Wednesday, 17 December 2014
Akuntansi Rumah Sakit
13:36
No comments
I.
PENDAHULUAN
Rumah Sakit Pemerintah merupakan unit kerja dari Instansi Pemerintah yang
memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Permasalahan yang selalu
timbul adalah sulitnya meramalkan kebutuhan pelayanan yang diperlukan
masyarakat maupun kebutuhan sumber daya untuk mendukungnya. Di lain pihak Rumah
Sakit harus siap setiap saat dengan sarana, prasarana tenaga maupun dana yang
dibutuhkan untuk mendukung pelayanan tersebut. Di samping itu Rumah Sakit
sebagai unit sosial dihadapkan pada semakin langkanya sumber dana untuk
membiayai kebutuhannya, padahal di lain pihak Rumah Sakit diharapkan dapat
bekerja dengan tarif yang dapat terjangkau oleh masyarakat luas.
Dengan perubahan sistem keuangan Rumah Sakit serta sistem keuangan
Pemerintah secara keseluruhan diharapkan dana yang dikelola oleh Rumah Sakit
akan menjadi lebih besar dan terus meningkat sejalan dengan peningkatan
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta persiapan Badan Layanan Umum dari
tahun ke tahun. Kondisi ini selain akan membawa pengaruh positif bagi
peningkatan pelayanan, tetapi juga membuka peluang untuk timbulnya ekses
negatif penyalahgunaan dalam pengelolaan keuangan negara. Untuk itu diperlukan
berbagai upaya dalam mengatasinya.
Akuntansi Rumah Sakit yang merupakan salah satu kegiatan dari manajemen
keuangan adalah salah satu sasaran pertama yang harus diperbaiki agar dapat
memberikan data dan informasi yang akan mendukung para manajer Rumah Sakit
dalam pengambilan keputusan maupun pengamatan serta pengendalian kegiatan Rumah
Sakit. Yang menjadi kendala pada Rumah Sakit Swadana dan belum terpecahkan
sampai saat ini adalah Rumah Sakit melakukan dua sistem pencatatan dan
pelaporan yaitu yang berdasarkan prinsip akuntansi yang lazim (Accrual Basis)
dan Basis Kas (Cash Basis) untuk memenuhi ketentuan yang berlaku yang
diharapkan dapat berjalan secara paralel, independen dan tercipta mekanisme
saling kontrol di antaranya (kontrol internal), namun dirasakan menjadi beban
petugas Rumah Sakit.
II.
LAPORAN KEUANGAN RUMAH SAKIT
Dalam
laporan keuangan rumah sakit terdapat empat laporan keuangan utama yang
dihasilkan oleh proses akuntansi, yaitu:
1. Neraca
Terdiri dari :
• Aktiva dan
utang diklasifikasi menjadi:
– Aktiva
lancar – aktiva tetap
– Utang
lancar – utang jangka panjang
• Aktiva
bersih (ekuitas) diklasifikasi berdasarkan:
– Aktiva
bersih tidak terikat
– Aktiva
bersih terikat temporer
– Aktiva
bersih terikat permanen
Neraca dalam
rumah sakit tidak mempunyai perbedaan mendasar baik isi maupun proses
penyusunan dari sudut pandang ilmu akuntansi dibandingkan dengan neraca
perusahaan yang sering kita kenal disektor komersial namun demikian ada
beberapa hal yang secara khusus perlu diperhatikan antara lain:
a. Kas
Jumlah kas
yang tercatat dalam neraca tidak termasuk kas pada Dana Terikat yang tidak
dapat digunakan untuk kegiatan operasi.
b. Piutang
Piutang
harus dilaporkan pada jumlah yang diperkirakan dapat direalisasi.
c. Investasi
Investasi
awal dicatat pada harga perolehan pada saat pembelian, atau pada nilai wajar
pada saat penerimaan jika investasi diterima sebagai pemberian.
d. Aktiva Tetap
Aktiva tetap
dilaporkan bersama dengan akumulasi depresiasinya dalam Dana Umum.
e. Aktiva yang Disisihkan
Klasifikasi
aktiva terikat (restricted assets) hanya diberikan pada dana yang
penggunaannya dibatasi oleh pihak eksternal rumah sakit yang mensponsori dana
tersebut.
f. Utang Jangka Panjang
Utang jangka
panjang dilaporkan pada neraca.
g. Saldo Dana
Sesuai
dengan kaidah pembagian dana yang dijelaskan, saldo dana yang dimiliki oleh
rumah sakit dipisahkan menjadi tiga macam yaitu: terikat, terikat sementara
waktu, dan terikat permanen.
