang iisolai. Tipa yang paling sering menyebabkan bawah adalah tipe 1 (Widoyono, 2008).
Keadaan dehidrasi dapat timbul akibat demam tinggi, anokersia dan muntah. Pasien perlu diberi minum banyak, 50 ml/kgBB dalam 4-6 jam pertama berupa air teh dengan gula, sirup, susu, sari buah atau oralit. Setelah keadaan dehidrasi dapat diatasi, berikan cairan rumatan 80-100 ml/KgBB dalam 24 jam berikut.
Gejala klinis Poliomielitis terbagi menjadi empat bagian yaitu: Poliomielitis asimtomatis : Setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali. Poliomielitis abortif : Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen.
Poliomielitis non paralitik : Gejala klinik hamper sama dengan poliomyelitis abortif , hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau masuk kedalam fase ke2 dengan nyeri otot.
(Defka, 2006)
Peran utama dari perawat adalah sebagai pelaksana asuhan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit atau yang mempunyai masalah kesehatan/keperawatan apakah itu dirumah, disekolah, puskesmas, panti dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan. (Efendi, 2002).
Masalah keperawatan yang timbul pada anak dengan Acute Flaccide Paralysis (AFP) adalah Nyeri, hipertermia, kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan) intoleransi aktifitas dan kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit (Defka, 2006).
Penanganan Acute Flaccide Paralysis (AFP) minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan ait teh, gula, atau susu, Antipiretik jika terdapat demam, Antikonvulsan jika terdapat kejang, pemberian cairan melalui infus, dilakukan jika pasien mengalami kesulitan minum dandan nilai hematokrit cenderung meningkat. (Suriadi, 2001).