Friday, 3 May 2013
Perubahan-perubahan fisiologis pada ibu hamil selama kehamilan
17:58
No comments
Tanda-tanda
kehamilan merupakan saat yang paling
dinantikan oleh seorang perempuan yang menginginkan dirinya memiliki seorang
buah hati dambaan keluaga (family hoping). Dengan terjadinya kehamilan
menandakan bahwa pasangan suami isteri memiliki tingkat
kesuburan yang baik dan hal ini juga menandakan bahwa mereka tidak
memiliki masalah kesehatan yang berarti. Dengan datangnya tanda-tanda kehamilan,
hadirnya seorang buah hati dalam keluarga mereka tinggalah menunggu waktu.
Keluarga terasa semakin lengkap dengan kehadiran buah hati yang dinanti. Namun
ada kalanya, pasangan suami isteri belum mengetahui secara betul mengenai tanda-tanda
kehamilan ini. Mereka kadang masih bingung membedakan mana
tanda-tanda kehamilan (pregnancy symptoms) sebenarnya dengan
tanda akan datang menstruasi, karena banyak kasus terjadi bahwa tanda-tanda
kehamilan biasanya mirip dengan tanda-tanda akan datang menstruasi.
Ketidaktahuan mengenai hal ini juga menyebabkan beberapa kasus terjadinya
keguguran (miscarriage).
Berikut ini diuraikan beberapa
perubahan yang dialami ibu selama kehamilannya adalah :
2.3.2.1. Mual dan muntah
Mual (nausea) dan muntah (Emesis)
adalah gejala yang sering terjadi pada
60-80 % primigravida dan 40-60 % multigravida. Mual biasanya terjadi
pada pagi hari tetapi dapat pula timbul saat pada malam hari. Rasa mual
biasanya di mulai pada minggu-minggu
pertama kehamilan dan berakhir pada bulan keempat. Namun sekitar 12% ibu hamil
masih mengalaminya hingga 9 bulan (www.bidanku.com)
.
Penyebab mual dan muntah ini
bermacam-macam antara lain karena adanya perubahan hormon dalam tubuh,
psikologis, sampai gaya hidup pola makan yang buruk sebelum maupun pada
minggu-minggu awal kehamilan, tanda-tanda kurang tidur atau kurang istirahat
dan stres dapat memperberat rasa mual dan muntah. Beberapa hal yang dapat
dilakukan untuk mengurangi rasa mual meskipun tidak dapat dihilangkan sama
sekali, misalnya dengan mengkonsumsi makanan seimbang, cukup bergerak dan cukup
istirahat. Oleh karena itu, calon ibu diharapkan memiliki pengetahuan yang
cukup mengenai mual agar ibu dapat menentukan sikap untuk mengatasi masalahnya
pada awal kehamilan sehingga tidak terjadi komplikasi kehamilan yang dapat
menggangu kehamilan selanjutnya (Fidra Maya, 2001).
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama
kehamilan hingga akhir triwulan pertama, karena sering terjadi dipagi hari.
Disebut morning sickness (sakit Pagi) bila mual muntah terlalu sering di sebut
hiperemisis (Muktar, 2002),
Batas mual muntah berapa banyak yang
disebut hiperemisis grafidarum tidak ada kesepakatan, ada yang mengatakan lebih
dari 10 kali mual muntah, akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai
heper emisis (Muktar, 2002).
2.3.2.2. Perubahan
pada payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembanagan
sebagai persiapan pemberian ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak terlepas
dari pengaruh hormone saat kehamilan yaitu estrogen, progesterone dan
somatomanotropin. (Manuaba, 2002).
Selama kehamilan payudara bertambah
besar dan berat, tegang dan berat. Dapat teraba nodule-noduli, akibat
hipertropi kelenjar alveoli, bayangan vena-vena lebih membiru hiperpigmentasi pada puting susu dan areole
payudara. Kalau diperas keluar air susu jolong (Kolostrum) berwarna kuning (Muktar, 2002)
2.3.2.3. Sering buang air kecil
Dengan pembesaran yang terjadi pada
bulan-bulan pertama kehamilan, uterus akan menekan kandung kemih. Setelah usia
kehamilan 3 bulan, uterus keluar dari
dalam rongga panggul dan fungsi kandung kemih kembali normal. Pada kehamilan menjelang
aterm keinginan sering buang air
kecil timbul kembali karena bayi akan masuk ke dalam
rongga panggul. Cara mengatasinya adalah upayakan kencing teratur, kurangi
minum sebelum tidur malam, hindari minuman yang mengandung kafein (Helen,
2001).