2. Laporan Operasi
Untuk rumah
sakit, hasil dari kegiatan operasinya dilaporkan dalam Laporan Operasi (Statement
of Operations). Laporan ini mencakup tentang pendapatan, beban, untung dan
rugi, serta transaksi lainnya yang mempengaruhi saldo dana selama periode berjalan.
Dalam laporan operasi harus dinyatakan suatu indikator kinerja seperti halnya
laba bersih dalam perusahaan, yang melaporkan hal kegiatan operasi rumah sakit
selama periode berjalan. Indikator kinerja ini harus mencakup baik laba ataupun
rugi operasi selama periode berjalan maupun laba langsung yang diperoleh selama
operasi berjalan. Perubahan lain dari saldo dana selama periode berjalan harus
dilaporkan setelah indikator kinerja.
Berikut
adalah pos-pos lain yng jga perlu menjadi perhatian:
a. Pendapatan Jasa Pasien
Pendapatan
jasa pasien dihitung dari jumlah bruto dengan menggunakan tarif standar. Jumlah
tersebut kemudian di kurangi dengan penyesuaian kontraktual (contractual
adjusments) menjadi Pendapatan Bersih Jasa Pasien.
b. Penyesuaian
Kontraktual
Penyesuaian
kontraktual berasal dari keterlibatan pihak ketiga dalam proses penggantian
pembayaran medis. Perusahaan asuransi biasanya mengganti kurang dari jumlah
tarif standar penuh untuk jasa medis yang disediakan bagi pasien yang menjadi
tanggunan asuransi. Meskipun rumah sakit memiliki tarif standar untuk jasa yang
diberikan, namun rumah sakit menjalin kontrak dengan pembayar pihak ketiga di
mana rumah sakit menerima jumlah pembayaran yang lebih rendah untuk jasa
tersebut.
c. Pendapatan
dari Kegiatan Lainnya
Pendapatan
dari kegiatan lain mencerminkan pendapatan dari sumber-sumber bukan pasien,
seperti kantin dan sewa parkir. Pendapaatan ini biaaanya mencerminkan jumlah
bersih dari operasinya, jadi bukan jumlah brutonya.
d. Transfer
Antardana
Tidaklah
tepat untuk tetap mengelola aktiva dalam Dana Terikat ketika persyaratan yang
ditetapkan oleh pihak sponsor atau donor sudah terpenihi. Dalam hal ini aktiva
tersebut harus ditransfer dari Dana Terikat ke Dana Tidak Terikat. Untuk tujuan
pelaporan keuangan, transfer antar dana ini dilaporkan dalam Laporan Operasi
sebagai “Pelepasan Saldo Dana” dan ditunjukkan sebagai penambahan atas Dana
Tidak Terikat.
Contoh Pendapatan:
1. Pendapatan operasioal rawat jalan: karcis umum dan karcis spesialis.
2. Pendapatan operasional rawat inap:
akomodasi dan visite.
3. Pendapatan tindakan medis: tindakan
medik, dan tindakan keperawatan
4. Pendapatan operasional unit
penunjang: rasiologi, laboratorium, fisioterapi, farmasi, dan rehab medik.
e. Beban
Dana Umum
Beban-beban
dalam Dana Umum diakui secara akrual, seperti halnya pada entitas komersial.
Contoh beban :
Biaya
pelayanan:· bahan, jasa pelayanan, pegawai, penyusutan, pemeliharaan, asuransi,
langganan dan daya, pelatihan, dan penelitian.
Biaya
umum dan· administrasi: pegawai, administrasi kantor, penyusutan, pemelihataan,
langganan dan daya, pelatihan, dan penelitian
f. Sumbangan
Sumbangan
(donasi) dibagi menjadi donasi yang terbentuk jasa dan berbentuk aktiva. Karena
sering kali sulit untuk menetapkan nilai dari donasi yang berbentuk jasa, maka
nilai dari donasi ini biasanya tidak dicatat. Namun, jika terdapat kebutuhan
untuk melakukan pencatatan, maka perkiraan nilai dari donasi jasa dicatat
sebagai sumbangan yang langsung diikuti dengan beban dalam jumlah yang sama.
