This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, 24 March 2013

Komperasi Ketuntasan Belajar Dengan Mengunakan Metode Tanya jawab dan Model Mind Mapping Dalam Pelajaran Ekonomi Pada SMP Negeri



1.1    Latar Belakang Masalah
Dalam era bebas atau era glogalisasi sebagai era persaingan mutu atau kualitas, siapa yang berkualitas dialah yang akan maju dan mampu mempertahankan eksistensinya. Oleh karena itu pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sehubungan dengan hal tersebut yang pertama harus kita galakkan adalah meningkatkan mutu pendidikan, untuk mewujudkan hal itu maka kita harus meningkatkan motivasi belajar siswa karena tapa adanya motivasi maka pendidikan itu akan berjalan tidak optimal tanpa didasari oleh keinginan siswa untuk belajar yang sesungguh nya.
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar Ekonomi, guru tidak hanya memberikan informasi tetapi harus menerapkan prinsip-prinsip pengajaran Ekonomi  yang berorientasi pada obeservasi dan penelitian. Pengetahuan Ekonomi yang di peroleh dari hasil belajar pengalaman dan penyelidikan, akan lebih lama dapat di ingat serta berkesempatan menumpuk ekosistem dan keberanian dalam mengambil inisiatif. Maka oleh karena itu pengajaran Ekonomi juga berfungsi sebagai alat untuk mendidik siswa agar mencapai kualitas sesuai dengan tujuan pendidikan.
Prinsip-prinsip modern juga menuntut agar kegiatan belajar mengajar harus dapat mengembangkan ilmu pengetahuan secara lebih luas, untuk dapat mengolah, menggunakan nilai dan mengkomunikasikan hasil belajar dengan baik. Dengan demikian kemudahan akan timbul di pihak pengajar dan siswa-siswa pun memperoleh hasil belajar yang maksimal. Dengan menyadari akan tujuan dan pentingnya pengajaran Ekonomi, maka keberhasilan siswa dapat tergantung kepada pendidik untuk membawa siswa ke tingkat kematangan. Oleh sebab itu, tidak hanya guru yang baik, tetapi juga pada penggunaan metode yang tepat. Dalam hal ini guru harus dapat mengenal dan menguasai berbagai jenis metode dalam mengajar Ekonomi. Salah satu metode mengajar adalah  metode tanya jawab merupakan metode yang menekankan penjelasan atau menerangkan materi pelajaran dari guru kepada siswa menggunakan perantara atau media lainnya. Keaktifan metode tanya jawab tidak murni terletak pada guru. Dalam hal ini siswa melakukan belajar sambil mendengarkan (learning by listening). Metode Tanya jawab yang menggunakan media visual merupakan metode yang di samping memberikan penjelasan kepada siswa secara lisan tentang materi pelajaran dilengkapi dengan media atau perantara yang dapat dilihat, untuk mendorong motivasi belajar, memperjelas, dan mempermudah pemahaman konsep-konsep yang abstrak tentang nilai, serta untuk mempertinggi daya serap atau retensi belajar siswa.
Salah satu metode interaksi edukatif yang dewasa ini menjadi strategi mengajar dengan KTSP, adalah metode tanya jawab, ciri utama metode ini adalah siswa lebih banyak di tuntut untuk menemukan sendiri langkah-langkah ilmiah. Hal ini sesuai pula seperti apa yang di kemukakan oleh Sukarno (1977:17) bahwa :
Metode pembelajaran bertujuan untuk dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menemukan sendiri, melakukan sendiri atau untuk mendengar hal-hal yang akan memberikan hasil yang lebih sempurna kalau di tinjau dari pendidikan Science modern, mempermudah guru dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.

 Dalam pengajaran IPS, metode Tanya jawab memang perlu untuk di terapkan. Hal ini bertujuan agar guru dapat mengetahui apakah materi yang sudah diajarkan sudah dapat di serap oleh para siswa. Menurut Pradana (2000:20) disebutkan bahwa :
Penggunaan metode Tanya jawab adalah wajib apabila ditujukan untuk :
1.      Meninjau pelajaran yang lalu, agar siswa memusatkan lagi, perhatian tentang jumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkaan pelajaran berikutnya.
2.      Mengulangi pembicaraan untuk mendapatkan kerja sama siswa atau dengan perkataan lain untuk mengikutsertakan semua siswa.
3.      Menangkap perhatian siswa.
4.      Memimpin pengamatan dan pemikiran siswa

