Sunday, 22 September 2013
Konsep Dasar Diabetes Millitus Pada Ibu hamil
07:33
No comments
1.
Pengertian
Diabetes
Militus adalah Penyakit darah manis dapat
merupakan kelainan hereditas dengan
ciri insufisiensi atau absennya insulin dalam sirkulasi darah, konsentrasi gula darah tinggi,
berkurangnya glikogenesis.
2.
Etiologi
a.
Umur ibu sudah mulai
tua.
b. Multiparitas
c.
Gemuk (Obesitas)
d.
Ada anggota keluarga
sakit Diabetes (Hereditas)
e.
Anak lahir dengan berat
badan besar (diatas 4 Kg)
f.
Ada sejarah lahir mati
dan anak lahir besar
g.
Sering Abortus
h. Glukosuria
3.
Patofisiologi.
Dalam
kehamilan terjadi perubahan metabolisma
endokrin dan karbohidrat yang
menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta
kepada janin sehingga kadar glukosa
dalam darah janin hampir menyerupai kadar glukosa
dalam darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin, sehingga kadar gula dalam
darah ibu mempengaruhi kadar gula pada janin. Pengendalian kadar gula terutama
dipengaruhi oleh insulin, disamping
beberapa hormon lain seperti : estrogen,
steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resorpsi makanan maka terjadi hiperglikemia yang relatif lama dan ini
menuntut kebutuhan insulin. Menjelang
aterm kebutuhan insulin meningkat sehingga mencapai 3 kali dari keadaan normal. Hal
ini disebut sebagai tekanan diabetojenik
dalam kehamilan. Secara fisiologik telah terjadi resistensi insulin yaitu bila ia ditambahkan dengan insulin eksogenia tidak mudah menjadi hipoglikimia. Yang menjadi masalah
adalah bila seorang ibu tidak mampu meningkatkan produksi insulin, sehingga dia relatif
hipoinsulin yang mengakibatkan hiperglikimia
atau diabetes kehamilan (Diabetes yang timbul hanya dalam hamil).
Resistensi insulin juga disebabkan oleh adaya hormon estrogen progesteron, kortisol,
prolaktin dan plasenta laktogen. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insuli pada sel, sehingga mengurangi afinitas insulin. Hal ini patut diperhatikan dalam pengendalian penyakit
Diabetes millitus.
4.
Diagnosa
Dapat dengan mudah ditegakan
a.
Anamnesis : Riwayat
persalinan yang lalu, abortus, partus
prematurus, kematian janin, anak lahir besar, Riwayat keluarga (hereditas). keluhan sekarang trias poliuri, polidipsi, polifagi dan pernah berobat sakit darah manis
pada dokter.
b.
Pemeriksaan
1) Pemeriksaan
urine
2)
Pemeriksaan kadar gula
darah puasa dan post – prandial.
3)
Glukosa
toleran tes (GTT)
4)
Nilai kadar gula darah
5.
Klasifikasi Diabetes
Millitus
a.
Tidak tergantung insulin (TTI) Non Insulin Dependent Diebetes Mellitus
(NIDDM) yaitu kasus yang tidak memerlukan insulin
untuk pengendalian kadar gula darah.
b.
Tergantung insulin (TI) Insulin dependent diabetes Mellitus yaitu kasus yang memerlukan insulin dalam pengendalian kadar gula
darah.
Klasifikasi Diabetes Mellitus menurut White (1965) adalah sebagai berikut :
Kelas A. Diabetes kimiawi disebut juga diabetes laten, subklinis atau diabetes
kehamilan, tes toleransi glukosa
tidak normal, penderita tidak memerlukan insulin,
cukup diobati dengan diet saja. Prognosis
bagi ibu dan anak baik.
Kelas B. Diabetes Dewasa, diketahui secara klinis
setelah umur 19 tahun dan berlangsung kurang daripada 10 tahun dan tidak
disertai kelainan pembuluh darah.
Kelas C. Diabetes
yang diderita antara umur 10 – 19 tahun, atau timbul pada umur antara 10 – 19
tahun dan tanpa kelainan pembuluh darah.
Kelas D. Diabetes telah diderita lama, 20 tahun
atau lebih, atau telah diderita sebelum umur 10 tahun, atau disertai kelainan
pembuluh darah, termasuk arteriosklerosis
pada retina dan tungkai, dan retinitis.
