Wednesday, 13 February 2013
Dukungan Keluarga terhadap pemberian asi eksklusif
13:56
No comments
Dukungan adalah suatu bentuk
dorongan/semangat yang diberikan baik berupa bantuan fisik maupun mental yang diberikan
oleh orang-orang terdekat seperti suami dan keluarga dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan/memecahkan masalah yang dihadapi.
Dukungan keluarga adalah dorongan
atau perhatian yang diberikan dua atau lebih individu yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan atau adopsi, berinteraksi satu sama lain dalam
perannya dan menciptakan dan mempertahankan suatu kebudayaan.
Dukungan keluarga merupakan andil
yang besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Jika seluruh keluarga
mengharapkan kehamilan, mendukung bahkan memperhatikan dukungannya dalam
berbagai hal, ibu hamil pun akan merasa lebih percaya diri, lebih bahagia dan
siap dalam menjalani kehamilan, persalinan dan masa nifas.
1.
Konsep Keluarga
Keluarga adalah hubungan darah yang
merupakan suatu kesatuan sosial yang diikat oleh hubungan darah antara satu
dengan yang lainnya. Keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam
tempat tinggal bersama dari masing-masing anggota merasakan adanya pertautan
batin sehingga terjadi saling mempengaruhi saling memperhatikan dan saling
menyerahkan diri. Keluarga adalah persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih
saying antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan yang
bermaksud untuk saling menyempurnakan diri.
Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul
dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap, dan keadaan saling tergantung.
Secara prinsip keluarga adalah unit terkecil masyarakat, terdiri atas dua orang
atau lebih, adanya perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu atap rumah
tangga, dibawah asuahan seorang kepala rumah tangga, berinteraksi di antara
sesama anggota keluarga, setiap anggota mempunyai peran masing-masing,
menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan.
Keluarga yang rukun dan mengerti
tentang arti hidup sehat akan memberikan dukungan penuh kepada anggota keluarga
bila menderita sakit. Salah satu bentuk dukungan keluarga adalah dengan
menganjurkan dan membawa anggota keluarga berobat ke fasilitas pelayanan
kesehatan dan memberikan perawatan sendiri dirumah .
Keluarga yang sehat akan mencoba
mencari jalan untuk membantu mencapai potensi kesehatan yang lebih tinggi.
Pendekatan yang menyenangkan dari orang yang berarti dalam lingkungan yang
simpatik dan bersahabat akan membawanya kepada pembinaan emosi sehingga dapat
meningkatkan motivasi dan keinginan untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan.
Dorongan dan ajaran dari orang dekat dan anggota keluarga untuk mendapatkan
jasa pelayanan kesehatan.
2.
Tipe Keluarga
a.
Keluarga inti, yaitu suatu
rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan anak (anak kandung)
b.
Keluarga besar, yaitu keluarga
inti ditambah dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya
kakek, nenek, paman dan bibi
c.
Keluarga “Dyad” yaitu suatu
rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa anak
d.
Single Parent, yaitu suatu
rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak (kandung atau
angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian
e.
Single adult, yaitu suatu rumah
tangga yang hanya terdiri dari seorang dewasa
f.
Keluarga usila, yaitu suatu
rumah tangga yang terdiri dari suami istri lanjut usia
Tipe keluarga dalam penelitian ini
adalah keluarga inti yaitu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan
anak-anak.
Peran keluarga menggambarkan
seperangkat perilaku internal, sifat,
kegiatan yang berhubungan
dengan individu dan posisi dan situasi tertentu. Peran individu dalam keluarga
di dasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan
masyarakat.
gambaran dukungan keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu menyusui
13:52
No comments
Sebagaimana diketahui bahwa
salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah
kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan bayi dan anak yang masih kecil
dan sudah mendapat adik lagi yang sering disebut “kesundulan” artinya terdorong
lagi oleh kepala adiknya yang telah muncul dilahirkan. Keadaan ini karena anak
dan bayi merupakan golongan rentan.
Terjadinya kerawanan gizi
pada bayi disebabkan karena selain makanan yang kurang juga karena Air Susu Ibu
(ASI) banyak diganti dengan susu botol dengan cara dan jumlah yang tidak
memenuhi kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya yang
negatif dipandang dari segi gizi.