Demi suksesnya metode tanya jawab ini guru harus dapat merumuskan tujuan dengan sejelas-jelasnya dalam bentuk khusus dan berpusat pada tingkah laku siswa. Menetapkan kemungkinan jawaban pertanyaan itu mengandung banyak masalah ataukah hanya terbatas pada jawaban “ya” atau “tidak”. Di samping itu guru harus dapat menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
Dalam metode tanya jawab Organisasi kelas sederhana dengan persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi di mana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas dan sebagainya.
Disamping metode tanya jawab, metode mind mapping juga merupakan metode yang bisa digunakan guru untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk mencapat nilai ketuntasan belajar.
Setiap manusia lahir dengan segala potensi yang dimiliki, termasuk potensi pikiran. Namun, pada praktik pembelajaran, penggunaannya masih jauh dari optimal. Hal ini tercermin dari berbagai kesulitan yang muncul pada pembelajaran, seperti kesulitan dalam memusatkan perhatian atau mengingat, yang berujung pada rendahnya hasil pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran di sekolah, kondisi ini masih diperburuk oleh praktik pembelajaran yang keliru, seperti pemberian tambahan pembelajaran baik di dalam maupun di luar sekolah. Padahal proses tersebut, hanya dapat bermakna repetisi dari proses pembelajaran sebelumnya dan tidak memberi nilai tambah bagi pemahaman siswa. Pembelajaran tidak hanya terbatas pada membaca buku atau mendengar pengajaran yang tidak memberi pemahaman.
Menurut Yovan (2008), pembelajaran melibatkan pemikiran yang bekerja yang bekerja secara asosiatif, sehingga dalam setiap pembelajaran terjadi penghubungan antar satu informasi dengan informasi yang lain. Pembelajaran sangat erat kaitannya dengan penggunaan otak sebagai pusat aktivitas mental mulai dari pengambilan, pemrosesan, hingga penyimpulan informasi. Dengan demikian, pembelajaran merupakan proses sinergisme antara otak, pikiran dan pemikiran untuk menghasilkan daya guna yang optimal.
Untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran, maka proses pembelajaran harus menggunakan pendekatan keseluruhan otak.
Menurut Potter (2002), ketika manusia berkomunikasi dengan kata-kata, otak pada saat yang sama harus mencari, memilah, merumuskan, merapikan, mengatur, menghubungkan, dan menjadikan campuran antara gagasan-gagasan dengan kata-kata yang sudah mempunyai arti itu dapat dipahami. Pada saat yang sama, kata-kata ini dirangkai dengan gambar, symbol, citra (kesan), bunyi, dan perasaan. Sekumpulan kata yang bercampur aduk tak berangkai di dalam otak, keluar secara satu demi satu, dihubungkan oleh logika, di atur oleh tata bahasa, dan menghasilkan arti yang dapat dipahami.
Salah satu upaya yang dapat digunakan dalam membuat citra visual dan perangkat grafis lainnya sehingga dapat memberikan kesan mendalam adalah peta pikiran. Peta Pikiran merupakan teknik pencatat yang dikembangkan oleh Tony Buzan dan didasarkan pada riset tentang cara kerja otak. Peta Pikiran menggunakan pengingat visual dan sensorik alam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Peta ini dapat membangkitkan ide-ide orisinil dan memicu ingatan yang mudah. Oleh karena itu, proses pembelajaran seharusnya dapat menggunakan teknik pencatatan peta pikiran sebagai salah satu cara belajar yang dapat dilatihkan kepada siswa. Penggunaan Peta Pikiran (Mind Mapping) dalam pembelajaran diarapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa. 
Dari kedua metode tersebut maka peneliti ingin meneliti sejauh mana kedua metode tersebut dapat meningkatkan hasil belajar siswa, untuk itu penulis akan meneliti dikelas VII dan mengambil dua (2) lokal dan memberilan pelajaran dengan mengunakan metode tanya jawan di satu lokal dan metode mind mapping di lokal lainnya.