Sedangkan donasi yang berbentuk aktiva dilaporkan pada nilai wajar pada tanggal
diterimanya sebagai sumbangan jika donasi aktiva ini penggunaannya dibatasi
oleh pihak sponsor atau donor maka dilaporkan dalam Dana Terikat Sementara atau
Dana Terikat Permanen. Ketika pembatasannya sudah tidak berlaku lagi, maka
dilakukan transfer dari Dana Terikat ke Dana Umum.
3. Laporan
Perubahan Aktiva Bersih
Laporan ini
menyajikan perubahan dalam ketiga kategori aktiva bersih yang Tidak Terikat,
Terikat Sementara, dan terikat Permanen.
4. Laporan
Arus Kas
Format dari
laporan ini serupa dengan yang digunakan untuk entitas komersial.
Laporan arus kas terdiri dari:
1. Aktivitas operasi
2. Aktivitas investasi
3. Aktivitas pendanaan
Tuesday, 16 December 2014
Oksidasi
15:25
No comments
Reaksi Oksidasi dapat didefinisikan sebagai peristiwa
kehilangan elektron atau kehilangan hydrogen, sehingga disebut juga reaksi
dehidrogenasi. Bila suatu senyawa dioksidasi maka harus ada senyawa lain yang
direduksi, yaitu akan memperoleh elektron atau memperoleh hydrogen.(Sri Widya :
2000)
Secara kimiawi, oksidasi di definisikan sebagai
pengeluaran electron dan reduksi sebagai penangkapan electron, sebagaimana di
lukiskan oleh oksidasi ion fero menjadi feri e (elektron) Fe 2+ ¬ Fe3+ . Dengan
demikian, oksidasi selalu disertai reduksi aseptor electron. Prinsip ini
osidasi – reduksi ini berlaku pada berbagai sistem biokimia dan merupakan
konsep penting yang melandasi pemahaman sifat oksidasi biologi. kita ketahui
bahwa banyak oksidasi biologi dapat berlangsung tanpa peran serta molekul
oksigen, misalnya : dehidrogenasi.
Pengertian sempit oksidasi biologi: reaksi suatu zat
dengan molekul oksigen.
Pengertian luas oksidasi biologi : pelepasan hidrogen
(dehidrogenasi) atau pelepasan elektron.
Dalam oksidasi biologi diperlukan hidrogen/elektron,
dalam reaksi, apabila ada yang dioksidasi pasti ada yang direduksi.
Akseptor Hidrogen
Reaksi dapat lebih panjang. Sebelum hidrogen diterima
oksigen, dipindah tangankan melalui beberapa aseptor hidrogen
Pada setiap hidrogen pindah ke aseptor hidrogen akan
keluar energi. Hidrogen terakhir diterima oleh oksigen menjadi
H2O. Beberapa aseptor hidrogen adalah :
1.NAD (nikotin amida dinukleotida)
2.NADP (nikotin amida dinukleotida pospat)
3.FAD (flavo adenin dinukleotida)
4.Sitokrom, masing2 dg enz dehidrogenase yg sesuai.
Fungsi Reaksi Oksidasi Biologi
Di dalam system biologi sel makhluk hidup, reaksi
oksidasi reduksi berperan dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energy.
Contohnya pada oksidasi glukosa menjadi CO2, air dan energy.
Proses oksidasi reduksi ini dapat berlangsung secara
anaerob maupun aerob. pada keadaan aerob reaksi berlangsung tanpa adanya
oksigen sebagai penerima akhir elektron atau hydrogen. Contohnya adalah proses
peragian karbohidrat oleh sel ragi. Karbohidrat seperti pati, glukosa, sukrosa,
dll. Dapat diuraikan oleh enzim-enzim yang terdapat di dalam ragi menjadi CO2
dan etanol. Pada keadaan aerob reaksi berlangsung dengan menggunakan
oksigen sebagai penerima akhir elektron atau hydrogen. Keadaan ini dapat
ditemukan pada berbagai sel hidup dalam lingkungan yang cukup oksigen. Hasil
akhir oksidasi aerob adalah CO2 dan air.
Dari uraian tersebut, tampak bahwa baik pada keadaan
aerob maupun anaerob, oksidasi selalu menghasilkan CO2. Perbedaan
hanya pada terbentuknya air (pada oksidasi aerob) dan etanol (anaerob).
Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa oksidasi aerob
merupakan oksidasi lengkap. Hal ini dapat dipahami karena air tidak dapat
dioksidasi lagi, sedangkan etanol masih dapat dioksidasi lebih lanjut.