2.3.2.4. Keputihan
Keputihan adalah cairan vagina yang
agak kental biasanya berwarna jernih. Ini terjadi karena serviks terangsang
oleh hormon sehingga menebal, hiperaktif dan mengeluarkan banyak lendir.
Keputihan sulit dicegah, biarkan pakai pembalut, jaga kebersihan vulva, sering
ganti pakaian dalam. Dan bila berbau, warna berubah, segera periksa. (Salmah,
2006).
2.3.2.5. Perubahan pada kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen
dan hiperpigmentasi karena pengaruh melanophor stimulating hormon globus hipopisis anterior dan pengaruh
kelenjar supra renalis. Hiperpikmentasi ini terjadi pada striae grafidarum
livete atau alba, ariola mamae, papilla mamae linianigra, pipi (kloasma
grafidarum. Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang. (Manuaba, 2002).
Gambaran Pengetahuan Ibu Primi Gravida Tentang Perubahan Fisiologis Pada Masa Kehamilan
17:55
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Visi Kementerian Kesehatan
adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri
dan berkeadilan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani (Masyarakat Mandiri) melindungi kesehatan masyarakat dengan
menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan
berkeadilan; menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; dan menciptakan tata kelola
kepemerintahan yang baik. Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang
merata, terjangkau, bermutu dan
berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan preventif”. (Depkes RI, 2010)
Wanita selama kehamilannya memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan
berbagai perubahan yang terjadi dalam dirinya. Perubahan-perubahan yang terjadi
selama kehamilan umumnya menimbulkan ketidak nyamanan dan kekhawatiran bagi
sebagian besar ibu hamil. Perubahan pada ukuran tubuh, bentuk payudara, pigmentasi kulit, serta pembesaran
abdomen secara keseluruhan membuat tubuh ibu hamil tersebut tampak jelek dan
tidak percaya diri. Kekhawatiran dan ketakutan ini sebenarnya tidak berdasar,
untuk itu ibu hamil memerlukan nasihat dan saran khususnya dari bidan dan
dokter yang dapat menjelaskan perubahan yang terjadi selama kehamilan sehingga
ibu tidak khawatir dengan perubahan yang dialaminya (Helen, 2001).
Kehamilan dibagi menjadi III
trimester, selama kehamilan ibu hamil dianjurkan melakukan kunjungan antenatal
minimal 4 kali untuk mengetahui masalah kesehatan selama kehamilan, apakah
masalah tersebut bersifat fisiologis atau masalah tersebut bersifat patologis
yang dapat mengancam kehamilan. Komplikasi yang mungkin terjadi selama
kehamilan antara lain hiperemesis gravidarum, perdarahan, anemia, eklampsia,
nyeri perut yang hebat (Sarwono, 2006).
Tingkat pengetahuan ibu hamil
primigravida tentang perubahan fisiologis selama masa kehamilan merupakan salah
satu pengaruh terhadap penerimaan ibu akan perubahan perubahan yang terjadi
pada dirinya. Pendidikan atau penyuluhan tentang bagaimana perubahan-perubahan
secara fisiologis selama hamil perlu diberikan kepada ibu sehingga dapat
mengurangi kecemasan dan meningkatkan penerimaan ibu terhadap perubahan-perubahan
yang terjadi pada dirinya pada masa hamil.
Dampak yang terjadi akibat
ketidaktahuan pasangan muda terhadap perubahan fisiologi pada kehamilan adalah
terjadinya peningkatan kasus pertengkaran antar pasangan muda, terjadinya
kekuatiran ibu muda terhadap perubahan yang sedang dialami dan berkurangnya
kecantikannya.