Konsep Motivasi



Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Intensitas berhubungan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas yang tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.
Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori kebutuhan milik Abraham Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri) Maslow memisahkan lima kebutuhan ke dalam urutan-urutan. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman dideskripsikan sebagai kebutuhan tingkat bawah sedangkan kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas. Perbedaan antara kedua tingkat tersebut adalah dasar pemikiran bahwa kebutuhan tingkat atas dipenuhi secara internal sementara kebutuhan tingkat rendah secara dominan dipenuhi secara eksternal
Menurut Maslow, motivasi dapat digolongkan dan tiap-tiap golongan itu mempunyai hubungan jenjang. Maksudnya suatu motif timbul kalau motivasi yang mempunyai jenjang yang lebih rendah tidak terpenuhi.
Motivasi menurut pandangan dari para ahli, antara lain sebagai berikut.
Woodword dan Marquis menbedakan motivasi berdasarkan kebutuhan manusia menjadi 3 macam, yaitu.
a.       Motivasi kebutuhan organis, seperti minum, maka, bernafas, seksual, bekerja dan istirahat.
b.      Motivasi darurat, yang mencakup dorangan menyelamatkan diri, berusaha dan dorongan untuk membalas.
c.       Motivasi objektif, yang meliputi kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi dan sebagainya.
Pembagian motivasi berdasarkan bentuk motivasi tersebut mencakup.
a.       Motivasi pembawaan, yang dibawa sejak lahir, tampa dipelajari.
b.      Motivasi yang dipelajari
Pembagian motivasi berdasarkan penyebab
a.       Motivasi ekstentrik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya rangsangan dari luar.
b.      Motivasi Instentrik, yaitu motivasi yang berfungsi tanpa rangsangan dari luar tetapi sudah dengan sendirinya  terdorong untuk berbuat sesuatu.
Herzberg memandang bahwa kebuasan kerja berasal dari keberadaan motivator instrintik dan bahwa ketidak puasan kerja berasal dari factor-faktor ekstrintik (kontek pekerjaan) meliputi a. Pendapatan, b. masa kerja, c. usia, hubungan antar rekan kerja, d. status kepagaian.

gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi kerja bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu hamil diwilayah kerja Puskesmas



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang.
Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani, melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan, menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan, dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau, bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara berkesinambungan (Depkes RI, 2010).
Upaya kesehatan bertujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat sebagai satu upaya untuk meningkatkan status kesehatan bayi,balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Rawannya masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia, tidak lepas dari belum meratanya jangkauan pelayanan antenatal, khususnya pelayanan Kesehatan Ibu dan anak, Keluarga Berencana (KIA/KB) serta rendahnya cakupan pelayanan antenatal dan persalinan oleh tenaga kesehatan, sebagian ditolong oleh dukun bayi. Keterbatasan jangkauan pelayanan ini antara lain disebabkan oleh kondisi geografis, penyebaran penduduk dan keterbatasan fasilitas pelayanan dan tenaga KIA baik kualitatif maupun kuantitatif, serta faktor lain yang berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi, budaya dan tingkat pendidikan masyarakat. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya arti sehat. melalui program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) tercapainya kemampuan hidup sehat serta derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya. Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dapat diukur melalui penurunan angka kesakitan dan angka kematian, peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, pencapaian sasaran imunisasi, penyediaan obat – obatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat, penyediaan tenaga kesehatan yang memcukupi, peningkatan status gizi terutama pada bayi, balita, ibu hamil dan menyusui serta peningkatan mutu lingkungan yang sehat (Depkes RI, 2005).
Kesehatan ibu memberi dampak yang bukan hanya terbatas pada kesehatan ibu saja tetapi berpengaruh secara langsung terhadap kesehatan  janin dan bayi . dalam upaya peningkatan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan serta menurunkan angka kematian bayi dan kematian ibu sejak pelita V Depertemen Kesehatan telah melakukan terobosan terobosan dengan penambahan tenaga kesehatan, seperti bidan di desa. kegiatan yang diupayakan untuk meningkatkan kegiatan terhadap penurunan angka kematian ibu dan anak yang saat ini merupakan masalah yang besar (Depkes RI, 2004).
Dalam rangka mendekatkan dan memperluas jangkauan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, maka perlu ditempatkan tenaga bidan, terutama di desa desa yang belum terjangkau oleh sarana pelayanan kesehatan yang ada. Dasar pelaksanaan penempatan bidan didesa sesuai dengan kebijaksanaan Depertemen Kesehatan RI yang telah disebarluaskan ke seluruh propinsi dengan Pengangkatan bidan desa  sebagai pegawai tidak tetap (PTT) melalui Keppres no 23/1994 dan dipertegas dengan surat edaran Direktur Jendral Pembinaan Kesehatan Masyarakat No.429/Binkesmas/Dj/III/94 tanggal 29 maret 1994 tentang tugas pokok bidan PTT. Untuk mewujudkan kebijaksanaan yang telah ditetapkan maka diselenggarakan pendidikan bidan satu tahun dengan dasar pendidikan lulus SPK. lulusan pendidikan bidan tersebut akan ditempatkan di desa desa dengan kriteria tertentu dalam rangka melaksanakan upaya kesehatan Puskesmas dan membina Posyandu (Depkes RI, 2000).
Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2010), Untuk kesehatan ibu, secara nasional 82,3% kelahiran sudah dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan kelompok penduduk perkotaan, demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk miskin. Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara, Maluku, dan Papua Barat perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan. Pemanfaatan Polindes/ Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga perlu ditingkatkan, karena hanya 1,5% yang memanfaatkan untuk persalinan (Depkes RI, 2010).