Oksidasi biologi berbeda dengan oksidasi yang terjadi
dalam system bukan biologi, tidak berlangsung secara sekaligus tanpa kendali,
tetapi secara bertahap. Untuk itu diperlukan sejumlah enzim yang bekerja sama
dalam memindahkan elektron atau hydrogen.
sebuah sel memperoleh energy dari molekul gual atau
protein dengan membiarkan atom-atom karbon dan hidrogennya bersenyawa dengan
oksigen membentuk CO2 dan H2O. oksidasi sel berlangsung
secara bertahap. proses itu dipecah menjadi sejumlah reaksi dan hanya sebagian
kecil saja yang secara langsung melibatkan penambahan oksigen.
Oksidasi tidak hanya diartikan sebagai penambahan
atom-atom oksigen, oksidasi lebih tepat bila digunakan untuk seua reaksi dimana
elektron-elektron dipindahkan dari satu atom ke atom yang lain. Oksidasi dalam
pengertian ini didefinisikan sebagai pelepasan elektron sedangkan reduksi
penambahan elektron.
Walaupun secara energy bentuk karbon yang sering
dijumpai adalah CO2 dan untuk hydrogen adalah H2O. kedua
molekul itu sesungguhnya berada dalam keadaan stabil dan membutuhkan energy
aktifasi agar dapat mencapai konfigurasi yang lebih stabil. Katalisator protein
yang sangat spesifik atau enzim bergabung dalam molekul-molekul biologi
sedemikian rupa sehingga bahan tersebut mengurangi energi aktifasi reaksi-reaksi
tertentu yang harus dijalani oleh molekul-molekul tersebut. Sebagian
energi yang dilepaskan dalam reaksi oksidasi dimanfaatkan dalam pembentukan
ATP. ATP berfungsi sebagai media penyimpan energi yang baik untuk
menggerakkan berbagai reaksi kimia yang dibutuhkan oleh sel.
Didalam sel yang sedang bernafas secara aerobik
oksidasi menjadi aseti co enzim A dan CO2. Oksidasi dalam tahap ini memerlukan
3 kelompok enzim
1. Kelompok piruvat dehidrogenase meng-oksidasi dan
mengadakan dekarboksilasi oksidatif menjadi suatu bentuk asetat yaitu tioester
asetil CoA
2. Daur krebs asam trikarboksilat mengoksidasi
karbon menjadi CO2 dan membentuk NADH dan FADH2
3. Rantai pernafasan dari enzim pemindah elektron
mengoksidasi kembali ko enzim NADH dan FADH2 yang telah diproduksi oleh
reaksi-reaksi dehidrogenase dari katabolisme. Pada pernafasan elektron dan
proton yang semula diturunkan dari molekul-molekul makanan, akhirnya bereaksi
dengan O2 untuk menghasilkan H2O. Rantai pernafasan enzim terletak
di membran mitokondria dalam dan akseptor elektron akhiran adalah oksigen.
Energi redoks yang diperoleh dengan reaksi-reaksi pertukar elektron ini
sebagian di tersimpan oleh penggabungan pemindahan elektron pada fosforilasi
ADP. Selain abekerja sebagai akseptor elektron akhir untuk koenzim-koenzim
FADH2 dan NADH yang di hassilkan pada dehidrogenasi metokondrial, maka rantai
pernafasan dapat memenfaatkan jalur-jalur reaksi tertentu untuk bertindak
sebagai akseptor elektron akhir bagi NADH yang di hasilkan didalam sito plasma
misalnya glikolisis aerobik
Metabolisme lipid
15:20
No comments
Lipid adalah suatu kelompok besar
substansi biologik yang dapat larut dengan baik dalam pelarut zat organik,
seperti metanol, aseton, klorofom dan benzena. Sebaliknya lipid tidak atau
sukar alrut dalam air. Kelarutannya dalam air yang kecil disebabkan karena kekurangan
atom-atom yang berpolarisasi (O, N, S, P)
Asam lemak adalah asam
karbonat dengan rantai hidrokarbon yang panjang dengan rumus CH3(CH2)nCOOH atau CnH2n+1-COOH. Sebagai komponen dari lipid,
asam lemak terdapat pada semua organisme. Asam lemak terutama berada dalam
bentuk ester dengan alkohol, misalnya dengan gliserol, spingosin atau
kolesterol. Dalam jumlah kecil asam lemak ditemukan juga dalam bentuk tidak
teresterisasi, sehingga dikenal sebagai asam lemak bebas.