Kelas E. Diabetes yang diserta perkapuran pada
pembuluh – pembuluh darah panggul, termasuk arteria
uteria.
Kelas F Diabetes dengan
nefropatia, termasuk glomerulonefritis dan pielonefritis. Diabetes anak remaja (juvenilis),
diabetes yang diderita sejak
anak-anak atau remaja. Karena sedikit atau tidak ada insulin endogen, cenderung menimbulkan keto-asidosis.
6.
Pengaruh diabetes
mellitus pada kehamilan.
a.
Pengaruh dalam
kehamilan
Dalam
kehamilan diabetes mellitus dapat
menyebabkan komplikasi :
1)
Abortus
dan partus prematurus
2)
Pre
– eklamsi
3)
Hidramnion
4)
Kelainan letak janin
5)
Insufisiensi
plasenta
b.
Pengaruh dalam
persalinan
Penyulit
yang sering dijumpai dalam persalinan adalah :
1)
Inersia
uteri dan atonia
uteri
2)
Distosia
bahu karena anak besar
3)
Kelahiran mati
4)
Lebih sering mengakhiri
partus dengan tindakan, termasuk seksio
sesaria
5)
Lebih mudah terjadi
infeksi
6)
Angka kematian maternal
lebih tinggi
c.
Pengaruh dalam nifas
Diabetes
lebih sering mengakibatkan infeksi nifas dan sepsis dan menghambat penyembuhan luka jalan lahir, baik ruptur perinai maupun luka episiotomi.
d.
Pengaruh pada bayi
Diabetes
mempunyai pengaruh tidak baik terhadap hasil konsepsi, dan dapat terjadi penyulit sebagai berikut.
1)
Kematian hasil konsepsi dalam kehamilan muda
mengakibatkan abortus.
2)
Cacat bawaan terutama
pada klas D keatas
3)
Dismaturitas terutama
pada klas D keatas
4)
Janin besar (makrosomia) terutama pada klas A sampai
C
5)
Kematian dalam
kandungan, biasanya pada kelas D keatas
6)
Kematian neonatal
7)
Kelainan neorologik dan psikologik di kemudian hari
7.
Penanganan
a.
Pengobatan medik adalah
sangat bijaksana bila pengobatan medik bekerja sama dengan ahli penyakit dalam.
1)
Diabetes Diet
Penderita kelas A cukup diatur
dietnya tanpa pengobatan dengan insulin.
Menurut lokakarya LIPI/NAS (1968) kebutuhan kalori per hari untuk wanita
Indonesia sehat yang tidak hamil, yang
hamil, dan pada masa laktasi masing –
masing sebanyak 2.000, 2300 dan 2.800 kalori dengan protein 65 – 80 gram.
Penderita diabetes mellitus dengan berat badan rata-rata
cukup di beri diet yang komen yang
mengandung 1.200 – 1.800 kalori sehari selama berlangsungnya kehamilan.
Dalam triwulan I diet dan pengobatan
tidak banyak berbeda dengan keadaan diluar kehamilan. White menganjurkan 30 -40
kalori per kg berat badan. Garam perlu dibatasi untuk mengurangi kecendrungan
akan retensi air dan udema. Diet yang dianjurkan adalah karbohidrat 40%, protein
2 g/kg berat badan, lemak 45 – 60 g.
Dalam triwulan II metabolismus hidrat-arang dalam tubuh
itu berubah, ibu memerlukan lebih banyak bahan makanan, terutama kalori dan
protein. Penderita yang diluar kehamilan dan dalam kehamilan triwulan I tidak
memerlukan insulin, mungkin sekali
perlu diobati dengan insulin dalam
triwulan II dan III. Karena itu keadaan gula darah harus diperiksa ulang. Diet
dan dosis insulin setiap kali harus
disesuaikan dengan keperluan yang berubah-rubah itu, lebih – lebih dalam
triwulan III, juga dalam masa nifas dan laktasi
pemeriksaan perlu diulang dan diet disesuaikan.
2)
Pemberian insulin
Pada penderita Diabetes Mellitus dalam kehamilan daya tahan terhadap insulin meningkat dengan makin tuanya
kehamilan, yang dibebaskan oleh kegiatan antiinsulin
plasenta.