Dari data yang diperoleh dari Puskesmas,
jumlah ibu primigravida yang berkunjung mulai bulan Januari-September 2011
sebanyak 47 orang, hasil wawancara yang penulis lakukan terhadap beberapa orang
ibu hamil primigravida yang penulis temui ketika penelitian awal dilakukan
dengan mengajukan beberapa pertanyaan maka penulis berasumsi bahwa umumnya
pengetahuan ibu hamil primigravifa tentang perubahan fisiologi masih kurang,
hal ini disimpulkan dari hasil wawancara terhadap 5 orang ibu hamil
primigravida dengan hasil 4 orang mengatakan tidak mengetahui adanya perubahan
fisiologi saat kehamilan, hanya 1 orang yang mengatakan mengetahui perubahan
fisiologis. Masalah yang nyata didapat bahwa umumnya ibu hamil primigravida
belum mengetahui tentang adanya perubahan pisik dikarenakan umur mereka yang
masih muda.
Tuesday, 30 April 2013
Gambaran Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Ibu Tidak Memberikan ASI Ekslusif Di Wilayah Kerja Puskesmas
17:53
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pemberian ASI
Ekslusif di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, dimana masyarakat
cenderung memberikan susu formula pada waktu bayi berumur sangat muda. Sehingga
hal itu berakibat banyak balita kehilangan kesempatan memperoleh ASI Ekslusif.
Hal ini disebabkan karena tehnik menyusui tidak benar, sehingga dapat
menyebabkan puting susu lecet dan menjadikan ibu enggan menyusui dan bayi
jarang menyusu. Bila bayi jarang menyusu akan berakibat kurang baik, karena
isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya,
sehingga tidaklah jika ibu lebih memilih pemberian susu formula. (http://www.bidanku.com).
Menyusui merupakan
suatu proses alamiah, namun sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui atau
menghentikan menyusui lebih dini dari yang semestinya, banyak alasan yang
dikemukakan ibu-ibu antara lain: ibu merasa bahwa ASInya tidak cukup atau ASI
tidak keluar pada hari-hari pertama kelahiran bayi. Di samping informasi
tentang cara-cara menyusui yang baik dan benar belum menjangkau sebagian besar
ibu-ibu. (Depkes RI, 2007).
|
Dalam standar
pelayanan minimal bidang kesehatan telah menetapkan bahwa tahun 2006 minimal 80%
ibu menyusui bayinya secara ekslusif.
Baru selanjutnya meneruskan ASI ditambah dengan makanan pendamping ASI
(MP-ASI). Tapi kenyataan di lapangan atau masyarakat kita justru bertolak
belakang, mayoritas bayi tidak mendapat suplai ASI yang cukup hingga umur 6
bulan pertama di Kabupaten Propolinggo pada tahun 2004 yang lalu bayi dengan
ASI Ekslusif masih mencapai 45,53%. Dari hasil tersebut mungkin bisa menjawab
mengapa penderita diare dan demam berdarah masih menjangkit anak-anak, itu
dikarenakan kurangnya asupan ASI yang cukup pada usia 6 bulan pertama, diduga
salah satu penyebab wabah penyakit tersebut.
Menurut Hasil Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun
2010 didapat hasil Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan,
2-3 bulan, dan 4-5 bulan berturut-turut adalah 45,4 persen, 38,3 persen, dan 31,0
persen. ASI eksklusif lebih tinggi didaerah perdesaan dibanding daerah
perkotaan. Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi.
Demikian juga tidak ada pola hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan
tingkat pendidikan orangtua. Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI
eksklusif dan tingkat pengeluaran perkapita. Semakin tinggi pengeluaran per
kapita rumahtangga, semakin menurun pemberian ASI eksklusif baik di kelompok umur
bayi 0-1 bulan, 2-3 bulan, maupun 4-5 bulan (Depkes RI, 2010)
Menurut Sudiharto (2007) dukungan
keluarga mempunyai hubungan dengan suksesnya pemberian ASI Eksklusif kepada
bayi. Dukungan keluarga adalah dukungan untuk memotivasi ibu memberikan ASI
saja kepada bayinya sampai usia 6 bulan, memberikan dukungan psikologis kepada
ibu dan mempersiapkan nutrisi yangseimbang kepada ibu.