Lemak adalah ester yang tersusun dari tiga asam lemak
dengan tiga gugus alkohol dari senyawa gliserol. Bila hanya satu asam lemak
yang teresterisasi dengan gliserol, disebut monoasilgliserol
(rantai asam lemak = rantai asli). Melalui esterisasi dengan asam lemak
lainnya akan dihasilkan diasilgliserol
dan selanjutnya triasilgliserol yang merupakan lemak yang
sesungguhnya.
2 Tujuan
2.1 Memberikan komponen-lomponen lipid dari jaringan-jaringan mamalia,
tidak termasuk sterol dan steroid.
2.2 Membahas biosintesis dan katabolisme lipid-lipid yang banyak terdapat
dalam sel mamalia.
2.3 Membahas
penganagkutan lipid.
2.4 Memerikan biokimia penyakit-penyakit yang bersangkut paut dengan
ketidaknormalan pengakuan atau metbolisme lipid, termasuk hiperlipoproteinemia
dan penyakit penyimpanan lipid.
3 Klasifikasi Lipid
Lipid yang terdapat dalam tubuh
dapat diklasifikasikan menurut struktur kimianya ke dalam 5 grup. Asam lemak
kelas pertama berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Selain itu,
asam lemak adalah blok pembangun dari asam lemak ini kompleks-kompleks lipid
disintesis. Prostagladin, yang dibentuk dari asam lemak tidak jenuh ganda
tertentu, adalah substansi pengatur intrasel yang merubah taggapan-tanggapan
sel terhadap rangsangan luar.
Kelas lipid kedua terdiri dari
ester-ester gliseril. Ester-ester ini termasuk pula asigliserol, yang selain
merupakan senyawa antara atau pengangkut metabolik dan bentuk penyimpanan asam
lemak, dan fosfogliserid yang merupakan komponen utama lipid dari membran sel.
Sfingolipid yang merupakan kelas ketiga
juga merupakan komponen membran. Mereka berasal dari alkohol lemak sfingosin.
Sterol mencakup kelas ke empat
lipid. Derivat sterol, termasuk kolesterol, asam empedu, hormon steroid, dan
vitamin D sangat penting dari segi kesehatan.
Terpen, kelas terakhir lipid,
mencangkup dolikol dan vitamin-vitamin A, E dan K yang larut dalam lemak.
Derivat-derivat isopreni terdapat dalam jumlah kecil, tetapi mempunyai fungsi
metabolik yang sangat penting dan terpisah.
4 Fungsi Biologik Lemak
Lemak dalam bahan makanan merupakan
pembawa energi yang penting. Pada pemberian makana yang benar, lemak dalam
bahan makanan dapat memberikan sekitar 30 – 35 % energi tambahan bagi manusia.
Namun peran sebagai pembawa ebergi bukanlah satu – satunya fungsi lemak dalam bahan
makanan. Lemak juga dapat berperan sebagai pengantara bagi viamin-vitamin yang
larut dalam lmak dan sebagai sumber untuk asam lemak tak jenuh jamak yang
esensial, seperti asam linoleat, asam lonolenat dan asam arakidonat.
Di dalam lemak hewan banyak terdapat
asam lemak januh dam sebaliknya lemak pada tumbuh-tumbuan (kecuali lemak
kelapa) sebagian besar mengandung asam lemak tak jenuh dan yang sering dijumpai
adalah minyak (lemak cair). Melalui hidrasi kimia lemak tumbuh-tumbuhan, minyak
dapat diubah menjadi lemak padat (margarine), yang disebut dengan proses
pemadatan lemak.
Lemak di dalam tubuh membentuk
cadangan energi terbesar pada organisme hewan. Ia dapat digunakan sebagai
sumber atom karbon bagi berbagai sintesis yang terjadidalam tubuh sendiri.
Lemak ditemukan banyak sel dalam bentuk butir-butir lemak kecil. Adiposit merupakan sel lemak yang khusus
menyimpan lemak. Lemak di dalam adiposit menyediakan keperluan manusia akan
energi yang cukup selitar dua sampai tiga bulan.
5 Hidrolisis Lemak
Dalam tabung reaksi (in vitro), lemak dapat
dipecahkan melalui proses hirolisis alkali (penyabunan) menjadi gliserol dan
garan-garam dari asam lemak. Sabun merupakan garam alkali padat dari asam
lemak. Berdasarkan sifat-sifat amfipatiknya dapat larut dengan baik dalam air
dan juga mampu melarutkan lemak.