Penderita yang sebelum kehamilan
sudah memerlukan insulin diberi insulin dalam dosis yang sama dengan
dosis diluar kehamilan sampai terdapat tanda-tanda bahaya dosis perlu ditambah
atau dikuranggi. Perubahan – perubahan dalam kehamilan disatu pihak memudahkan
terjadinya hiperglikimia dan asidosis, akan tetapi dipihak lain dapat
menimbulkan reaksi hipoglikenik.
Karena itu dosis insulin perlu
dirubah-rubah sesuia dengan kebutuhan. Perubahan harus dilakukan dengan
hati-hati, dengan berpedoman pada 140 mg/dl pemeriksaan gula darah yaitu kadar
PP (Post Prandial) < 140 mg/dl.
b.
Penanganan obstetrik
Penanganan
didasarkan atas pertimbangan beratnya penyakit, umur, paritas, riwayat persalinan terdahulu, dan ada atau tidak
komplikasi.
1)
Penyakit tidak berat
dan pengobatan/diet dapat mengontral penyakit dengan baik, diharapkan partus biasa.
2)
Bila diabetes mellitus agak berat dan
memerlukan insulin, induksi partus lebih dini, kehamilan
minggu ke 36-38.
3)
Diabetes
mellitus agak berat, riwajat kematian janin
dalam kandungan, beberapa institusi melakukan seksio sesaria dalam minggu ke 37 kehamilan.
4)
Diabetes
mellitus berat dengan komplikasi (pre-eklamsi, hidramnion dan sebagainya),
riwayat persalinan yang lalu buruk induksi
partus atau seksio sesaria lebih
dini.
5)
Dalam pengawasan
persalinan, monitor janin dengan baik (DJJ, elektro-toko-kardio-gram
dan ultrasonogragi dan lain-lain).
6) Bila
anak sudah ada dan setiap kehamilan dan persalinan akan mengancam keselamatan
ibu dan bayi, sangat dianjurkan melakukan tubektomi
untuk menutup kesuburan
Saturday, 21 September 2013
Konsep Dasar Hypertonic uterine contraction
09:07
No comments
1.
Pengertian
Hypertonic uterine
contraction adalah His yang terlalu kuat dan
terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu sangat singkat.
Partus yang sudah selesai kurang dari 3 jam dinamakan partus presipitatus
His
adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan
sempurna dengan sifat-sifat : Kontraksi simetris, fundus dominan kemudian
diikuti dengan relaksasi.
Distosia
His adalah kelainan his yang tidak normal dalam kekuatan ataupun sifatnya menyebabkan
rintangan pada jalan lahir yang lazim pada setiap persalinan, tidak dapat diatas
sehingga persalinan menggalami hambatan atau kemacetan.
2.
Etiologi
Kelainan
His terutama ditemukan pada primigravida, khususnya primigravida tua. Pada
multi para lebih banyak ditemukan kelainan yang bersifat hypertonic uterine contraction. factor herediter mungkin memegang
peranan penting dalam kelainan his. sampai seberapa jauh faktor emosi
(ketakutan dan lain-lain) mempengaruhi kelainan
his, belum ada persesuaian faham antara para ahli dalam kelainan His.
khususnya hypertonic uterine contraction,
ialah bahwa apabila bahagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan sekmen
bawah uterus seperti misalnya pada kelainan letak janin atau pada disproporsisefalo pervik. perenganan
rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat menjadi
factor penyebab dari hypertonic uterine contraction yang
murni. akhirya gangguan gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional,
misalnya pada masa Uterus bikornis unikollis, dapat pula mengakibatkan kelainan
his. Akan tetapi sebahagian besar kasus
kurang lebih separonya. penyebab hypertonic
uterine contraction ini tidak diketahui.
3.
Patofisiolagi
His
dimulai dari salah satu sudut di fundus uteri yang kemudian manjalar merata
simetris ke seluruh korpus uteri dengan
adanya dominasi kekuatan pada fundus uteri dimana lapisan otot uterus paling
dominan kemudian mengadakan relaksasi secara merata dan menyeluruh, sehingga
tekanan dalam ruang amnion kembali ke asalnya sekitar 10 mmHg.
gambaran
uterus yang besar di sebelah kiri menunjukan 4 tempat dimana dipasang mikro
balon untuk mengukur/ mencatat tekanan pada miometrium terlihat bagaimana
kontraksi mulai menyebar, dan menjadi kuat dan akhirnya mengurang dan hilang.