Penelitian
Mardeyanti (2007), bahwa 60% ibu yang bekerja tidak patuh memberikan ASI
Eksklusif, Hasil analisis regresi logistik memperlihatkan bahwa tingkat
pendidikan ibu yang rendah meningkatkan risiko ibu untuk tidak memberikan ASI
eksklusif dan ibu yang tidak mendapatkan dukungan keluarga akan meningkatkan
risiko untuk tidak memberikan ASI eksklusif. Penelitian Hadinegoro, dkk (2007)
di Jakarta, bahwa pemberian ASI Ekslusif dipengaruhi oleh dukungan suami, jam
kerja, dan fasilitas ruangan menyusui ditempat kantor. Hasil penelitian
menunjukkan, secara proporsi ibu yang memberi ASI Ekslusif, 44% mendapat
dukungan dari suami, 17% pada ibu yang bekerja pada tempat kerja yang menyediakan
ruangan khusus untuk menyusui, serta 11% bekerja >8 jam.
Posisi bayi dan bayi
yang benar penting sekali untuk kebersihan menyusui. Kesalahan dalam posisi salah
satunya bisa menyebabkan puting lecet dan peradangan pada payudara, karena bayi
bukannya mengisap areola mammae, tapi hanya bagian puting saja sehingga ASI
tidak keluar. Akibat salah posisi menyusui sebenarnya problem klasik, namun
akibatnya bisa fatal karena sering kali tidak kuat menahan sakitnya dan
akhirnya menyerah dan gagallah pemberian ASI Ekslusif. .
Gambaran Faktor-faktor yang berhubungan dengan aktifitas fisik ibu hamil dalam melakukan senam hamil di Wilayah Kerja Puskesmas
16:29
No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Visi Kementerian
Kesehatan adalah Masyarakat Sehat yang
mandiri dan berkeadilan. Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; melindungi
kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang
paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan; menjamin ketersediaan dan
pemerataan sumberdaya kesehatan;
dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Salah satu strateginya
adalah meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau bermutu dan
berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan
preventif (Depkes RI, 2010)
Salah satu indikator yang hendak dicapai pada tahun 2015 adalah menurunkan
angka kematian ibu dari 228/100.000 kelahiran hidup tahun 2008 menjadi
118/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014, menurunkan angka kematian bayi
dari 34/1000 kelahiran hidup tahun 2008 menjadi 24/1000 kelahiran hidup tahun
2014 (Mediacom, 2009)
Lebih dari 50 ibu meninggal dunia setiap hari karena berbagai masalah
yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Hingga saat ini masih banyak
ibu yang menderita komplikasi kehamilan yang mengancam kehidupan atau
menyebabkan kecacatan berat pada ibu dan bayinya (Unicef, 2006)
Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak negara berkembangan,
terutama disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan, eklamsi, sepsis dan
komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu
tersebut sebenarnya dapat dicegah, melalui upaya pencegahan yang efektif,
beberapa negara berkembang dan hamper semua negara maju, berhasil menurunkan
angka kesakitan dan kematian ibu ketingkat yang sangat rendah (Depkes RI,
2008).
Pada ibu hamil sangat dibutuhkan tubuh yang sehat dan bugar,
diupayakan dengan makan teratur, cukup istirahat dan oleh tubuh sesuai takaran.
Dengan tubuh segar dan sehat, ibu hamil tetap dapat menjalankan tugas rutin
sehari-hari, menurunkan stress akibar rasa cemas yang dihadap menjelang
persalinan. Olah raga sangat penting bagi ibu hamil, untuk tetap mendapatkan
tubuh yang sehat dan bugar (dengan senam hamil). Namun olah raga yang
dilakukan, juga harus disesuaikan dengan perubahan fisik, senam yang pas
dilakukan saat kehamilan adalah senam hamil. Jenis oleh tubuh yang paling
sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil disesuaikan dengan banyaknya
perubahan fisik seperti pada organ genital, perut kian membesar dan lain-lain.
Dengan mengikuti senam hamil secara teratur dan intensif, ibu hamil dapat
menjaga kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal. Senam hamil
adalah terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik atau
mental, pada persalinan cepat, aman dan spontan (www.bidanku.com)
Subscribe to:
Posts (Atom)