Di dalam organisme (in vivo) pemecahan
lemak dikatalis oleh enzim lipase. Penghancuran lemak bahan makanan di dlam
usus akan dibantu oleh suatu enzim lipase pankreas. Enzim ini cenderung bekerja
pada atom sn-C-1 dan atom sn-C-3 lemak. Hasil hidrolisis tersebut
ialah monoasigliserol dan dua asam lemak. Berlawanan dengan lemak netral,
senyawa-senyawa ini dapat dengan mudah di absorbsi oleh sel mukosa usus.
6 Penyimpanan Lemak dan Penggunaanya
Kembali
Asam-asam lemak akan disimpan jika tidak
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi. Tempat penyimpanan utama asam lemak
adalah jaringan adiposa. Adapun tahap-tahap penyimpanan tersebut adalah:
- Asam lemak ditransportasikan dari
hati sebagai kompleks VLDL.
- Asam lemak kemudian diubah menjadi
trigliserida di sel adiposa untuk disimpan.
- Gliserol
3-fosfat dibutuhkan untuk membuat trigliserida. Ini harus tersedia dari
glukosa.
- Akibatnya,
kita tak dapat menyimpan lemak jika tak ada kelebihan glukosa di dalam tubuh.
Jika
kebutuhan energi tidak dapat tercukupi oleh karbohidrat, maka simpanan
trigliserida ini dapat digunakan kembali. Trigliserida akan dipecah menjadi
gliserol dan asam lemak. Gliserol dapat menjadi sumber energi (lihat
metabolisme gliserol). Sedangkan asam lemak pun akan dioksidasi untuk memenuhi
kebutuhan energi pula (lihat oksidasi beta).
7 Struktur Lemak, Fosfolipid dan Glikolipid
7.1 Lemak
Lemak netral merupakan ester dari gliserol dengan tiga asam lemak.
7.2
Fosfolipid
Ciri-ciri
umumnya ialah adanya rantai asam fosfat yang teresterisasi dengan gugus
hidroksi pada atom sn-C-3dari
gliserol. Karena rantai asam fosfat ini, maka fosfolipid paling sedikit
mengandung satu muatan negatif.
7.3
Glikolipid
Kelompok
jaringan ini terdapat pada semua jaringan, bahkan juga pada sisi membran
plasma. Glikolipid tersusun dari sfingosin, satu asam lemak dan satu rantai
oligosakarida yang pada beberapa glikolipid sangat besar. Jadi pada glikolipid
tidak ada rantai fosfat seperti halnya pada fosfolipid.
8 Metabolisme Lemak
Lemak yang tidak segera diperlukan
setelah absorbsi disimpan oleh tubuh dalam jaringan adiposa. Bila diperlukan,
lemak dikeluarkan dari tempat penyimpanan dalam hati diubah menjadi gliserol
dan asam lemak, bentuk yang paling mudahdapat digunakan dalam tubuh. Bila lemak
terus di metabolisme dalam hati maka akan terdapat ampas berupa zat keton yang
hanya terbatas penggunaanya. Kalau banyak dihasilkan di hati maka akn menjadi
kalori dalam darah, dan hal ini terjadi pada saat kelaparan karena tubuh tidak
mempunyai sesuatu untuk digunakan selain dari lemak di dalam jaringan adiposa.
Pencernaan
: Lipase lambung menghasilkan sedikit hidrolisis lemak sehingga lipase pankreas
dan lipase usus memecah lemak menjadi gliserin dan asam lemak.
Absorbsi : Gliserin dan asam lemak oleh kakteal
disalurka ke duktus dan masuk ke aliran darah, kemudian dialirkan ke deluruh
jaringan tubuh. Hati membantu mengoksidasi lemak dan mempersiapkan untuk
disimpan dalam jaringan, lemak dioksidasi untuk memberi panas dan tenaga serta
lemak yang disimpan mengandung vitamin A dan B. Produksi buangan hasil
pembakaran lemak dalam jaringan akan diekskresikan oleh paru-paru dalam bentuk
air dan karbondioksida melalui kulit dalam bentuk keringat, ginjal dalam bentuk
urine serta saluran pencernaan dalam bentuk feases.
Subscribe to:
Posts (Atom)