4.
Klasifikasi
Kelainan His
a. Inersia
Uteri disini his bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi dengan
kuat dan lebih dulu dari pada bagian bagian lain, peranan fundus tetap menonjol.
Kelainannya terletak dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman. Singkat dan
jarang dari pada biasa. Keadaan umum pasien biasanya baik, dan rasa nyeri tidak
seberapa. Selama ketuban masih utuh
umumnya tidak banyak bahaya, baik bagi ibu maupun bagi bayi, kecuali jika persalinan
berlangsung terlalu lama, dalam hal terakhir ini morbilitas ibu dan mortalitas
bayi naik. Keadaan ini dinamakan inersia
uteri premer (Hypotonic uterine contraction)
b. His
terlampai kuat, (hypertonic uterine
contraction) his yang terlalu kuat dan terlalu efisien menyebabkan
persalinan selesai dalam waktu sangat singkat. Partus yang sudah selesai kurang
dari 3 jam dinamakan partus presipitatus. Sifat his normal, tonos otot diluar
kontraksi juga normal, tonus otot diluar
his juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his. bahaya partus presipetatus bagi ibu adalah terjadinya
perlukaan luas pada jalan lahir. Khususnya servik uteri, vagina dan perenium sedangkan
bayi biasa mengalami pendarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut
mengalami tekanan kuat dalam waktu singkat.
c. Incoordinat uterine
action di sini sifat his berubah tonus otot
uterus meningkat juga diluar his dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa
karena tidak ada sinkronnisasi antara kontraksi bagian bagiannya. tidak adanya
koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak
efisien dalam mengadakan pembukaan.
Disamping tonus
otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi
ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. His jenis ini disebut uncoordinet hypertonic uterine contraction.
Kadang- kadang pada persalinan lama dengan ketuban yang sudah lama pecah,
kelainan his ini menyebabkan spasmus sirkuler setempat sehingga terjadinya
penyempitan kavum uteri pada tempat itu. ini dinamakan lingkaran kontraksi atau
lingkaran konstriksi, secara tioritis lingkaran ini dapat terjadi dimana-mana.
akan tetapi biasanya ditemukan pada batas antara bagian atas dan sekmen bawah uterus. lingkaran kontriksi
tidak dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam, kecuali bila pembukaan telah
lengkap sehingga tangan dapat dimasukan kedalam kavum uteri.
5.
Penanganan
Dalam
menghadapi persalinan lama oleh sebab apapun, keadaan wanita tersebut harus
diawasi dengan seksama, tekanan darah diukur setiap empat jam malahan
pemeriksaan ini perlu dilakukan lebih sering apabila ada gejala pre-eklamsi.
Denyut jantung janin dicatat setiap setengah jam dalam kala 1 dan lebih sering
dalam kala II. Kemungkinan dehidrasi dan asidosis harus mendapat perhatian
sepenuhnya. karena pada persalinan lama selalu ada kemungkinan untuk melakukan
tindakan pembedahan dengan narcosis, hendaknya wanita jangan diberi makanan
biasa melainkan dalam bentuk cair. sebaiknya di berikan infuse larutan glukosa
5% dan larutan NaCl isotonic secara intravena berganti ganti. untuk mengurangi rasa
nyeri dapat diberikan pethidin 50 mg yang dapat diulanggi, pada permulaan kala
1dapat diberi 10 mg morfin. pemeriksaan perlu di adakan, akan tetapi harus
selalu disadari bahwa tiap pemeriksaan dalam mengandung bahaya infeksi. Apabila
persalinan berlangsung 24 jam tampa kemajuan yang berarti, perlu diadakan
penilaian yang seksama tentang keadaan. Selain penilaian keadaan umum, perlu ditetapkan
apakah persalinan benar-benar telah dimulai atau masih dalam tingkat false labour apakah ada inersia uteri atau incoordined
uterine action, dan apakah tidak ada disproporsi sefalopervik biarpun ringan,
untuk menetapkan hal yang terakhir ini jika perlu dilakukan pelvimetri
roentgenologik atau MRI (Magnetik Resonance Image). Apabila servik telah
terbuka untuk sedikitnya 3 cm, dapat diambil kesimpulan bahwa persalinan telah
dimulai.
Subscribe to:
Posts (Atom)