Berdasarkan data WHO, cakupan ASI eksklusif masih rendah untuk negara
berkembang dan negara miskin termasuk Indonesia. Berdasarkan penelitian, bayi
dibawah usia 6 bulan yang tidak diberikan ASI mempunyai risiko lima kali lipat
terhadap kesakitan dan kematian akibat diare dan pneumonia dibandingkan dengan
bayi yang mendapatkan ASI eksklusif.
WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 4-6 bulan. ASI
eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa memberikan cairan atau makanan padat
lainnya kecuali vitamin, mineral atau obat dalam bentuk tetes atau sirup.
Setiap tahunnya lebih dari 25.000 bayi Indonesia dan 1,3 juta bayi di seluruh
dunia dapat diselamatkan dengan pemberian ASI eksklusif. Pentingnya kematian
bayi ini untuk diturunkan, terkait dengan tujuan ke empat Millenium Development
Goal “reduce infant mortality”. Angka kematian Bayi (AKB) Indonesia sekarang
ini berada pada kisaran 30 per 1000 kelahiran hidup dan sekitar 5% kematiannya
diakibatkan oleh penyakit infeksi yang terkait dengan rendahnya imunitas bayi.
Berdasarkan data terbaru Departemen Kesehatan, angka kematian bayi
dan balita di Indonesia semakin meningkat. Setidaknya, tiap 6 menit bayi baru
lahir di Indonesia meninggal. Dr. Utami Roesli SpA, dokter spesialis anak dari
RS. St Carolus mengatakan angka kematian bayi dan balita yang tinggi itu, dapat
ditekan dengan melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan memberikan ASI
ekslusif. Pasalnya, ASI memiliki kandungan "ajaib" yang tidak ada
pada susu atau makanan apapun.
Dalam pembangunan bangsa,
peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini
yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam
peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI
semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan
persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan
tentang peningkatan penggunaan ASI.
Tuesday, 12 February 2013
Konsep Persepsi
15:04
No comments
Setiap individu selalu mengalami apa
yang disebut persepsi sebagai hasil penghajalannya terhadap perangsang
(stimulus) yang berasal dari lingkungan tidak jarang persepsi diartikan sebagai
suatu pencerminan yang sempurna tentang realitas padahal yang sebenarnya
bukanlah demikian Dafidof (1981) dalam (Asrori 2004) mengatakan tiga alasa yang mendukung
bahwa persepsi itu bukanlah realita.
1. Indra yang dimiliki oleh manusia tidak dapat memberikan respon
terhadap semua aspek yang ada dalam lingkungan.
2.
Manusia sering kali melakukan
persepsi terhadap stimulus stimulus yang pada kenyataannya tidak ada.
3.
Persepsi manusia tergantung
pada apa yang diharapkan, pengalaman yang dimiliki dan motivasi yang ada pada
dirinya.
Atkinson dan Hilgard (1983) dalam (Anrori, 2004) mengatakan bahwa
persepsi merupakan proses menginterprestasikan dan mengorganisasikan pola –
pola stimulus yang berasal dari lingkungan .
(Asrori, 2004) mengatakan bahwa
Persepsi remaja memiliki pengaruh yang berarti terhadap dinamika penyesuaian
diri karana persepsi memiliki peranan
penting dalam perilaku yaitu :
- Sebagai pembentukan pengembangan sikap terhadap suatu objek atau peristiwa yang berarti akan berpengaruh terhadap perilaku penyesuaian diri secara terarah.
- Sebagai pengembangan fungsi kognitif, afektif, dan kognitif sehingga berpengaruh terhadap penyesuaian yang lebih utuh proporsional sesuai dengan pertimbangan dan pengalaman yang relevan.
- Meningkatkan keaktifan, kedinamisan dan kesadaran terhadap lingkungan sehingga dapat menggerakan motivasi untuk menyasuaikan diri sefara lebih besar.
- Meningkatkan pengamatan dan penilaian secara objektif terhadap lingkungan sehinggaperilaku penyesuaikan diri menjadi lebih rasional dan realistis.