Saturday, 23 March 2013

Pendidikan Matematika



Pendidikan matematika merupakan salah satu pelajaran yang diajarkan di SMP dan merupakan salah satu pelajaran pokok. Untuk mempelajari matematika diperlukan pemikiran – pemikiran yang matang sehingga memperoleh hasil yang baik diperlukan adanya arahan dan bimbingan dari guru matematika.
Matematika merupakan sarana untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari – hari. Kesulitan belajar matematika harus diatasi sedini mungkin. Hampir semua orang mengatakan bahwa matematika adalah bidang ilmu yang paling sulit. Dalam mempelajari matematika tidak cukup hanya dengan mengetahui pengertian, tetapi juga harus memahi konsep materi itu untuk mempermudahkan dalam belajar, agar siswa dapat memahami konsep belajar yang berkelanjutan.
Belajar matematika merupakan kegiatan belajar yang bermental tinggi. Matematika timbul karena pemikiran – pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran. Ada yang mengatakan bahwa matematika adalah hanya perhitungan yang mencakup tambah, bagi, kurang, kali, dan bagi. Tetapi ada pula yang melibatkan topik – topik tertentu aljabar, trigonometri, dan geometri.
Kemampuan belajar siswa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan yang dimiliki, akan tetapi bergantung juga pada cara belajar yang mereka lakukan. Belajar matematika yang baik harus disertai dengan disiplin yang tinggi, rencana yang teratur dan kemampuan yang tinggi terhadap pengetahuan matematika.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakan bahwa cara belajar matematika harus mempunyai perencanaan yang matang dan pengorganisasian secara teratur yang dapat menimbulkan semangat tinggi dan tanpa mengalami kebosanan.
Cara belajar matematika pada prinsipnya adalah sama dengan mempelajari ilmu pengetahuan yang lain. Akan tetapi dalam mempelajari matematika siswa lebih dituntut banyak berhitung. Semakin tepat cara belajar yang dilakukan siswa, semakin besar pula kemungkinan berhasil untuk medapatkan prestasi yang lebih baik lagi. Kemampuan belajar tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan yang dimiliki, tetapi tergantung pula pada cara belajar yang ditempuh.

D.  Perencanaan Dan Evaluasi Pembelajaran Matematika
Evaluasi hasil belajar merupakan suatu program, karena evaluasi hasil belajar yang baik memiliki tahapan atau komponen , yaitu dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, analisis, dan pemanfaatan. Sehingga bila keempat komponen tersebut dapat berjalan dengan baik, dapat dikatakan program evaluasi hasil belajar telah terlaksana dengan baik.
Setelah memiliki perencanaan yang matang program evaluasi dilaksanakan dengan tuntutan  kurikulum. Hal yang perlu diperhatikan dalam program evaluasi adalah kompetensi dasar yang diharapkan, jenis tagihan, waktu pelaksanaan, alat dan bentuk penilaian yang bervariasi, dan kondusifnya suasana penilaian. Selanjutnya data atau informasi yang diperoleh dari pelaksanaan program pembelajaran maupun analisis hasil pembelajaran, hal ini dimaksudkan agar dapat memposisikan siswa dalam ketuntasan hasil belajar dan selanjutnya dapat berupa remedial bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan minimal maupun program pengayaan bagi siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan optimum.
Program evaluasi yang baik perlu dikelola dengan baik, untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap dari proses dan hasil belajar siswa dan untuk mengetahui kesulitan dan kendala siswa pada proses belajar siswa sehingga dapat diambil kepurusan dan ditindak lanjut yang tepat.
Evaluasi dan tehnik penilaian pada pembelajaran matematika dapat berupa tes tulis  dan tes lisan. Tes tulis itu dapat berupa soal tentang pemahaman konsep, penalaran dan komunikasi, sedangkan tes lisan itu dapat berupa soal  tentang pemecahan masalah.