- Mengembangkan kemampuan mengelola pengalaman dalam kehidupan sehari hari secara berkelanjutan sehungga dapat mendorong kearah proses sosialisasi yang semakin mantap.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal (Jalaluddin, 2008)
1. Faktor Internal yang
mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu,
yang mencakup beberapa hal antara lain :
- Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
- Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
- Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
- Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
- Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
- Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
2. Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari linkungan dan
obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah
sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana
seseoarang merasakannya atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal
yang mempengaruhi persepsi adalah :
- Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
- Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
- Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
- Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
- Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.
Etiologi dan Faktor Resiko Obesitas
14:59
No comments
Penambahan berat badan terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara
jumlah kalori yang dikonsumsi dengan kebutuhan tubuh. Jika makanan yang dimakan
memberikan kalori lebih dari kebutuhan tubuh, maka kalori tersebut akan ditukar
atau disimpan sebagai lemak. Pada awalnya, hanya ukuran sel-sel lemak yang akan
meningkat. Tetapi apabila ukuran sel-sel tersebut tidak bisa lagi mengalami
peningkatan, maka sel-sel akan menjadi bertambah banyak. Apabila tubuh
mengalami pengurangan berat badan, yang akan berkurang hanyalah ukuran sel-sel
lemak, bukan jumlahnya yang berkurang mengakibatkan lemak akan mudah terbentuk
semula.
terdapat banyak
penyebab obesitas. Ketidakseimbangan asupan kalori dan konsumsi bervariasi bagi
tiap individu. Turut memainkan peranan dan berkontribusi adalah:
a. Faktor Genetik
Obesitas cenderung berlaku dalam keluarga.
Ini disebabkan oleh faktor genetik, pola makan keluarga, dan kebiasaan gaya
hidup. Walaupun begitu, mempunyai anggota keluarga yang obesitas tidak menjamin
sesorang itu juga akan mengalami obesitas.
b. Faktor Emosional
Sebagian masyarakat mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak karena
depresi, putus asa, marah, bosan, dan banyak alasan lain yang tidak ada
hubungannya dengan rasa lapar. Ini tidak berarti bahwa penderita obesitas
mengalami lebih banyak masalah emosional daripada orang normal yang lain.
Tetapi hanya berarti bahwa perasaan seseorang mempengaruhi kebiasaan makan dan
membuat seseorang makan terlalu banyak. Dalam kasus yang jarang, obesitas dapat
digunakan sebagai mekanisme pertahanan akibat tekanan sosial yang dihadapi
terutama pada dewasa putri. Dalam kasus seperti ini ditambah dengan masalah
emosional yang lain, intervensi psikologis mungkin menberikan manfaat.
c. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang paling memainkan
peranan adalah gaya hidup seseorang. Kebiasaan makan dan aktivitas seseorang dipengaruhi
oleh masyarakat sekitarnya. Makan terlalu banyak dan aktivitas yang pasif
(tidak aktif) merupakan faktor resiko utama terjadinya obesitas.
d. Faktor Jenis Kelamin
Secara rata-rata, lelaki mempunyai massa otot yang lebih banyak dari
wanita. Lelaki menggunakan kalori lebih banyak dari wanita bahkan saat
istirahat karena otot membakar kalori lebih banyak berbanding tipe-tipe
jaringan yang lain. Dengan demikian, perempuan lebih mudah bertambah berat
badan berbanding lelaki dengan asupan kalori yang sama.
e. Faktor Usia
Semakin
bertambah usia seseorang, mereka cenderung kehilangan massa otot dan mudah
terjadi akumulasi lemak tubuh. Kadar metabolismejuga akan menurun menyebabkan
kebutuhan kalori yang diperlukan lebih rendah.
f. Kehamilan
Pada wanita, berat badannya cenderung
bertambah 4 – 6 kilogram setelah kehamilan dibandingkan dengan berat sebelum
kehamilan. Hal ini bisa terjadi setiap dari kehamilan dan kenaikan berat badan
ini mungkin akan menyebabkan obesitas pada wanita.
Subscribe to:
Posts (Atom)











